Praktik Kini untuk Nanti. Keterampilan berbahasa siswa, termasuk kreativitas, tidaklah terwujud dalam sekejap. Oleh karena itu, kontinuitas latihan atau praktik menjadi langkah pamungkas selama proses pembelajaran berlangsung. Misal, orientasi suatu pembelajaran adalah penguasaan tata bahasa kemudian beragam opsi pun dihadirkan untuk mengajarkan aspek kebahasaan tersebut, sebut saja salah satu opsinya yaitu permainan tata bahasa berantai (chain games). Permainan ini menuntut setiap siswa untuk menyebutkan kata secara bergantian dengan mengacu pada struktur kata yang sudah dibuat oleh pemain sebelumnya. Tentu saja, permainan ini bisa dimainkan baik dalam mode pembelajaran tatap muka maupun daring. Khusus untuk mode daring, guru bisa memanfaatkan fitur breakout room pada aplikasi video conferencing. Setiap grup bisa beranggotakan 4-6 orang atau berskala kecil sehingga mendorong partisipasi aktif seluruh anggota grup. Selanjutnya, setiap grup diundang ke dalam breakout room yang berbeda dan diminta untuk memulai permainan. Perlu ditekankan bahwa guru harus memonitor dan memastikan setiap siswa menyebutkan kata karena ini melatih kreativitas, spontanitas, dan kesinambungan dalam merangkai kata. Jika sebuah kalimat telah disusun, setiap grup bisa diundang kembali ke conferencing room besar dan membagikan hasil permainan mereka. Di bagian akhir sesi presentasi hasil, guru bisa memberikan umpan baliksekaligus verbal reward sehingga siswa semakin termotivasi untuk menunjukkan performa belajar yang lebih baik pada pembelajaran berikutnya.
Bantu siswa untuk terus berkreasi. Hal ini memang tidak termasuk dalam tahapan membantu siswa menumbuhkan kreativitas mereka tetapi lebih dimaksudkan bagi para guru. Pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana cara membantu siswa agar konsisten berkreasi atau berpikir kreatif? Jawabannya, tentu saja ada pada komitmen profesional para gurunya. Poin utama komitmen ini telah berulangkali disebutkan oleh Prof. Dr. Nenden Sri Lengkanawati, M.Pd., Guru Besar Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan Indonesia. Salah satunya dalam artikel ilmiah beliau “Learner Autonomy in the Indonesian EFL Settings” tahun 2017. Singkatnya, siswa akan mampu meningkatkan keterampilan dan motivasi mereka dalam mempelajari bahasa Inggris apabila dukungan dan profesionalisme gurunya juga tinggi terhadap proses belajar para siswanya.
Dengan implementasi tiga langkah di atas dan komitmen tinggi para guru pada profesinya, diharapkan siswa mampu meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, rasa ingin tahu, keterampilan berbahasa dan kreativitas mereka dalam menggunakan bahasa Inggris. Tidak lupa, penerapan mode kelas (tatap muka, hybrid, atau daring) yang bervariasi, utilisasi teknologi, dan beragam strategi pengajaran juga harus diperhatikan sehingga siswa-siswa ini nantinya dapat berkolaborasi satu sama lain, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional, guna memenangkan tantangan masa depan. Aamiin. ***






