Sabtu, 8 Agustus 2026
Opini  

Digitalisasi Bahan Ajar

Muhd Nur Sangadji. Foto: Dok

Oleh  Muhd Nur SANGADJI

UNTUK kepentingan Program Merdeka Belajar  Kampus Merdeka, prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Tadulako menyelenggarakan seminar nasional bersambung. Pertama, tentang OBE (outcome base education) dan Metoda Pembelajaran. Kedua, tentang Mutu dan Akreditasi Internasional. Dilanjut dengan  Digitalisasi Bahan Ajar.

Saya merespon seminar berseri ini dengan dua buah tulisan artikel. Pertama, Merdeka Mengajar. Dan kedua, Digitalisasi Bahan Ajar. Tulisan pertama ini mendapat respon compilasi dari banyak kalangan. Salah satu yang sangat menarik, datang dari seorang karib yunior. Dia  dokter ahli mulut. Responnya yang  menarik  itu, saya salin kembali sebagai berikut.

***

Luar biasa membuka wawasan berfikir kakanda. Terima kasih. Namun,  bagi kami di situasi saat ini, yang memang telah menerapkan “student learning centre” dalam mendidik. Khusus aspek “learning to know and learning to do”, dalam aspek motorik terkadang digantikan oleh peran “maniken/phantom” atau model.

Itu, terjadi di pendidikan kedokteran. Anak saya  yang semester lima, seharusnya belajar psikomotor langsung ke pasien atau sesama mereka untuk merasakan sensasi memasukkan jarum infus,   sebagai bagian dari “clinical skill lab” (CSL). Sekarang,   harus digantikan perannya oleh boneka plastik yang tidak dapat menjerit sakit pun, meskipun didesain dapat mengeluarkan darah.

Bagiamana capaian pembelajaran dapat terpenuhi dengan kondisi seperti ini secara maksimal ?  Itu mungkin dilema pendidikan yang berkaitan dengan individu, khususnya di bidang kedokteran.

***

Dengan sangat senang, saya berikan uraian balik berdasarkan perspektif individu.  Hemat saya, pendidikan itu  sama dengan filosofi kedokteran berdasarkan pikirannya Bapak Kedokteran Modern, Ibnu Sina (Avisenna). Apa yang beliau bilang “psokosomatik” (pikiran atau jiwa dan tubuh atau raga). Persis sama juga dengan pesan agung di lagu kebangsaan kita. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.

Ilmu, metode dan bahan ajar atau alat peraga dihadirkan secara kondisional (ini tulisan saya berikut, judulnya ; digitalisasi bahan ajar). Dan, inilah tulisan itu. Saya berpandangan,  sepanjang prinsip dasar dan filosofi terinternalisasi serta kreativitas tidak terpasung. Metoda mengajar dan bahan ajar akan membentuk generasi yang kaya alternatif menghadapi tantangan masalah. Orang tua-tua kita dahulu menyebutnya dengan istilah “banyak akal”.  Terkadang mereka gunakan diksi  “pande”. Semuanya dialamatkan pada anak didik jenis ini.

Mereka menghadapi tantangan hidupnya penuh inisiatif. Mereka tidak ragu atau takut mengambil keputusan. Para ahli memilahnya pada tiga tipe kualitas manusia mengikuti pandangan berikut.  Pertama, “what is forbidden, that is not allowed”. Kedua, “what is allowed, that Is not forbidden”. Ketiga, “what is not forbidden, that is allowed”. Pilihan pada salah satunya, menentukan kualitas individu yang bersangkutan, berkaitan dengan inisiatif dan kreativitas dalam mengambil keputusan.

Bila kita nonton film MacGyver, kita akan terkagum melihat bagaimana si aktor memanfaatkan semua benda di sekelilingnya untuk keluar dari masalah yang melilitnya. Itu contoh scientifik intertein yang sangat menghibur.

***

Boneka pengganti manusia dalam praktek kedokteran, mungkin masih lebih visual dibandingkan batang pisang dalam praktek masa silam untuk pelajaran memandikan mayat. Keduanya ada di level simulasi yang terus didorong mendekati fakta. Dan yang jelas,  jasad manusia yang hidup atau mati, pasti lebih nyata dalam praktek real untuk kedua kasus ini.

Maka, guru itu mengajarkan fakta. Meskipun, misalnya gambar apel didesign seindah dan semenarik mungkin dalam “digitalisasi bahan ajar di bidang ilmu pertanian. Visual apel yang menarik itu, tetap adalah gambar. Dia tentu, bermanfaat memudahkan dan membantu dalam proses pembelajaran. Namun apel indah yang ada di gambar itu, tidak bisa dimakan. Begitu juga guru. Mereka, tidak bisa diganti oleh poster digital. Sebagus apa pun. Sebab, mereka bukan sekedar mengajar dan atau bahkan mendidik semata. 

Tugas kaum guru itu, tidak cuma mentransfer Ilmu. Karena kalau itu, Google dan mesin pencari lainnya lebih hebat. Lebih cepat dan lebih canggih.  Akan tapi, guru itu memberikan diri dan jiwanya. Diukir agung dalam satu kata, “teladan”. Yaa, teladan sebagai manusia beradab dan bermartabat. Sesuatu yang tak akan pernah bisa dilakukan atau digantikan oleh mesin. ***

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital