Sabtu, 8 Agustus 2026

Pengambilan Keputusan Dewan Juri FFWI Diprediksi Bakal Seru

JAKARTA, PE- Proses pengambilan keputusan dewan juri di Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) XI tahun ini diperkirakan bakal seru. Komposisi dewan juri usia muda (25 -40 tahun) berbanding dengan yang usia matang (41 – 50 tahun) tepat sama, yaitu masing-masing 36,3%.

Sedangkan yang berusia 51 – 60 tahun ada 24,5%. Adapun anggota dewan juri yang berusia di atas 61 tahun cuma 2,9%.

Dewan juri FFWI seluruhnya terdiri dari wartawan aktif. Mereka akan menilai tiga genre film, yakni genre drama, genre komedi dan genre horor, baik yang pernah ditayangkan di bioskop maupun di over the top (OTT) dari mulai September 2020 sampai September 2021.

Semua film yang ditayangkan pada periode tersebut langsung menjadi peserta FFWI tanpa harus melalui proses pendaftaran.

Komposisi generasi muda dan generasi matang yang berimbang akan menyebabkan munculnya diskusi panjang di kalangan dewan juri FFWI. Hal ini karena antara pandangan dewan juri muda usia dan dewan juri usia matang dapat berbeda. Dengan demikian, proses pengambilan keputusan unggulan/nominasi dan pemenang FFWI tahun ini diprediksi bukan perkara mudah.

“FFWI menganut prinsip, semua film yang sudah ditayangkan, penilaiannya berada pada publik, dan wartawan film merupakan wakil dari mata publik,” kata ketua panitia FFWI, Wina Armada Sukardi dalam siaran pers yang diterima Palu Ekspres, Selasa, 31 Agustus 2021.

“Dari komposisi ini diharapkan lahir keputusan-keputusan yang menarik, dan bukan tak mungkin banyak kejutan,” kata ketua bidang penjurian FFWI, Yan Widjaya, Rabu, 31/8.

Dilihat dari usia, anggota dewan juri FFWI termuda berusia 25 tahun, yaitu Mitachul Arifin. Dia lahir di Kediri tahun 1996.

Sedangkan yang tertua berusia 64 tahun, yaitu Eddy Hariyadi yang lahir tahun 1957 di Bogor.

Untuk ketua dewan juri FFWI tahun ini dijabat oleh Shandy Gasella, generasi muda kelahiran tahun 1985 atau 36 tahu silam di Sukabumi. Dari segi gender, komposisi dewan juri FFWI terdiri dari 19,9% perempuan.

Sekretaris Dewan Juri juri juga diduduki oleh perempuan, yaitu Tertiani Bebby Simandjuntak dari harian The Jakarta Post.

Menurut Yan Widjaya, kehadiran anggota dewan juri perempuan diharapkan dapat ikut memberikan penilaian dari sudut pandang perempuan. Demikian pula keragaman tercemin pula dari asal media. Terdapat 35 media yang berbeda tempat anggota dewan juri bekerja.

Walaupun anggota dewan juri tidak mewakili media, melainkan berdasarkan sosoknya, namun asal media dewan juri pasti mempengaruhi sudut pandang dewan juri yang bersangkutan.

Hal itu mau tidak mau akan dapat menimbulkan diskusi yang sangat seru di kalangan mereka manakala akan menentukan unggulan dan pemenang.

Belum lagi dilihat dari kota asal, dewan juri, datang dari 10 kota yang berbeda: DKI Jakarta, Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, Bandung, Jogjakarta, Solo, Medan, dan Makassar.

“Dengan demikian hasil FFWI tidak berdasarkan Jakarta sentris,” tandas Yan Widjaya.

 Direncanakan  panitia  FFWI akan mengumumkan unggulan untuk ketiga genre film dan unsur-unsurnya pada tanggal 19 Oktober.

Sedangkan malam puncaknya akan dilaksanakan tepat pada tanggal 28 Oktober 2021.(**/pe)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital