Firima Zona Tanjung (Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Borneo Tarakan)
PENDIDIKAN bagi masa depan generasi Alfa Indonesia tentu tidak hanya dapat mengandalkan upaya para guru pada aktivitas transmisi dan navigasi ilmu pengetahuan semata melainkan juga harus bertumpu pada pembekalan keterampilan seperti kreativitas. Hal ini tidaklah terdengar fantastis sebab kreativitas memang menjadi kapital potensial bagi pembangunan bangsa. Dalam tulisan ini, kreativitas dimaknai sebagai kemampuan menciptakan gagasan baru atau menggabungkan gagasan yang sudah ada dengan ide-ide baru guna menyelesaikan suatu permasalahan. Begitu krusialnya kemampuan ini hingga Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menyebutkan bahwa kreativitas amat diperlukan agar manusia dapat terus bersinergi dengan tren kemajuan teknologi sebagaimana dilansir dari OECD Future of Education and Skills 2030: Conceptual Learning Framework.
Berkaitan dengan kreativitas, pemerintah Indonesia melalui Kemendikbudristek juga telah berusaha optimal mengakomodasi kebutuhan siswa untuk meningkatkan kreativitas mereka melalui peran serta guru dan stakeholder sekolah. Sebut saja, program Guru Penggerak, Pelajar Pancasila, sampai Kurikulum Prototipe yang diagendakan menjadi kurikulum nasional pada tahun 2024 mendatang tidak terlepas dari cita-cita untuk membawa insan pembelajar di negeri ini semakin terampil, kreatif, dan berdaya dalam kolaborasi. Lantas, upaya apa saja yang bisa dilakukan oleh guru manakala kreativitas ini hendak diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, khususnya pada mata pelajaran bahasa Inggris?
Ciptakan atmosfer pembelajaran yang kondusif. Ini merupakan langkah awal para guru dalam mendorong partisipasi siswa. Sebagai contoh, guru berusaha menciptakan lingkungan belajar yang rileks, bermakna dan tidak selalu berorientasi skor, serta memberi keleluasaan bagi siswa untuk mengekspresikan pendapat atau ide mereka. Tentu hal ini tidak mudah untuk dilakukan dalam kelas dengan jumlah siswa yang besar, mengingat manajemen kelas harus diterapkan secara efektif. Namun demikian, bukan tidak mungkin untuk mewujudkannya, apalagi dengan mengedepankan analisis kebutuhan, karakteristik siswa, dan keterbukaan pada implementasi strategi pengelolaan kelas yang variatif. Sebagai dampaknya, siswa akan mampu membangun kepercayaan diri secara bertahap serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sebagaimana dilansir dari hasil penelitian Widyaningrum dan Hasanah dalam artikel jurnal “Manajemen Pengelolaan Kelas untuk Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Siswa Sekolah Dasar”yang dipublikasikan September 2021 lalu. Selain itu, atmosfer pembelajaran yang kondusif turut berkontribusi pada tekad siswa untuk lebih fokus pada aktivitas mencoba (atau proses belajarnya) dibandingkan hasil akhir (harus tampil sempurna).
Gali kreativitas siswa. Langkah ini tak kalah krusialnya sebab pendidik dituntut untuk mendorong siswa lebih aktif dalam menyampaikan gagasan, beragam alternatif jawaban, dan solusi atas suatu permasalahan. Salah satu contoh praktiknya, dalam pembelajaran berfokus peningkatan kosakata, yakni guru memberikan pertanyaan stimulatif maupun tayangan visual melalui pendekatan multimodal baik dalam mode pembelajaran tatap muka, hybrid, dan daring. Kemudian, aktivitas kelas dapat diarahkan pada eksplorasi kosakata inti dari topik pembelajaran. Selain itu, seluruh siswa juga dilibatkan semaksimal mungkin agar suasana kelas menjadi semakin hidup. Selanjutnya, apabila siswa mengalami kesulitan penyebutan kata dalam bahasa Inggris, maka guru dapat mengimplementasikan teknik sandwiching, yakni membolehkan para siswa menggunakan bahasa Indonesia yang kemudian dibantu pengalihbahasaan dan repetisinya (ke dalam bahasa Inggris) oleh guru. Dengan demikian, pengajaran bahasa dengan implementasi pendekatan multimodal dan pelibatan optimal siswa selama kegiatan pembelajaran dapat menumbuhkan kreativitas siswa secara gradual.






