Sabtu, 4 April 2026
Opini  

Bencana ; “La Periode De Retour”

Nur sangadji. Foto: Dok

Oleh  Muhd Nur Sangadji

DI PESAWAT udara antara Palu dan Jakarta 5 Desember 2021, saya membaca dan menonton video tentang bencana kontemporer. Ada letusan Gunung Semeru di Jawa Timur. Ada gempa di Manado bulan lalu. Sekarang sedang dihantam ombak. Tapi, yang bersentuhan dekat dengan ingatan ku adalah terjangan ombak raksasa di pantai kota baru Ternate, hari kemarin. Tersentak, saya beri komentar singkat, ” la periode de retour”.

La periode de retour itu bermakna, periode balik. Bencana memang sering begitu. Sekarang, Bulan Desember 2021. Bulan Desember itu dalam memoriku 40-an tahun silam, adalah saat bagi kami, menonton gulungan ombak raksasa. Air laut pada jarak sekira 50-an meter dari bibir pantai, tiba-tiba melambung tinggi. Bergerak berpacu-pacu menuju daratan. Tentu, bukan tsunami. Karena, tidak ada peristiwa pemicunya. Lagi pula kalau tsunami, biasanya hanya sekali dua kali datang. Ini, gerakan air berulang-ulang dengan intensitas tumbukan bervariasi. Penyebabnya berbeda. Kita mengenalnya sebagai ombak.

Ombak itu datang menghantam pantai kota baru Ternate. Tingginya bisa mencapai 10-15 meter. Ada rumah besar, milik keluarga Nikiyulu. Berada persis di bibir pantai itu. Tepatnya, sedikit di atas jalan.

Di rumah inilah kami selalu berkumpul sambil menonton ombak. Di sebelahnya ada Mes Angkatan laut, tempat kami sering main pingpong. Ombak itu tidak hadirkan rasa takut sedikitpun. Peristiwa itu malahan menjadi hiburan, lantaran banyaknya orang berkumpul. Ramai sekali.

Di samping kanan rumah keluarga Nikiyulu, ada toko kelontong. Pemiliknya bernama Aseng. Dari nama ini, pasti bukan orang Tidore, Ternate atau Makian. Beliau orang Indonesia keturunan Cina.

Kami tidak memanggil beliau secara khusus dengan sebutan Ko, sebagai identitas umum bagi warga keturunan Cina. Itu, karena sebutan Ko bagi orang Maluku Utara adalah jamak untuk panggilan bagi seorang Kakak. Jadi, identitas khas Cina ini lebur dalam kultur lokal negeri Kie Raha ini.

Satu waktu, ada kesebelasan Ambon bertandang ke Ternate untuk eksibisi melawan Persiter. Ada satu pemain gelandang tengah yang hebat. Dia anak muda keturunan Cina. Lupa namanya. Tapi, dia tampil sebagai bintang. Publik sepak bola Ternate amat mengaguminya. Sejak itu, Aseng menghasratkan anaknya menjadi pemain bola.

Setelah itu, saya tidak tahu lagi episode selanjutnya dari keluarga ini. Namun, satu hal yang masih teringat hingga kini adalah banyaknya orang membuang uang logam ke deburan ombak tersebut. Salah satunya adalah Aseng. Tujuannya ingin membuang sial. Atau bentuk aksi korbanan guna menjinakkan ombak.

Tidak jelas, siapa yang mengajarkannya. Akan tetapi yang terpenting bagi kami saat itu adalah, terisinya celengan alam. Celengan yang akan kami cari dan buka saat ombak usai. Kami memburu koin rupiah di sela pasir dan deburan ombak yang telah mengecil.

Ini peristiwa setahun sekali. Dan, itu ada di Bulan Desember. Maka, ketika banyak beredar video pendek bencana ombak di kota baru Ternate pada Bulan Desember 2021 ini. Saya langsung membongkar file nostalgia alam masa kecil. Lebih empat puluhan tahun silam.

File itu bernama “la periode de retour” (periode balik). Sesuatu yang akan selalu berulang, baik yg bersifat alam maupun sosial. Banjir, letusan gunung api, longsor, ombak dan sejenisnya. Satu saat akan kembali terjadi. Itulah siklus alam. Di dunia sosial, sudah lama kita dinasehati dengan peristiwa sosial. Mereka bilang, “le histoire serepeter” (sejarah selalu berulang).

Maka, hanya kebijaksanaan yang mampu menghadapinya. Bijaksana mengatur pembangunan. Bijaksana belajar dari alam. Dan, bijaksana mengelola bencana. Kita mulai dari belakang (back casting). Belajar dari kejadian masa lalu. Kemudian, menatap yang sekarang (present situation). Baharu, merancang keinginan masa depan (desirable future). Keputusannya bernama mitigasi. Yaitu, tindakan untuk mengurangi resiko. Dan atau aksi alternatif, saat mitigasi tidak bisa lagi menjadi solusi. Itulah agenda yang selalu disebut berkelanjutan (sustainable). Agar tidak muncul korban yang tidak perlu dari sebuah bencana.

Berharap, semuanya menjadi baik baik kembali. Setelah peristiwa begini, berulang kali memberikan pelajaran hidup untuk kita patuhi. Semoga ***

(Penulis, Associate Profesor bidang Ekologi Manusia di Faperta Universitas Tadulako)