Dia menambahkan, pria tersebut tidak mengalami gangguan jiwa. Hanya saja, dia butuh uang sehingga nekat menjadi joki vaksin.
“Dia normal, dia memang cuma ingin mencari uang kemudian mempromosikan dirinya. Jadi dia membuat video untuk mempromosikan supaya orang lain yang mau minta joki, kan banyak sekarang masyarakat butuh sertifikat vaksin, jadi dia mempromosikan diri tanpa sadar bahwa dampaknya tidak baik. Tetapi dia kan kuli bangunan kemudian berpendidikan rendah sehingga dia tidak sadari ini berdampak buruk buat dia,” ucapnya.
Agar kejadian tidak terulang, dr Arman menegaskan agar pemberian vaksinasi diperketat. Setidaknya, KTP yang dibawa harus diperiksa apakah sama dengan yang tertera.
“Jadi kita sudah antisipasi, kami sudah ingatkan kepada semua vaksinator kami dalam melakukan identifikasi pendataan harus menyesuaikan wajah KTP dan wajah peserta. Mungkin dulu saking banyaknya orang divaksin sehingga cuma lihat KTP catat,” terangnya.






