Sabtu, 8 Agustus 2026

Ekonomi Sulteng Tumbuh 4,86 Persen, Kontribusi Terbesar Industri Pengolahan dan Tambang

Kepala BPS Sulteng Dumangar Utauruk. Foto: Istimewa

PALU EKSPRES, PALU– BPS Sulteng melaporkan ekonomi Sulawesi Tengah (Sulteng) pada 2020 tumbuh 4,86 persen, melambat dibandingkan tahun 2019 yang tumbuh sebesar 8,83 persen.
Kepala BPS Sulteng Dumangar Hutauruk menjelaskan pertumbuhan terjadi pada 9 dari 17 lapangan usaha. Lima lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 23,68 persen; Pertambangan dan Penggalian sebesar 10,36 persen; Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 9,80 persen; Informasi dan Komunikasi sebesar 8,56 persen; serta Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 6,11 persen.
“Sedangkan 8 lapangan usaha mengalami kontraksi. Tiga lapangan usaha yang mengalami kontraksi terbesar yaitu lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 33,12 persen; Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 11,05 persen; serta Konstruksi sebesar 8,47 persen,” kata Dumangar.
Bila dilihat dari sumber pertumbuhannya kata Dumangar, ekonomi Sulteng tahun 2020 dengan pertumbuhan sebesar 4,86 persen (c-to-c) tersebut, paling besar disumbang oleh lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 5,46 persen. Diikuti lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 1,62 persen, lapangan usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 0,30 persen, serta Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 0,17 persen.
Menurutnya, struktur perekonomian Sulteng berdasarkan lapangan usaha tahun 2020, masih didominasi oleh empat lapangan usaha utama yaitu: Industri Pengolahan (27,61 persen); Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (21,76 persen); Pertambangan dan Penggalian (13,40 persen); serta Konstruksi (10,14 persen).
Sementara perekonomian Sulteng triwulan IV tahun 2020 jika dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2019 (y-on-y), menurut Dumangar, tumbuh sebesar 4,45 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan produksi pada 6 lapangan usaha. Industri Pengolahan merupakan lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu 25,25 persen, diikuti lapangan usaha Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 12,32 persen, serta pada lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 11,58 persen.
Pada triwulan IV tahun 2020 jika dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2019 (y-on-y), sebagian besar lapangan usaha mengalami kontraksi. Hal ini menunjukkan pandemi Covid-19 yang terjadi sejak bulan Maret masih berdampak terhadap perekonomian hingga triwulan IV tahun 2020.
Menurut sumber pertumbuhannya lanjutnya, ekonomi Sulteng triwulan IV tahun 2020 jika dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2019 (y-on-y) yang tumbuh sebesar 4,45 persen tersebut, paling besar disumbang oleh lapangan usaha Industri Pengolahan yang memiliki sumber pertumbuhan tertinggi 5,96 persen, Pertambangan dan Penggalian sebesar 1,79 persen, diikuti lapangan usaha Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 0,21 persen serta Informasi dan Komunikasi sebesar 0,20 persen.
Adapun struktur perekonomian Sulteng menurut lapangan usaha triwulan IV tahun 2020 masih didominasi oleh empat lapangan usaha utama yaitu, Industri Pengolahan sebesar 28,31 persen; Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 20,86 persen; Pertambangan dan Penggalian 16,53 persen; serta Konstruksi 9,40 persen.
Sedangkan ekonomi Sulteng Triwulan IV tahun 2020 bila dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q) mengalami pertumbuhan sebesar 4,12 persen. Dari tujuh belas lapangan usaha, hanya tiga lapangan usaha mengalami kontraksi, yakni lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 0,48 persen; Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 0,16 persen; dan Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 0,11 persen. Sedangkan lapangan usaha lainnya tumbuh positif. Lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Konstruksi sebesar 19,89 persen, diikuti peningkatan pada lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 7,05 persen, serta lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 7,05 persen.
Jika dilihat dari sumber pertumbuhannya, ekonomi Sulteng triwulan IV tahun 2020 (q-to-q) yang tumbuh sebesar 4,12 persen, tertinggi disumbang oleh lapangan usaha Industri Pengolahan sebesar 1,67 persen; Konstruksi sebesar 0,69 persen, diikuti lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 0,26 persen dan lapangan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 0,15 persen. (bid/palu ekspres)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital