Manfaatkan Lahan Tidur, Legislator Parimo Ajak Warga Tanam Kelor

  • Whatsapp
Wakil Ketua DPRD Parimo, Faisan (Kedua dari kiri) saat berada di salah satu kebun kelor warga di Kecamatan Ampibabo. Foto : Istimewa

PALU EKSPRES, PARIMO – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) Sulawesi Tengah (Sulteng), Faisan melakukan kunjungan kerja di industry pengolahan kelor di Kelurahan Tipo, Kota Palu, Sulteng, Selasa (3/8/2021).
“Kalau untuk Palu, PT. Kelor Organik Indonesia (KOI). Sedangkan di Blora Jawa Tengah adalah Asean Moringa Learning Center, pertanian dan pengelolaan terbesar di ASEAN,” kata Faisan saat dihubungi di Parigi, Rabu malam (4/8/2021).
Menurut Faisan, beberapa waktu lalu pihaknya berkunjung ke Kecamatan Ampibabo dan Toribulu. Di tempat tersebut, pihaknya tertarik dengan tanaman kelor yang ada.
“Kemarin saya jalan ke Kecamatan Ampibabo dan Toribulu. Dan ternyata warga di sana semuanya menanam kelor yang diprakarsai Kapolsek Ampibabo,” katanya.
Menurut dia, di Ampibabo sendiri telah memiliki mesin pengering daun kelor yang didatangkan dari pabrik pengolahan di Tipo Kota Palu. Olehnya, ia mengimbau masyatakat Parigi Moutong untuk menanam kelor, tanaman yang dinilai memiliki nutrisi tinggi itu.
Sebab, hal ini merupakan peluang bagi petani kelor yang ada di wilayah Kabupaten Parigi Moutong untuk menanam tanaman kelor mulai saat ini guna menopang perekonomian masyarakat.
“Makanya saya mengajak masyarakat Parigi Moutong untuk menanam kelor. Karena ini merupakan peluang bagi masyarakat kita,” ujarnya.
Menurutnya, menanam kelor merupakan pekerjaan yang paling mudah. “Kemarin saya komunikasi dengan pihak perusahaan kelor di Palu, mereka sampaikan bahwa di Sulawesi Selatan saat ini sudah mulai menanam kelor yang nantinya akan dijual ke pabrik yang ada Tipo,” ucapnya.
Sehingga, pihak pabrik juga siap memberikan mesin pengering untuk petani kelor yang ada di daerah.
“Makanya saya sampaikan secepatnya kepada petani kelor di Parimo, supaya kita tidak didahului oleh daerah lain mendapatkan mesin pengering tersebut,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, ia mengajak anggota legislatif lainnya untuk mengkampanyekan hal tersebut. Sebab, tanaman kelor saat ini sudah mempunyai pasaran yang dihargai Rp 50 ribu perkilo mulai dari daun, bunga hingga buah.
“Dan ternyata kandungan kelor ini begitu besar manfaatnya untuk tubuh kita. Seperti yang disampaikan oleh pihak pabrik, bahwa revolusi nutrisi itu dari kelor,” ujarnya.
Lanjut dia mengatakan, untuk petani kelor di Parigi Moutong tidak lagi harus menjual hasil panennya ke Kota Palu. Sebab, di Parimo sendiri sudah ada pengepul yang akan membeli hasil panen tersebut.
Menurutnya, dalam proses penanaman masyarakat disarankan untuk menanam biji kelor. Karena dengan menanam biji dapat menghasilkan akar tunggal. Sehingga daya tahan pohonya lebih kuat, jika dibandingkan dengan menanam langsung batang kelor.
“Karena nutrisinya juga berbeda, lebih tinggi nurtisi hasil dari tanaman biji, ketimbang batangnya yang kita tanam,” jelasnya.
Menurut dia, pihak perusahaan mengakui hasil panen kelor di Sulawesi Tengah sangat berkualitas dan berbeda dengan daerah lain di Indonesia.
“Jadi petani nantinya, setelah buah kelor dipetik, lalu dicuci dan dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam pengering selama 1 kali 24 jam. Setelah itu dikemas dan dijual,” ujarnya.
Ia berharap, kepada petani di Parimo yang memiliki lahan tidur agar segera dimanfaatkan untuk menanam kelor. (asw/palu ekspres)

Pos terkait