Satu Dari Tiga Anak dalam 1000 hari pertama, berisiko alami stunting. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 mencatat penurunan prevalensi stunting nasional sebesar 21,6% dari 24,4% pada 2021.
Meski demikian Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf mengingatkan bahwa masih butuh upaya yang lebih optimal lagi untuk mengejar target nasional. Sebab, satu dari tiga anak dalam 1000 hari pertama, berisiko alami stunting.
Baca juga : informasi-kebencanaan-palu-belum-maksimal
“Angka ini memang telah turun 2,8% dari tahun 2021. Namun, penanganan stunting masih membutuhkan upaya optimal guna mencapai target 14% tahun 2024, dan 0% pada 2030, sebagaimana target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.”
Wapres mengatakan hal itu saat menghadiri secara daring Deklarasi Gerakan Ibu Bangsa untuk Percepatan Penurunan Stunting di Jakarta, Jumat (24/02/2023) seperti dalam rilis BPMI Setwapres.
Wapres mengatakan penurunan stunting merupakan isu sangat penting, karena persoalan gizi anak merupakan faktor utama yang akan menentukan apakah Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi 2045 dengan baik.
“Upaya ini juga akan menentukan apakah kita akan menyongsong bonus demografi, atau malah membaliknya menjadi bencana demografi akibat kegagalan membenahi kualitas populasi usia produktif,” tegasnya.
Karena itu Wapres mengapresiasi Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) dan Pita Putih Indonesia, atas inisiasi pembentukan Gerakan Ibu Bangsa yang ikut berperan dalam upaya peningkatan gizi anak.
“Saya mengapresiasi Kongres Wanita Indonesia atas inisiasi Gerakan Ibu Bangsa untuk Percepatan Penurunan Stunting. Inisiatif KOWANI ini merupakan refleksi perjuangan wanita Indonesia yang tak hentinya berkontribusi dalam segala aspek kehidupan bangsa,” puji Wapres.
Ormas Ambil Peran
Wapres pun berharap, inisiatif seperti ini dapat diikuti ormas lain, khususnya dalam mengedukasi keluarga tentang dampak negatif stunting dan malnutrisi pada anak. Mengingat rentannya kondisi dimana satu dari tiga anak dalam 1000 hari pertama, berisiko alami stunting.
“Gerakan Ibu Bangsa kiranya juga dapat menginspirasi organisasi sejenis lainnya, utamanya untuk melakukan kampanye perubahan perilaku, guna meningkatkan kesadaran dalam lingkup keluarga akan bahaya stunting dan permasalahan gizi anak lainnya,” tutupnya.
Sebelumnya, Ketua Umum KOWANI Giwo Rubianto Wiyogo menyebut bahwa satu dari tiga anak dalam 1000 hari pertama kehidupan, berisiko mengalami stunting dengan risiko tumbuh kembang dan intelekual yang rendah di masa dewasa.
“Menyadari bahwa persoalan itu sangat berat dampaknya, maka kami Ibu Bangsa akan berupaya keras untuk memberikan sumbangsih kepada upaya pemerintah untuk menurunkan stunting,” ucap Giwo dalam ikrarnya.
Menurut Giwo, Gerakan Ibu Bangsa untuk Percepatan Penurunan Stunting ini melibatkan 102 anggota organisasi perempuan di Indonesia untuk peningkatan kualitas SDM unggul mulai dari janin.
“Kami turut bertanggung jawab mendidik dan menyiapkan generasi penerus unggul dan berkualitas serta sehat jasmani. Dan juga dalam upaya mempersiapkan generasi bangsa, KOWANI yakin bahwa wanita mampu meningkatkan kesehatan secara berkelanjutan dari janin hingga remaja,” jelasnya.
Hadir Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Hasto Wardoyo, Ketua Pelaksana Harian Pita Putih Indonesia Heru Kasidi.
Wapres didampingi Kepala Sekretariat Wapres Ahmad Erani Yustika, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Suprayoga Hadi, dan Staf Khusus Wapres Masduki Baidlowi. (aaa/PaluEkspres)






