Kalau kita cermati lagu berbahasa latin “Gaudeanus Igitur” yang sering dinyanyikan saat wisuda sarjana (komersium academic). Pesannya mulia sekali. Brevitate Vitae (Dalam Singkatnya Kehidupan). Lagu ini mengiringi para anggota senat Universitas memasuki ruang upacara Wisuda. Berderet para profesor ada di dalam barisan.
Ada bait lagu yang sangat menyentuh. “Setelah masa tua yang penuh kesukaran tanah akan menguasai kita. Kita bakal mengalami kematian yang tidak seorang pun mampu menghalanginya”. Lagu ini ditulis pada tahun 1781, tapi pesan moralnya hingga tahun 2022 ini masih relevan dan mulia. Mengingatkan kita tentang kematian. Luar biasa, karena pesan itu disampaikan di dunia akademik. Patokan moral yang dipesankan lagu ini membuat kita mawas diri, rendah hati dan jauh dari hasrat memburu kebanggaan palsu.
******
Memang terasa marak diera ini. Orang seperti gila hormat. Membangga-banggakan status dan gelar. Gemar dengan gelar sepanjang panjangnya. Bila diundang, tertulis nama tanpa gelar, tidak mau datang. Bahkan, tanpa disebut gelar saat dipanggil pidato, tidak beranjak. Alasan yang seolah benar adalah sulitnya mendapatkan gelar tersebut waktu kuliah. Jadi benarlah, sekolah itu cuma untuk memburu gelar. Bukan memburu ilmu pengetahuan. Maka, segala cara digunakan untuk mendapatkannya.
Maka, anak-anak kita harus diajarkan prinsipnya. Beradab dan bermartabat. Bila mereka memburu gelar, mereka hanya akan dapatkan gelar saja. Tapi, kalau mereka memburu ilmu, mereka akan dapatkan ilmu dan gelar. Dengan kata lain, ajari mereka. Janganlah mengejar gelar. Kejarlah ilmu pengetahuannya. Dan, kamu akan dapatkan ke-dua-duanya.
Celakanya di era ini juga, justru dosen ikut-ikutan sibuk ke arena. Mereka, termasuk saya, yang sudah lulus insinyur di tahun 80-an, disuruh ikut program lagi untuk mendapatkan insinyur. Aneh, tapi semua diam saja. Saya protes. Lalu, kawan-kawan bilang, ikut saja. Sebab besok-besok nanti, yang boleh ikut terlibat proyek, harus pernah ikut program insinyur ini. Kalau tidak, tidak diakui.
*****






