Kamis, 10 September 2026

Standar Bawang Merah dan Pala Indonesia Ditetapkan Jadi Standar Codex

Deputi Bidang Pengembangan Standar BSN, Hendro Kusumo. (Foto: BSN)
Deputi Bidang Pengembangan Standar BSN, Hendro Kusumo. (Foto: BSN)

Jakarta, PaluEkspres.com – Usulan Indonesia, standar bawang merah dan pala yang dirumuskan oleh Codex Alimentarius Commisission (CAC) diterima oleh dunia internasional. Codex telah menetapkan kedua standar tersebut menjadi standar Codex. Sebagai lembaga yang mewakili Indonesia dalam Codex Alimentarius Commission (CAC) – Badan Internasional di bawah FAO dan WHO yang bertugas mengembangkan standar pangan internasional, Badan Standardisasi Nasional (BSN) bersama Kementerian/Lembaga terkait serta pemangku kepentingan lain juga turut aktif dalam forum CAC.

Deputi Bidang Pengembangan Standar BSN, Hendro Kusumo di Kantor BSN, Jakarta pada Rabu (31/05/2023) mengatakan, Standard for Onions and Shallots sebagai dokumen CXS 348-2022 dan Standard for dried seeds – Nutmeg sebagai dokumen CXS 352-2022 telah diadopsi/ditetapkan menjadi standar Codex oleh Sidang CAC ke-45 pada beberapa waktu lalu. Hendro adalah pemimpin Delegasi RI saat penetapan usulan tersebut.

Kedua standar itu, menurut Hendro, diusulkan sejak tahun 2014. Pengusulan standar bawang merah pada Sidang Codex Committee on Fresh Fruits and Vegetables (CCFFV) ke-18 tahun 2014, mengacu pada SNI 3159:2013 Bawang merah (Allium cepa var.ascalonicum). Selanjutnya, usulan tersebut beberapa kali direvisi dan dibahas oleh Komite, hingga akhirnya Sidang CCFFV ke-20 pada tahun 2017 menyepakati bahwa usulan Indonesia tersebut akan disubmit untuk disetujui sebagai new work oleh Sidang CAC41 sebagai combined standard dengan onions (bawang bombay).

Standard for Onions and Shallots memuat ketentuan mengenai persyaratan mutu untuk onions (bawang bombay) dan shallots (bawang merah) setelah proses penyiapan dan pengemasan. Standar tersebut berlaku untuk onions dari varietas Allium cepa L.; shallots dari varietas Allium cepa Aggregatum; dan grey shallots dari varietas Allium oschaninii yang dipasok dalam bentuk segar untuk konsumen. Standar tersebut tidak berlaku untuk onions dan shallots yang dimaksudkan untuk digunakan dalam proses industri.

Sementara, pengusulan standar pala dilakukan pada Sidang Codex Committee on Spices and Culinary Herbs (CCSCH) ke-1 yang dilaksanakan pada tahun 2014. Usulan tersebut mengacu SNI 0006:2015 Pala, yang pada saat itu masih dalam tahap perumusan standar dan merupakan revisi dari SNI 01-0006-1987 Pala, SNI 01-0007-1987 Fuli dan SNI 01-2045-1990 Biji pala dengan batok.

Standar pala berlaku untuk biji kering, dalam bentuk kering atau dehidrat sebagai rempah, dari Myristica fragrans Houtt yang merupakan kelompok Myristicaceae, yang telah dipanen dan diberi perlakuan pasca-panen seperti pengupasan, pengeringan, penyortiran, pemecahan, pemilahan dan/atau penggilingan sebelum pengemasan akhir dan dijual kepada konsumen dalam bentuk utuh, pecahan atau bubuk, untuk konsumsi langsung.

Kendati demikian, standar ini tidak berlaku untuk pala yang digunakan untuk keperluan proses industri.

Sebagai informasi, SNI 0006:2015 Pala telah direvisi menjadi SNI 6:2021 Pala. Revisi SNI tersebut mengacu pada draft Standard for Dried Seeds – Nutmeg yang sedang dalam tahap perumusan serta ISO 6577:2002. Nutmeg, whole, or broken, and mace, whole or in pieces (Myristica fragrans Houtt.) Specification.

Hendro menjelaskan, adanya pengusulan standar pala dan bawang merah dikarenakan pala merupakan salah satu komoditas tertua yang diperdagangkan di dunia. Perbedaan kepentingan antara produsen dan konsumen menghasilkan keragaman standar.

“Hal inilah yang menyebabkan kesulitan dalam perdagangan, khususnya dalam perlindungan konsumen. Oleh karenanya, harmonisasi standar menjadi penting untuk menjadikan standar acuan tunggal,” jelas Hendro.

Tidak hanya harmonisasi standar, Hendro mencontohkan terkait pala, pengajuan menjadi standar Codex dilihat juga dari peningkatan produksi dan ekspor pala Indonesia yang cukup besar.

Dari sisi produksi, tiap tahunnya tingkat produksi pala di dunia semakin meningkat. Berdasarkan data FAOSTAT, pada tahun 2009, jumlah produksi, 72.475 ton kemudian pada tahun 2013, meningkat menjadi 97.348 ton.

Sebagai gambaran, Asia merupakan wilayah produksi pala dan fuli (bunga pala) terbesar. Tumbuhan tersebut juga dapat tumbuh di Amerika Tengah. FAOSTAT (2013) mencatat, Guatemala, Indonesia, India dan Nepal merupakan empat negara produsen terbesar. Berdasarkan negara penghasilnya, pala dan fuli paling banyak diproduksi di Guatemala (40 %), Indonesia (27 %), India (17,56 %), Nepal (7 %), Laos (4 %) dan lainnya (4 %). Tidak jarang, juga ditemui pala dan bunga pala ditemukan di Afrika.

Data FAOSTAT (2013) menunjukkan Arab Saudi merupakan negara pengimpor terbesar untuk pala dan fuli. Diikuti, Jerman, Belanda, India, AS, dan Inggris dengan jumlah impor 128.768 ton, 44.897 ton, 37.230 ton, 36.737 ton dan 23.200 ton.

Dengan keterlibatan Indonesia dalam penyusunan standar Codex, Hendro berharap dapat meningkatkan perlindungan kesehatan konsumen, memperjuangkan kepentingan nasional, dan memastikan pemenuhan standar dan regulasi nasional telah selaras dengan ketentuan standar Codex sehingga produk pangan Indonesia dapat diterima dalam perdagangan internasional. (aaa/bsn)

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam