Sabtu, 8 Agustus 2026
Opini  

Kalkulasi Pilgub Sulteng 2020, Akan Berlabuh di Mana?

Hasanuddin Atjo.Foto: Istimewa

Oleh Hasanuddin Atjo

Pilgub Sulteng yang akan digelar pada 9 Desember 2020 akhirnya hanya mampu meloloskan dua pasang calon dan mengulangi pilgub di 2015. Rusdi Mastura dan Ma’mun Amir adalah pasangan pertama lolos Pilgub 2020, setelah melewati batas minimal 9 kursi di DPRD Provinsi. Pasangan mantan Wali kota Palu dan Bupati Banggai ini diusung 10 partai, dan dukungan 2 partai “non seat”.

Pasangan Hidayat Lamakarate dan Bartholemeus Tandigala, berlatar Aparatur Sipil Negara , ASN setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan, di “injury time” berhasil lolos memenuhi syarat minimal dan diusung 2 partai serta dukungan 4 partai non seat. Hidayat dengan jabatan akhir Sekprov di Sulawesi Tengah, sesungguhnya memiliki karier sebagai ASN 10 tahun lagi, namun yang bersangkutan lebih memilih berkarier di politik.

Di satu kesempatan bertempat di salah satu Warkop, seorang kawan bertanya; pak Doktor “ ke arah mana angin akan bertiup di Pilgub Sulteng 2020”?. Secara diplomatis saya berkomentar, sesungguhnya yang bisa jawab adalah ahli politik. Saya ahli dibidang perikanan dan kelautan, serta sedikit memahami tentang perencanaan dan bisnis.

Salah satu kawannya menimpali bahwa kita hanya lihat sejumlah analisis dan prediksi pak Doktor di sejumlah artikel yang realitasnya tidak jauh meleset dari prediksi. Kita banyak mendapat pencerahan dan edukasi. Kita ingin mengetahui bagaimana pandangan pak Doktor terkait Pilgub Sulteng 2020. Agar tidak terlalu lama terperangkap di ruang “baku angkat alias memuji” dan bahasa lokalnya “bapatende”, maka saya sudahi dan berkata OK Bro, minggu depan saya coba ulas.

Dari sejumlah referensi dan diskusi dengan beberapa kalangan, bahwa kemenangan dalam berkontestasi di Pilkada setidaknya dipengaruhi oleh akumulasi tiga variabel yang dipengaruhi oleh beberapa sub variabel. Ketiga variabel itu adalah Politik identitas; Produktifitas mesin suara partai; serta Program kerja yang ditawarkan.

Politik identitas di sejumlah Pilkada di negeri ini, memberi fakta sangat berpengaruh atas keterpilihan bagi peserta yang ikut berkontestasi dibanding variabel lainnya. Karena itu akan diulas 3 (tiga) pendekatan dalam memahami terbentuknya sebuah identitas bagi seseorang, yaitu:

Pertama primordialisme, gambaran identitas sosial diperoleh secara alamiah atau keturunan semenjak seorang individu dilahirkan. Putra daerah, etnis, kewilayahan, dan garis keturunan adalah sub variabel terkait dengan primordialisme ini. Kedua pasang peserta kontestasi ini tentunya memiliki kontent ini dan yang akan membedakan adalah kadarnya masing-masing.

Kedua, kontruktivisme, identitas sosial diperoleh melalui cara yang dibuat secara langsung seorang individu atau dibentuk secara sengaja melalui interaksi sosial seperti adanya ikatan sosial dan kultural. Karakter dari seseorang berpengaruh sangat kuat terhadap
pembentukan identitas ini. Dan inilah yang sering disebut dengan investasi sosial. Pengalaman dan rentang waktu yang panjang serta karakter sosial akan menentukan kadar dari investasi sosial itu.

Ketiga, instrumentalisme, yaitu identitas yang diperoleh melalui pembentukan yang dilakukan elit dalam konteks kekuasaan. Jumlah partai pengusung dan pendukung akan menentukan terbentuknya identitas ini. Kepala daerah yang tidak ikut Pilkada, tapi menjagokan salah satu pasang termasuk dalam kategori pembentukan identitas instrumentalisme. Kedua pasangan cagub-cawagub memiliki masing masing identitas ini.

Produktitas partai sebagai mesin suara menjadi variabel kedua yang berpengaruh terhadap keterpilihan pasangan yang ikut berkontestasi. Secara matematis besarnya jumlah partai pengusung dan pendukung serta jumlah kursi di parlemen akan mempengaruhi perolehan suara peserta kontestasi. Bergabungnya partai yang awalnya mendorong kandidatnya untuk berkontestasi, karena tidak terpenuhi trashold 20 %, ikut meningkatkan produktifitas.

Namun dalam realitasnya tidak semua kandidat yang diusung dan didukung oleh jumlah partai yang besar akhirnya menjadi pemenang dalam Pilkada, tetapi bergantung kepada figur yang ikut kontestasi. Kadar politik identitas dari figur yang telah diulas menjadi faktor yang menentukan. Integrasi antara kadar identitas politik figur kategori tinggi, dan dukungan partai yang besar akan memiliki daya dorong yang besar.

Program kerja dari kandidat juga menjadi pertimbangan dari pemilih, terutama pemilih level menengah ke atas. Program kerja yang terkait dengan upaya membawa keluar Sulawesi Tengah dari kemiskinan, ketimpangan serta keterpurukan akibat bencana 28 September 2018 dan pandemic Covid-19 akan menjadi jualan yang menarik.

Kapasitas fiskal Sulteng termasuk kategori sangat rendah, dan harus menjadi salah satu prioritas untuk dibenahi. Formulasi kapasitas fiskal ditunjukkan oleh pendapatan (PAD, DAU, Bagi Hasil dan pendapatan sah lainnya) dikurangi oleh belanja pegawai dibagi oleh jumlah orang miskin. Karena itu agar bisa keluar dari perangkap kapasitas fiskal kategori sangat rendah upayanya adalah tingkatkan pendapatan, kurangi belanja pegawai serta kurangi jumlah orang miskin (akan dibahas tersendiri).

Mengakhiri artikel ini saya tidak memberi kesimpulan terkait berlabuh di mana pilgub Sulteng 2020. Karena pelaksanaan Pilkada masih sekitar 3 (tiga) bulan lagi dan
sejumlah kemungkinan masih bisa terjadi, terutama sejumlah suara “mengambang” yang berasal dari bakal calon yang tidak lolos. Dan berdasarkan survey di Juli 2020 jumlahnya termasuk besar.

Artikel ini hanyalah sebuah kisi-kisi dalam berbagi, diskusi dan edukasi melihat fenomena maupun realita dalam berdemokrasi di negeri ini, khususnya di Sulawesi Tengah. SEMOGA.

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital