Jumat, 18 September 2026
Opini  

Nadiem Teruslah Mendobrak

Oleh : Nur SANGADJI (muhdrezas@yahoo.com)

Sejak dilantik hingga kini, Nadiem Makarim adalah satu dari sekian Menteri yang paling disorot. Di sorot karena umur. Karena gelar. Karena tempat lahir. Karena sekolahnya. Karena profesi sebelumnya. Karena pakaiannya. Dan terakhir, karena kritik dan gagasannya.

Saya berpandangan biasa saja. Sebab, sesuatu yang baru pasti melahirkan kontroversi. Lebih ektrimnya lagi, penggasnya akan dimusuhi. Marchevelli yang bilang . “You Will be the enemy for all the people until most of them understand that ide”.

Berikut, perbandingan yang terlalu ekstrim. Tapi, hampir semua Rasul mengalaminya. Dicela, diteror hingga di bunuh. Mereka itu diutus langsung olen Tuhan. Apalagi hanya manusia biasa.

Dahulu, banyak orang memarahi Jokowi dan membuli Puji Astuti. Sebabnya, perempuan yang minim pendidikan formal itu dipilih jadi menteri. Belakangan saya dengar banyak yang menyesalkan Jokowi, lantaran perempuan yang dulu dibuli itu, tidak lagi dipilih pada kedua. Itulah sebabnya, saya tenangkan diri untuk tetap bilang, biasa biasa Saja.

Saya justru merasa sejumlah tindakan Nadim ini membuat seimbang cara kita berfikir. Kita selalu ajari orang untuk, “Think out of the box, bahkan think without the box”. Kita juga nasehati orang : “don’t just a book from its cover “. Tapi, ketika ajaran itu dipraktekan orang. Kita yang lebih dahulu menentangnya.

Akhir-akhir ini, Saya menggelisahkan beberapa fakta tentang larangan dan kepatutan. Tapi, ketika Nadim mempraktekannya, saya pikir inilah jawaban paling adil dan seimbang. Karena itu, saya ikut bertanya, apa yang salah ?. Ketika, Menteri pake batik dan celana jean’s.

Lalu, saya lebarkan lagi pertanyaan ini. Apa juga yang salah kalau orang pakai celana Jingkrak dan cadar..? Apa yang salah kalau saudara kita penganut hindu, pakai topi dan lingkaran tali di pinggang wanitanya. Pula, kopiah dan sarung bagi yang muslim. Serta juga, saudara kita yang penganut Sikh dengan topi yang menyerupai sorban ? Biasa saja khan..?
Nadiem bilang di sebuah forum ilmiah yang terhormat. “Kita hidup di era dimana gelar tidak menjamin kompetensi. Kelulusan tidak menjamin kesiapan kerja. Akreditasi tidak menjamin mutu. Pernyataan ini memantik reaksi keras berbagai kalangan. Padahal sesungguhnya, ini pernyataan oratoris yang sangat biasa.

Olehnya, saya termasuk yang setuju. Ini pernyataan biasa tapi berani. Pernyataan yang mestinya lahir dari pengamat atau ilmuan yang kritis dan berfikir sehat. Namun, malah diucapkan oleh pengambil kebijakan. Seorang menteri. Disitulah menariknya untuk disimak karena langka. Mari kita menyoal kata-kata “memasuki era”.

Di sini kita bicara tentang dimensi waktu. Ada dua kondisi waktu yang berbeda tentang objek yang dinilai. Kongkrit atau sedikit fulgar. Hemat saya, beliau mau bilang, dahulu kala, bagus tapi sekarang..? Kira kira begitulah cara saya membacanya.

Gelar tidak menjamin kompetensi. Lagi-lagi, Ini pernyataan yang oratoris dan sangat biasa dengan alasan. Pertama, menunjukan fakta bahwa ada atau banyak lulusan kita yang tidak kompeten bukan..?. Dua, mendorong kita agar proses edukasi di dunia akademik dipacu dengan sungguh- sungguh. Sebagai guru, saya tidak perlu malu mengakuinya. Ambilah contoh, satu saja bidang. Bahasa inggeris yang diajarkan selama minimal 12 tahun sejak SMP. Apa yang telah diperoleh murid dan mahasiswa kita ? Saya menduga kurang dari 10 persen anak anak Indonesia bisa berbahasa inggris dengan baik. Padahal, mereka semua telah mengantongi ijasah.

Bandingkan, mohon maaf, sedikit subjektif. Saya dan kawan-kawan yang belajar bahasa Prancis tahun 1994 di CCF (centre culture Francais) yang telah berubah menjadi IFI (institute Francais d’Indonesie). Belajar 3 bulan, dinyatakan lulus, langsung studi ke Prancis. Semua sudah sukses. Ada yang sudah professor, Dekan, Rektor bahkan Atase Pendidikan di UNESCO yang sekarang. Sementara Bahasa Perancis dalam pikiran saya, lebih sulit dari bahasa Inggeris. Lantas, apa yang keliru dan perlu dibenahi di sini..?

Itu, bahasa Inggris. Bagaimana dengan kedokteran. Teknik, sosial politik, pertanian dan seterusnya. Kita bahkan akan memproduksi malapetaka yang lebih dahsyat. Apalagi kalau proses akademiknya dirancang dengan curang berbau mafioso (academic crime).

Bayangkan, kampus akan melahirkan dokter yang rajin bikin mal praktek. Ahli konstruksi bangunan yang rawan rontok, dan seterusnya.

Soal akreditasi yang disinggung. Bagi saya, bukan kepada hakekatnya. Sebab hakekatnya, akreditasi adalah sesuatu yang dibutuhkan. Jadi, tidaklah relefan membandingkannya dengan luar negeri, Amerika dan Inggeris. Karena, bukan di situ substansinya. (bersambung).

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam