Minggu, 5 April 2026

Agar Desa Talaga Jadi Food Estate Nasional Yang Maksimal, Begini Ide dari Kepala Bappeda Sulteng Era Gubernur Longki Djanggola

Dr Hasanuddin Atjo/ foto: istimewa

Detail program antara lain adalah peningkatan kondisi jalan maupun status dari utara (perbatasan Prov Gorontalo) ke wilayah Tambu Kabupaten Donggala, dari Selatan perbatasan Sigi dengan Sulsel ke arah Tambu, dan dari Timur yaitu Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong ke arah Tambu di barat.

Usulan pembangunan Pelabuhan Penyebrangan Fery di Kasimbar dan Tambu juga menjadi prioritas yang satu paket dengan konsep pembangun jalan bebas hambatan poros Tambu- Kasimbar.

“Saat itu ramai dibicarakan dengan nama Tol Tambu-Kasimbar. Pada intinya kawasan Tambu-Kasimbar menjadi pusat akumulasi-distribusi barang-jasa serta jembatan penghubung antara AKLI III dan II,” jelas Atjo.

Dengan demikian kata dia, akses distribusi barang dan jasa termasuk pangan dari utara, timur dan selatan Provinsi Sulteng lebih mudah dan cepat tiba di Tambu untuk di proses lebih jauh atau segera diseberangkan menuju IKN baru di Kalimantan Timur.

“Dampaknya semua kabupaten dan kota terkoneksi ke IKN, bermanfaat untuk pemerataan pertumbuhan ekonomi termasuk mengurangi kemiskinan.”

Atjo menegaskan bahwa Sulawesi Tengah memang jangan sampai ketinggalan dari daerah lain, karena sejumlah daerah yang berada di pesisir selat Makassar dan laut Sulawesi juga ingin mengambil peran sebagai penyangga. Kesempatan itu tidak akan datang dua kali, imbuhnya.

Atjo mengatakan Food Estate atau Kawasan Pangan Nusantara telah dicanangkan pada tahun 2020, di Provinsi Kalimantan Tengah oleh Presiden Joko Widodo. Konsep ini dinilai sebagai pengembangan dan perluasan program transmigrasi yang sejak lama menjadi program di sejumlah wilayah pulau Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, NTB dan NTT serta Papua. Program ini secara umum membawa banyak perubahan.

Kalau program transmigrasi lebih fokus kepada pemanfaatan lahan dan produksi pada sektor pangan serta pemerataan penduduk, maka Food Estate lebih berorientasi pada peningkatan produksi, value atau nilai tambah produk. Tujuannya agar daya saing produk pangan meningkat dan bisa meningkatkan serta mengurangi pangan impor yang trendnya makin meningkat dari tahun ke tahun.

Ciri dari Food Estate memiliki areal antara 20.000 hingga 30.000 ha, integrasi hulu dan hilir, interkoneksi antarkawasan terhubung dengan baik, menerapkan inovasi-teknologi terkini yang disesuaikan tuntutan era digitalisasi. Atau dengan kata lain mengimplementasikan konsep industrialisasi pangan.

Maka itu, Atjo berpendapat perlu ada redesain dari KPN, Talaga Pantai Barat Donggala. Menurutnya, Kawasan itu harusnya tidak lagi sebatas kepada fungsi produksi komoditi, tetapi diperluas menjadi salah satu pusat akumulasi maupun distribusi barang dan jasa di Sulawesi Tengah.

Sebab menurut Atjo, menerapkan industrialisasi terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sejumlah negara.

Di era 1970-an, pendapatan perkapita masyarakat Indonesia kurang lebih sama dengan Korea Selatan dan Malaysia yaitu sekitar USD 840 per tahun. Di tahun 2021 pendapatan perkapita Indonesia baru diangka USD 4.349. Sedangkan Malaysia USD 10.360, dan Korea Selatan sebesar USD 34.743.