Minggu, 5 April 2026
Opini  

Harinya Guru

Nur sangadji. Foto: Dok

Oleh Muhd Nur Sangadji

SUDAH 30 tahun lamanya saya menjadi guru. Baru sekarang mengetahui, bila guru pun punya hari jadi. Minggu lalu kita memperingatinya. Tanggalnya, 25 November.

Diperingati setiap tahun. Itulah tanggal yang ditetapkan berdasarkan hari lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tahun 1994. Sebelumnya, UNESCO telah menetapkan tanggal 5 Oktober 1994 sebagai hari guru sedunia.

Entah mengapa saya tidak pernah tahu sebelumnya. Barangkali karena saya berstatus dosen ? Tapi, saya juga tidak tahu apakah Dosen juga punya hari jadi..?


Bukankah dosen adalah guru ?. Mungkin ada yang tidak mau disamakan. Boleh jadi, karena nomenklatur UU juga membedakan guru dan Dosen. Lalu, mengapa saat menjadi profesor baharu mengakui statusnya sebagai guru. Malah ditambah kata “besar” atau “maha” setelahnya. Menjadi, “guru besar” atau “maha guru”. Mengapa bukan dipanggil “dosen besar” saja.

Sementara itu, makna kata professor itu sendiri adalah guru. Itulah sebabnya ada negara yang memanggil professor untuk guru. Mulai dari level SD hingga Perguruan Tinggi.

Karena itu, dalam banyak artikel yang saya tulis, saya menyematkan identitas sebagai guru kecil saja. Itu, sebagai anti tesis bagi demam memburu status professor. Diduga lantaran melambungnya tunjangan, meski kian beratnya prasyarat untuk mencapainya (lihat tulisan : They call me professor).


Di hari guru tahun 2020 ini, pikiran ku melayang jauh ke belakang. Kala itu tahun 2006, saya dan karib dosen, Abd Wahid serta Koa (activis NGO lokal). Kami jumpa satu sosok guru di tengah hutan. Pria paruh baya itu mengenakan celana pendek. Berjalan sendiri sambil memikul potongan kayu yang ujungnya bergantung tas kecil. Kakinya penuh lumpur hingga ke paha. Saya baru mengerti mengapa beliau memakai celana pendek ? Alamlah yang memaksa.

Medan yang dilaluinya sangat berat. Bergunung, berlumpur dan berbecek sedalam ukuran telapak hingga paha orang dewasa. Setiap hari begitu untuk jarak hampir satu kilometer.

Orang itu bernama Muhamad Nur. Identitas yang sama dengan nama saya. Laki laki asal Makasar ini telah bertugas selama 25 tahun di kawasan ini sebagai guru. Kawasan Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una Una, Provinsi Sulawesi Tangah. Itu, tahun 2016. Artinya, sudah relatif 30 tahun pada 2020 ini.


Jabatan pak Nur adalah kepala sekolah sebuah SD di pedalaman Kecamatan Lebiti, Kepulauan Togean. Keadaan sekolah yang sangat sederhana. Tiang, dinding dan atapnya terbuat dari bahan yang ada di hutan sekitar.

Tidak banyak hal yang kami bincangkan. Namun sedikit info dan kesaksian ini sudah terlalu banyak menyimpan cerita tentang perjuangan sang guru ini. Di dekat sekolah, beliau bersihkan kaki dan tubuh di sungai kecil yang mengalir jernih. Lalu, mengenakan celana panjang dan masuk kelas. Mengajar sebagai guru.

Di perjalanan lanjut setelah kami berpisah, saya membasuh peluh. Peluh yang tidak sebanding dengan yang beliau cucurkan. Di air bening dekat kampung, saya berkaca. Terlihat wajah ku sangat lelah. Tapi, pasti tidak setara dengan lelahnya beliau.


Tiba-tiba, teringat bait puisinya Taufik Ismail tentang Kasim Arifin di Waimital, Pulau Seram, Maluku. “Ingin rasanya ku ludahi wajah ku sendiri di cermin air bening itu”. Saya malu kepada guru di pedalaman ini. Karena di kota, kita menjangkau sekolah dan kampus dengan mudah. Semua kendaraan kita punya. Itu pun disertai keluhan. Tapi, beliau..?

Di kota, kita juga sangat sibuk berlomba menghitung imbal jasa. Berkompetisi mengejar remunirasi. Padahal gaji kita lancar mendarat di rekening saban awal bulan.

Tapi, beliau dan sahabat guru senasib ? Mungkin, tiga bulan sekali. Sering juga penuh dengan potongan. Saya makin malu bercampur sedih dan kecewa.

Maka di hari guru ini, ingin sekali saya merenung dan berkata. Tentang sematan apresiasi untuk guru. Mereka adalah “pahlawan tanpa tanda jasa”. Namun, kepantasan itu, mungkin, belumlah layak untuk saya dan kita. Walahu alam bi syawab. ***