Minggu, 9 Agustus 2026

BPJS Kesehatan Masih Tekor Rp 11 T

NUASA DUA, PE – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan masih akan menanggung beban berat dalam pengelolaan kinerjanya. Tingginya angka klaim dan tidak dibarengi dengan nilai premi yang sesuai membuat lembaga jaminan kesehatan milik pemerintah ini mencatat angka defisit.

Kepala Grup Penelitian dan Pengembangan BPJS Kesehatan Togar Siallagan mengatakan, diperkirakan hingga akhir tahun ini angka defisit atau missmatch mencapai Rp 6-7 triliun. Sementara di tahun 2016, angkanya terus membengkak hingga Rp 9-11 triliun.

“Dengan hitungan-hitungan kita, kemungkinan defisit tambah besar, tahun 2015 defisit Rp 6-7 triliun, defisit 2016 diperkirakan Rp 9-11 triliun,” sebut dia saat ditemui di acara Seminar Internasional Industri Keuangan Non Bank (IKNB), di The Westin Resort Nusa Dua, Bali, Senin (7/9/2015).

Togar menyebutkan, di sepanjang tahun 2014, BPJS Kesehatan masih mencatat angka defisit sebesar Rp 3 triliun. Ini disebabkan oleh tingginya biaya klaim, sementara pengumpulan premi masih minim.
“Mismatch di 2014 Rp 3 triliun, penyebabnya banyak biaya yang dikeluarkan untuk orang-orang kelompok mandiri,” katanya.

Togar mengungkapkan, pemerintah menuntut agar BPJS Kesehatan bisa segera memperbaiki angka defisit ini.
Untuk itu, pihaknya memberikan usulan untuk menaikkan besaran iuran premi agar bisa menutup angka defisit.

“Usulan naikkan iuran, masih digodok berapa besaran, ingin mudah cepat dan tidak mengganggu cashflow, ini sudah disampaikan ke pemerintah dan tidak memberatkan pemerintah,” tegas dia.
Selain itu, diatur juga waktu tunggu penggunaan kartu BPJS Kesehatan agar masyarakat tidak serta-merta bisa langsung menggunakan kartu saat baru mendaftar.

“Kita dituntut untuk mengendalikan biaya. Jadi ada kebijakan waktu tunggu, itu baik untuk mendorong pada waktu sehat mendaftar, tujuannya supaya yang sehat ramai-ramai mendaftar, menjaring lebih banyak orang-orang sehat terutama microfinance,” kata Togar.

Dia menambahkan, dengan banyaknya masyarakat mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan dengan iuran yang lebih tinggi tentunya, akan bisa menekan angka defisit ke depannya.
“Ini dituntut pemerintah bagaimana meminimalkan missmatch, oleh karena itu mencoba meningkatkan iuran, hasilnya juga agar bisa dinikmati masyarakat,” tandasnya. (bs)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital