Minggu, 9 Agustus 2026

Pengembangan Tiga Destinasi Wisata pakai Duit Utang

JAKARTA, PE – Wakil Presiden Jusuf Kalla memanggil perwakilan dari Bank Dunia (World Bank) dan para menteri untuk mengevaluasi realisasi pengembangan destinasi wisata unggulan dalam rapat terbatas pagi kemarin (3/3).

Yakni Borobudur dan sekitarnya, Danau Toba, serta Mandalika (Lombok).

Pelibatan Bank Dunia itu cukup beralasan. Sebab, mereka akan mendanai pengembangan tiga destinasi itu senilai USD 200 juta.

Komitmen Bank Dunia dipertegas dalam pertemuan yang di antaranya diikuti Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Pariwisata Arief Yahya, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

”Yang kita bicarakan ada hasil studi yang dibuat untuk mempelajari destinasi apa saja yang harus dibenahi di empat atau tiga daerah itu terutama,” ujar Darmin setelah pertemuan di kantor wakil presiden tersebut.

Selain tiga destinasi utama yang telah jadi prioritas itu, ada destinasi keempat, yakni Tana Toraja yang dikenal sebagai negeri di atas awan.

”Tadi juga membicarakan infrastrukturnya. Apa saja yang siap dibangun, apa saja yang masih harus dibuat studinya dan sebagainya,” imbuhnya.

Di antaranya, pelabuhan udara hingga jalan bebas hambatan. Selain itu, dibahas soal menjaga kebersihan di semua destinasi tersebut.

Tahun lalu sebenarnya pemerintah punya agenda besar untuk pengembangan 10 destinasi wisata baru yang kelasnya bisa mengimbangi Bali.

Namun, lantaran kebutuhan anggaran begitu besar hingga Rp 200 triliun, akhirnya diprioritaskan tiga destinasi saja.

Pengembangan itu dilakukan untuk menyedot hingga 20 juta turis pada 2019.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan, Bank Dunia berkomitmen memberikan pinjaman USD 200 juta. Tanda tangan kontrak akan dilakukan sekitar Juni. Efektif pinjamannya Juli.

”Jadi sudah konfirmasi saya straight aja tanya tolong jawab di depan Pak Wapres, dan dia juga straight jawab bahwa World Bank komitmen untuk mewujudkan USD 200 juta,” jelasnya.

Dana dari pemerintah memang terbatas. Mereka mengalokasikan Rp 30 triliun dalam kurun lima tahun. Namun, itu pun dibagi untuk 10 destinasi.

Total kebutuhan pengembangan seluruh destinasi baru tersebut sebenarnya Rp 200 triliun. Sekitar Rp 100 triliun di antaranya menjadi tanggungan swasta.

Nah, bila pemeritah hanya mampu menyediakan Rp 30 triliun, berarti masih ada kekurangan Rp 70 triliun.

(jun/c17/agm/PE)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital