Sabtu, 8 Agustus 2026

NU Minta Tak Gunakan Sebutan Kafir, TKN: Bisa Turunkan Tensi

PALU EKSPRES, JAKARTA – Hasil Musyawarah Nasional (Munas) alim ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama merekomendasikan agar orang nonislam tidak disebut lagi kafir. Pasalnya, sebutan itu bisa menyakiti banyak pihak.

Menanggapi hal itu, Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Maman Imanulhaq menyambut baik. Hal itu dianggap bisa menekan angka diskriminasi di tengah masyarakat.

“Keputusan NU ini sangat maju untuk menghindari konflik kelompok dalam negara seolah menjadi mayoritas.
Sebenarnya tidak ada warga kelas 2, apapun agamanya semuanya warga negara,” ujar Maman di Rumah Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (2/3/2019).

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menilai rekomendasi ini juga bisa menekan tensi politik. Sebab sejauh ini, antar pendukung kerap terjadi saling mengkafirkan.

“Betul (bisa menurunkan tensi politik). Sebenarnya NU hebat untuk melangkah jauh untuk menurunkan,” imbuh Maman.

Maman menjelaskan, istilah kafir memnag kurang cocok digunakan di Indonesia. Sebab, arti kafir menurutnya yaitu seseorang yang tidak memgamalkan ajaran agamanya.

Sebelumnya, Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar, Jawa Barat, sejak Rabu (27/2/2019) hingga hari ini (1/2/2019) menghasilkan sejumlah keputusan penting. Salah satunya, kesepakatan untuk tidak menggunakan sebutan kafir kepada warga Indonesia nonmuslim. Sebagai gantinya, para kiai memilih kata muwathinun atau warga negara.

Kesepakatan itu diambil dalam bahtsul masail maudluiyah yang dipimpin KH Abdul Muqsith Ghozali. Kiai Muqsith menjelaskan, NU ingin menekankan semangat untuk tidak gampang mengafirkan siapa pun. Menurut dia, kata kafir mengandung sisi negatif yang berupa kekerasan teologis. “Ini berpotensi menyakiti sebagian kalangan nonmuslim,” katanya.

(sab/jpc)

 

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital