Sabtu, 8 Agustus 2026

Dana Asing Rp 11,3 T Keluar Indonesia, BI: Kita Selalu Berada di Pasar

PALU EKSPRES, JAKARTA– Mereka yang ribut, kita yang kena getahnya. Perumpaan itu setidaknya mencerminkan kondisi Indonesia saat ini terkait perseteruan dagang Amerika Serikat-Tiongkok. Sengketa dagang dua negeri adidaya yang terus berlangsung ini menyebabkan aliran modal milik investor asing senilai Rp 11,3 triliun dibawa pemiliknya ke luar (capital outflow) dari Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, outflow yang terjadi dalam tiga hari terakhir banyak dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global yang terus meningkat. Khususnya, berasal dari eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang saling lempar tarif.

Diungkapkan, dalam tiga hari terakhir sejak 13 Mei sampai 16 Mei 2019 investor asing melepas Rp 7,6 triliun portfolio dalam bentuk Surat Berharga Negara. Investor asing juga diketahui melepas kepemilikannya di portfolio saham sebesar Rp 4 triliun.

“Meningkatnya ketidakpastian pasar global berdampak pada peralihan modal yang semula masuk emerging market seperti Indonesia kembali ke negara maju,” kata Perry di Gedung BI, Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Pada umumnya, kata dia, aliran modal asing yang keluar dari Indonesia berasal dari investor jangka pendek. Investor itu banyak yang datang dari awal tahun dan kemudian keluar dalam 2 minggu terakhir karena ketidakpastian pasar keuangan global.

Dia tak menampik bahwa aliran modal asing yang keluar ke luar negeri akan berdampak semakin tertekannya nilai tukar. Namun, BI menegaskan tidak tidak akan tinggal diam dan akan terus berada di pasar untuk memantau pergerakan nilai tukar dengan melakukan intervensi.

“BI menegaskan selalu berada di pasar untuk melakukan langkah stabilisasi nilai rupiah dengan intervensi ganda, baik pasar valas (valuta asing) di spot dan DNDF. Demikian juga pembelian SBN (Surat Berharga Negara) dari pasar sekunder dengan tetap menjaga mekanisme pasar,” terangnya.

Adapun, kata dia, SBN selama 10 tahun terakhir naik ke titik 8,02. Sementara yield treasury tercatat 2,39. Perry berharap, iklim ekonomi global dapat mereda seiring dengan perundingan antara AS-Tiongkok.

“Kita berharap pada G20 leaders meeting di Osaka 22 Juni mendatang. Semoga terjadi kesepakatan antara AS-China, perundingan masih terus berlangsung,” pungkasnya.

Sementara itu, Ekonom Institute for Development on Economic (INDEF) Bhima Yudhistira menilai keluarnya aliran modal asing ke luar Indonesia akan membuat nilai tukar rupiah semakin tertekan. Data yang diterbitkan oleh BI terakhir, menempatkan kurs referensi Jisdor di level Rp14.469 per dolar AS.

“Diperkirakan melemah hingga 14.700 diakhir Juni,” katanya ketika dikonfirmasi JawaPos.com, Jumat (17/5/2019).

Selain mempengaruhi kurs rupiah, Bhima juga menyampaikan, Indonesia diprediksi akan semakin sulit mencari pembiayaan valuta asing (valas) untuk bank ataupun swasta. Pasalnya, cost of fund akan semakin mahal.

Di sisi lain, imbuh dia, biaya produksi juga semakin mahal bagi sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor. “Pertumbuhan ekonomi 2019 juga hanya 5 persen lebih rendah dri tahun lalu,” tuturnya.

Untuk meminimalisir pelebaran outflow dari Indonesia, Bhima meminta pemerintah untuk mendorong kebijakan countercyclical policy yang tepat sasaran. Katanya, seluruh stimulus fiskal harus diarahkan ke sektor yang berbasis ekspor.

Dengan begitu, penerimaan valas bisa meningkat. Namun, untuk pengendalian modal keluar diperlukan kebijakan insentif pajak agar investor asing melakukan penanaman modal kembali hasil dari dividenya. “Ini demi mencegah repatriasi modal,” pungkasnya.

Di sisi lain, Bhima juga mengajak agar pemerintah dapat menjaga stabilitas keamanan terutama jelang pengumuman hasil KPU pada 22 mei 2019. Menurutnya, banyak investor yang menahan diri karena khawatir instabilitas politik nasional.

(igm/jpc)

 

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital