Pertama adalah percepatan penurunan stunting. Dibawah koordinasi BKKBN, Presiden kata Muliono menargetkan untuk bisa menekan angka prevalensi stunting hingga 14 persen pada tahun 2024.
“Ini artinya semua pihak harus bekerja keras dan berkolaborasi dengan memanfaatkan semua kemampuan dan sumber daya untuk mencapai target tersebut,”sebutnya.
Selain itu tambah Muliono, masih tingginya angka perkawinan anak di Sulteng, yang menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS( tahun 2018, dari seluruh perkawinan yang ada, terdapat 32 persen kawin dibawah umur 20 tahun.
Hal tersebut berdampak tidak saja pada faktor kesehatan, tetapi juga faktor pendidikan, sosial dan sebagainya. Terlebih lagi akan menjadi faktor penyumbang terjadinya stunting. (bid/paluekspres)






