Sabtu, 29 Agustus 2026
Opini  

Sinergi Guru Bahasa Inggris dan Teknologi untuk Negeri

Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Keunggulan Penyelenggaraan Pendidikan
Firima Zona Tanjung. Foto: Dok

Oleh Firima Zona Tanjung*

REVOLUSI industri 4.0 di Indonesia—awalnya ditandai dengan peluncuran “Making Indonesia 4.0” oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2018—memang tak hanya berdampak pada perkembangan dunia industri, melainkan juga pada dunia pendidikan. Alhasil pemanfaatan teknologi untuk tujuan pedagogic menuntut para guru meningkatkan kompetensi literasi digital mereka. 

Kebutuhan akan kompetensi literasi digital pun semakin mendesak ketika pandemic melanda. Para guru dituntut menyampaikan materi dan melakukan penilaian pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi daring untuk mengurangi kontak serta kerumunan sebagai bagian dari penerapan protocol kesehatan dalam penyelenggaraan pendidikan. 

Namun, dalam praktiknya, masih ada kendala yang menyebabkan pembelajaran daring tak berlangsung secara efektif. Sebut saja, kendala itu berupa minimnya literasi digital dan informasi terkait aplikasi untu kefektivitas pembelajaran daring, tidak ada atau lemahnya akses jaringan internet, tidak adanya gawai, dan bencana alam yang tak terhindarkan. Guna mengatasi kendala-kendala tersebut, berikut beberapa poin yang dapat diimplementasikan oleh para guru khususnya guru bahasa Inggris.

Pertama, gunakan aplikasi yang terjangkau. Pembelajaran tak melulu harus menggunakan high-tech tools. Apabila para guru hanya memiliki akses menggunakan aplikasi tertentu untuk keperluan low-tech distance learning, maka aplikasi ini pun dapat diberdayakan secara optimal.

Sebagai contoh, penggunaan aplikasi WhatsApp dinilai lebih mudah diakses oleh guru dan peserta didik. Dengan demikian, para guru dapat melaksanakan perannya dengan membagikan tautan (link) berupa video pembelajaran atau e-book untuk melatih kemampuan menyimak dan membaca, memberikan penugasan dengan memanfaatkan fitur voice note untuk mengecek pelafalan (pronunciation) peserta didik, menyapa dan memotivasi lewat video call sembari menggunakan bahasa Inggris untuk melatih keterampilan berbahasa serta membangun kepercayaan diri peserta didik, memberikan penugasan dengan mengeksplorasi emotikon pada WhatsApp seeing mengembangkan daya piker dan meningkatkan kreativitas menulis peserta didik.

Kedua, membuat tugas terstruktur. Dalam menyelenggarakan pembelajaran, para guru tentu akan memberikan tugas. Hal ini penting untuk mengukur progress peserta didik dalam penguasaan materi. Akan tetapi, tidak berarti penugasan harus dilakukan setiap hari terlebih di masa pandemic seperti sekarang ini. Kondisi psikis dan fisik peserta didik juga harus dipertimbangkan. Karena itu, penugasan dapat direncanakan dengan memperhatikan beberapa poin seperti indicator kompetensi yang hendak dicapai, tingkat kesulitan tugas, durasi pengerjaan tugas, dan tenggat waktu pengumpulan tugas melalui aplikasi. 

Ketiga, pemberian umpan balik (feedback). Sebelumnya telah dinyatakan bahwa penilaian amat penting dalam penyelenggaraan pembelajaran. Namun, seiring berjalannya proses belajar mengajar selama pandemi di tahun 2020, diketahui bahwa guru masih minim memberikan umpanbalik kepada peserta didik sebagaimana dilaporkan oleh Sutia dan Sagita pada jurnal artikel mereka “Tanggapan Siswa, Orang Tua dan Guru terhadap Pembelajaran Jarak Jauh SelamaPandemi Covid-19” yang terbit di Jurnal Inspirasi pada Volume 11 Nomor 2 Desember 2020. Hal ini tentu dapat menghambat efektivitas pembelajaran karena peserta didik hanya diberikan tugas tanpa mendapatkan umpan balik terkait progress pembelajaran mereka. Dengan demikian, guru perlu meninjau kembali perencanaan pembelajaran, penugasan, dan pemberian umpan balik seeing peserta didik dan orang tua dapat berkoordinasi lebih lanjut dengan guru apabila peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan. Perlu digaris bawahi bahwa pembelajaran bahasa Inggris sangat membutuhkan umpan balik karena keterampilan yang hendak dicapai amat beragam dan saling berkelindan satu sama lain.     

Keempat, bukan kuantitas tugas, tetapi focus skill improvement-nya. Pandemi COVID-19 telah menyebabkan perubahan hampir di semua aspek termasuk pendidikan. Di bidang edukasi ini, penyederhanaan kurikulum pun tak terhindarkan guna menjamin keberlangsungan pembelajaran dan pencapaian kompetensi inti. Meskipun demikian, para guru tak lantas diminta untuk memberikan tugas tanpa mempertimbangkan kualitasnya. Pembelajaran bahasa Inggris merupakan pembelajaran yang berfokus pada pemerolehan bahasa, pelatihan keterampilan, dan pembiasaan serta penerapan keterampilan berbahasa dalam keseharian—walaupun lebih sering digunakan di dalam kelas saja. Karena itu, seyogianya kuantitas tugas bukan menjadi patokan, melainkan kualitas tugasnyalah yang perlu diperhatikan. Singkatnya, hal ini berkaitan dengan poin kedua yang telah dijelaskan sebelumnya.    

Kelima, ajarkan netiquette. Netiquette atau netiket merupakan etika komunikasi di dunia maya atau sering juga diartikan sebagai adab pergaulan di dunia maya. Poin ini amat penting untuk dipelajari oleh guru untuk kemudian diajarkan kepada peserta didik agar pendidikan bukan hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga karakter. Bagaimana menyapa, menghargai pendapat orang lain, menghargai usaha orang lain, menghargai privasi orang lain, mengatur jadwal pertemuan tatap maya, hingga berusaha tampil fresh saat mengajarakan merepresentasikan nilai-nilai karakter sekaligus professionalisme seorang guru. Tambahan pula, peserta didik akan mempelajari sekaligus menyadari makna penting nilai-nilai karakter yang diajarkan oleh guru mereka tersebut melalui pertemuan tatap maya atau daring. 

Keenam, edukasi yang memotivasi. Apabila proses belajar mengajar dilaksanakan di wilayah yang belum tersentuh akses internet, maka para guru tak perlu berkecil hati. Masih ada langkah yang dapat dilakukan, yaitu mengunjungi peserta didik. Namun, perlu diingat bahwa protocol kesehatan dan keselamatan siswa dan guru harus diutamakan. Opsi kunjungan ini tak sekadar untuk memberikan materi, tetapi juga memotivasi peserta didik agar tetap semangat selama belajar dari rumah.

Selain itu, pembelajaran di wilayah yang terdampak bencana alam dengan kapasitas akses dan kuota internet yang terbatas juga dapat dilakukan dengan mengedepankan upaya dukungan psikososial melalui seni semisal bernyanyi, membuat prakarya, permainan seru seperti tebak kata, mengisi kalimat rumpang sederhana, atau melengkapi kosa kata Bahasa Inggris yang rumpang guna memberikan penguatan serta pendampingan peserta didik yang mengalami trauma pascabencana alam.  

Dengan enam poin yang dipaparkan di atas, semoga para guru bahasa Inggris, baik yang tengah melakukan proses belajar mengajar secara luring dan daring, secara daring maupun yang tengah berjuang mendidik di wilayah-wilayah terdampak bencana alam, dapat terus menguatkan sinergi mereka dengan teknologi seeing kompetensi literasi digital dapat terus ditingkatkan dan tujuan pembelajaran yang meliputi pengembangan potensi, keterampilan peserta didik, dan penanaman karakter demi terciptanya generasi yang unggul dan berkarakter akan tercapai.***  

*Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Borneo Tarakan

Studi Kasus Mahjong Ways Menunjukkan Perubahan Cara Pemain Membaca Susunan Simbol Akibat Baris Tambahan
Sering Terjadi Kesalahpahaman Bahwa Transformasi Simbol Emas Mahjong Ways Menandakan Hasil Putaran Berikutnya
Perbandingan Tampilan Antara Mahjong Ways Dan Sekuelnya Dalam Menyajikan Informasi Fitur Di Layar Seluler Modern
Direkapitulasi Perjalanan Mahjong Ways Dari Tema Tradisional Menuju Industri Game Digital Modern
Tanpa Mencampurkan Dengan Peran Wild, Fungsi Scatter Mahjong Ways Dapat Dikenali Dalam Susunan Kemenangan
Penyelaman Mengungkap Perubahan Dan Makna Baru Dunia Baccarat Di Era Digital
Media Gaming Mengungkap Perjalanan Mahjong Ways 2 Dalam Menghadapi Perubahan Tren Industri Hiburan Digital
Baccarat Ditampilkan Dalam Catatan Perubahan Platform Media Gaming Masa Kini Yang Mengubah Cara Bermain
Pergeseran Media Modern Menjadikan Wacana Kasino Online Sebagai Sorotan Baru Masyarakat
Perubahan Gaya Platform Membawa Bakarat Digital Menjadi Sorotan Baru Dalam Percakapan Modern
Perkembangan Komunitas Mahjong Ways Digital Dorong Kebangkitan Popularitas di Indonesia
Tren Mahjong Ways Mobile Gaming Terbaru Hadirkan Kebangkitan Jadi Sorotan Utama
Kenapa Mahjong Ways Tetap Viral? Alasan Ini Bikin Kaget!
Fenomena Game Bertema Oriental Bangkit Kembali, Mahjong Ways Jadi Sorotan Utama
Strategi Mahjong Ways Tetap Digemari Di Tengah Persaingan Game Online Diungkap Media Digital
Transformasi Industri Mahjong Ways Digital Perjalanan Panjang Menuju Inovasi
Kebangkitan Platform Game Mahjong Ways dalam Era Perkembangan Digital
Meski Zaman Berubah, Mahjong Ways Tetap Favorit! Ini Rahasianya
Mahjong Ways Masih Jadi Perbincangan Hangat! Komunitas Gaming Ungkap Alasannya
Evolusi Mahjong Ways Dari Masa Ke Masa Yang Bikin Penasaran Diungkap Laporan Industri
Mahjong Ways Tetap Eksis! Ini Rahasia Bertahan di Tengah Persaingan Industri Game Ketat
Identitas Visual Mahjong Ways Bikin Penggemar Terpikat! Media Online Soroti Konsistensinya
Tren Digital Menggairahkan Lagi! Game Penghasil Uang Cepat Jadi Sorotan Publik
Kenapa Game Penghasil Uang Cepat Menarik Minat Pemain Indonesia? Ini Alasannya!
Benarkah Game Penghasil Uang Cepat Makin Diminati? Faktanya Mengejutkan!
Majestic Treasures Menarik Perhatian Komunitas Game Digital Lewat Pesona Khas dan Ragam Strategi Menarik
Mahjong Ways 2 Ramai Dibahas Lagi! Ini Dampak Besar pada Industri Game Digital Indonesia
Mahjongways Kasino Online Viral di Komunitas Game dan Mulai Disebut sebagai Sumber Penghasilan Baru
Mahjong Ways Kembali Jadi Sorotan! Penggemar Game Penghasil Uang di Indonesia Serbu
Game Penghasil Uang Mulai Dilirik Media Game Mobile di Tengah Pergeseran Tren Global