Sabtu, 8 Agustus 2026

“Welcome The Truth” di Universitas Tadulako

Muhd Nur Sangadji. Foto: Dok

Seingat saya, good governance menjadi satu masalah serius di kampus ini. Asal copot dan ganti orang dalam jabatan, sebagai contoh, telah menjadi “malapraktik” sejak relatif 10 tahun terakhir. Banyak yang diam saja. Diduga, ada yang memendam malu hingga sakit bahkan wafat. “Man Power planning” dalam spirit “merite system” tidak nampak. Padahal, ini tempat bercokolnya para ilmuan.
Sandarannya, hanyalah “like n dislike”. Memang, begitukah satu ciri nyata dari tabiat “oligarki”?

Entahlah, namun baru kali ini ada yang melawan. Nisbah, Angga dan Rusyadi bangkit membela haknya. Nisbah menang di 3 tingkat pengadilan. Rektor dihukum ganti rugi. Tim meminta 1,5 Milyar. Saya merenung. Apakah penasehat hukum Rektor tidak mengerti hukum? Kalah menang dalam perkara itu biasa. Tapi, karena para pembela Rektor ini semuanya adalah Dosen. Berperkara di ruang akademik lagi. Hemat saya, mestinya dengan kapasitas keilmuan hukum yg dimilikinya, sudah bisa memprediksi kelemahan pembelaan pada kliennya. Buktinya, kalah tiga tingkat pengadilan. Apakah saya salah berasumsi? Semoga pakar-pakar hukum di kampus ini bisa beri pencerahan. Penting, agar jadi pelajaran hukum yang diwariskan kepada generasi. Terutama, mereka yang sedang belajar ilmu hukum.

Bagi saya, ini bukan soal spekulasi hukum. Ini soal perjuangan hak (right) dan keadilan (justice). Berimba (bagaimana)? Kemarin, Rusyidi dilantik ulang adalah bukti konkritnya! Seingat saya, ini adalah hal yang belum pernah terjadi sejak universitas ini berdiri. Dan, Rektor Mahfud mengakuinya. Kecuali, kalau ada yang punya data bantahan. Semuanya bisa menjadi preseden abadi. “Lesson learn” berharga.

*****

Kasus Angga, si anak muda yang gigih perjuangkan haknya. Sekarang pun, masih bergulir di pengadilan. Dahulu, saya pernah bilang. Kasus Angga ini masuk kategori individu yang berhak dapat remunerasi karena status kelembagaannya, ada di SOTK Universitas Tadulako. Kalau sekarang, banyak dosen wajib pulangkan uang ke negara karena statusnya di luar SOTK. Maka, Angga dan ratusan dosen Non PNS lainnya adalah kebalikannya. Andaikata, ratusan dosen ini punya mental juang (fighting spirit) seperkasa Angga. Pasti lebih dahsyat. Tapi, sudahlah. Biarlah jadi sejarah saja.

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital