Ada jalan yang ditempuh dengan langkah kaki, dan ada jalan yang dijalani dengan seluruh umur. Jalan yang pertama berakhir ketika seseorang sampai di tujuan, sedangkan yang kedua meninggalkan jejak jauh setelah langkah terakhir berhenti.
Seperti bagi Ustadz H. Abd. Djalil G. Bua dan almarhumah Ustadzah Hj. Fauziah Ismail, Alkhairaat bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Di sanalah keduanya mengenal arti pendidikan, pengabdian, dan keyakinan bahwa ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika diberikan kepada orang lain.
Masa muda mereka ditempa oleh pelajaran agama di MDA dan Muallimin Alkhairaat Palu. Fikih, tafsir, hadis, dan berbagai ilmu keislaman menjadi bagian dari perjalanan itu. Namun yang kemudian tinggal lebih dalam adalah kesadaran bahwa seorang yang telah memperoleh ilmu tidak semestinya menyimpannya untuk diri sendiri. Ia harus mengajarkannya, mengamalkannya, dan membiarkan kebaikan itu berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Pilihan menjadi guru bukanlah jalan yang menjanjikan kemewahan. Ketika Abd. Djalil mulai mengajar di Madrasah Alkhairaat Dolago pada 10 Juni 1972, keadaan pendidikan masih sangat sederhana. Ruang belajar terbatas, fasilitas belum memadai, sementara kehidupan para guru pun jauh dari berlebihan. Namun di balik segala kekurangan itu tersimpan keyakinan bahwa mengajar adalah amal yang tidak akan putus selama ilmu yang diberikan terus diamalkan oleh mereka yang menerimanya.
Setahun kemudian, pada 1973, perjalanan hidup itu menemukan teman seperjalanan. Pernikahan dengan Fauziah Ismail, gadis asal Masigi, Parigi, membuat kehidupan keluarga mereka menyatu dengan kehidupan madrasah. Dolago menjadi rumah, tempat mengajar, sekaligus ruang panjang untuk mengabdikan diri. Di sana mereka menyaksikan masyarakat yang sebagian besar hidup sebagai petani, dengan penghasilan yang bergantung pada musim panen dan kemampuan yang serba terbatas.
Pada masa itu, tunjangan guru bahkan kadang harus menunggu panen dan baru diterima beberapa bulan kemudian. Namun masyarakat tidak membiarkan madrasah berjalan sendirian. Ada yang membantu memperbaiki bangunan, menyediakan bahan, atau memberikan sebagian hasil panen sebagai tanda terima kasih kepada para guru. Mereka mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi memiliki sesuatu yang lebih penting: keyakinan bahwa pendidikan anak-anak mereka adalah harapan bagi masa depan desa.
Setiap hari, anak-anak datang ke madrasah dengan kesederhanaan yang sama. Sebagian harus berjalan kaki cukup jauh, melewati jalan yang mungkin belum seperti sekarang. Mereka datang membawa buku, harapan, dan masa depan yang belum mereka kenali. Di hadapan wajah-wajah kecil itulah kedua guru tersebut menemukan alasan untuk terus bertahan, meskipun keadaan belum banyak berubah.
Tahun-tahun berlalu, dan perlahan madrasah itu tumbuh. Murid semakin banyak, perhatian masyarakat semakin besar, dan dari ruang-ruang sederhana itu lahir anak-anak yang kemudian melanjutkan pendidikan serta menjadi guru, tokoh masyarakat, dan pemimpin di berbagai bidang. Seiring waktu, seorang guru tidak lagi hanya dikenal sebagai orang yang berdiri di depan kelas. Ia menjadi tempat bertanya, tempat meminta nasihat, dan bagian dari kehidupan masyarakat yang telah tumbuh bersamanya.
Namun jalan pengabdian itu tidak hanya terbentang di Dolago. Ada rentang panjang lain yang mempertemukannya dengan K.H. Moh. Sholeh ZA Damar, seorang guru yang kemudian didampingi selama puluhan tahun. Dari 1971 hingga 2006, hampir setiap hari ia berada di sisi sang kyai dan dikenal sebagai “sekretaris abadi”. Tiga puluh lima tahun adalah waktu yang panjang untuk berjalan bersama seseorang; cukup panjang untuk membuat hubungan antara guru dan murid tumbuh menjadi ikatan yang lebih dalam daripada sekadar hubungan pendidikan.
Ia mengikuti perjalanan sang guru, mendatangi madrasah-madrasah, bertemu para guru, masyarakat, dan murid-murid di berbagai tempat. Banyak dari perjalanan itu mungkin tidak pernah tercatat dalam sejarah resmi. Namun justru kenangan-kenangan semacam itulah yang sering tinggal paling lama dalam hati seseorang. Ketika K.H. Moh. Sholeh ZA Damar berpulang pada 2006, yang hilang bukan hanya seorang pimpinan, melainkan seseorang yang telah mengisi sebagian besar perjalanan hidupnya.
Setelah itu, pengabdian berlanjut bersama K.H. Makmur ZA Damar hingga 2010. Sekali lagi, ia berada di sisi seorang guru, seolah kesetiaan telah menjadi cara hidup yang tidak perlu banyak dijelaskan. Ketika sosok kedua itu pun berpulang, dua orang yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari perjalanan hidupnya telah pergi. Namun pekerjaan yang mereka wariskan tidak ikut berhenti. Ia tetap tinggal di lingkungan Alkhairaat, membawa ingatan tentang guru-gurunya ke dalam pekerjaan yang masih harus diteruskan.
Ada sebuah kalimat yang dikenang Muhammad Nur Damar: “Tidak ada satu halaman madrasah Alkhairaat di wilayah Parigi Moutong yang tidak saya injak atau kunjungi.” Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan jarak perjalanan yang panjang. Di baliknya ada halaman-halaman sekolah, wajah guru, anak-anak yang tumbuh, dan jalan-jalan yang mungkin kini telah berubah. Banyak orang yang dahulu ditemuinya telah pergi, tetapi tempat-tempat itu tetap menjadi bagian dari ingatan yang tidak mudah hilang.
Sementara perjalanan pengabdian terus berlangsung, kehidupan rumah tangga juga perlahan memasuki senjanya. Fauziah Ismail wafat pada 2014, setelah bertahun-tahun menjadi teman hidup sekaligus teman dalam pengabdian. Ia telah melewati masa-masa ketika madrasah masih sederhana, ketika hasil panen menentukan kehidupan masyarakat, dan ketika pendidikan dibangun dengan kesabaran serta gotong royong. Kepergiannya meninggalkan ruang sunyi yang tidak mungkin diisi kembali oleh siapa pun.
Namun waktu tidak pernah benar-benar berhenti untuk memberi kesempatan kepada seseorang berlama-lama dalam kehilangan. Madrasah tetap berdiri dan anak-anak baru terus datang. Kehidupan harus berjalan, sebagaimana dahulu mereka terus mengajar meskipun keadaan tidak selalu berpihak. Mungkin begitulah pengabdian bekerja: seseorang pergi, tetapi pekerjaan yang dicintainya tetap menemukan orang-orang yang bersedia meneruskannya.
Kini, ketika usia telah membawa langkah itu ke senja, jejak masa lalu masih dapat ditemukan di Madrasah Alkhairaat Dolago. Tempat yang dahulu dirintis dengan fasilitas sederhana telah melewati usia satu generasi, bahkan berkali-kali mengalami perubahan. Setelah gempa bumi 28 September 2018, bangunan sekolah yang terdampak dibangun kembali dengan bantuan JICA melalui Pemerintah Republik Indonesia, sementara bangunan awal tempat semua jejak itu dirintis tetap dipertahankan. Seolah-olah waktu boleh memperbarui bangunan, tetapi tidak perlu menghapus tempat di mana sebuah pengabdian pernah bermula.
Pada akhirnya, sejarah sebuah madrasah tidak pernah menjadi kisah satu orang saja. Di belakang seorang guru ada masyarakat yang membantu, orang tua yang menitipkan anak-anaknya, para kyai yang menjadi tempat belajar, serta murid-murid yang membuat seluruh perjuangan itu mempunyai arti. Mereka semua seperti benang yang berbeda warna, tetapi terjalin menjadi satu kain perjalanan yang panjang. Di tengah jalinan itulah kehidupan dua insan tersebut menemukan maknanya—bukan karena mereka berdiri sendirian, melainkan karena mereka memilih untuk tinggal dan bekerja bersama masyarakat selama puluhan tahun.
Ada sesuatu yang indah dalam kenyataan bahwa sebagian besar hidupnya dijalani sebagai murid sekaligus guru. Ia belajar dari orang-orang yang lebih dahulu menempuh jalan ilmu, mendampingi mereka, lalu meneruskan apa yang diterimanya kepada murid-murid sendiri. Ketika para gurunya telah tiada, ia tidak meninggalkan jalan tersebut. Ia membawa kenangan tentang mereka, lalu menjadikannya alasan untuk terus melangkah. Barangkali itulah bentuk kesetiaan yang paling sunyi: tetap berjalan di jalan yang sama, meskipun orang-orang yang dahulu berjalan bersama kita telah lebih dahulu sampai di ujung perjalanan.
Jika kelak seseorang ingin mengetahui seperti apa pengabdian seorang guru pada masa pendidikan masih serba terbatas, kisah Dolago mungkin dapat menjadi salah satu jawabannya. Tidak ada kemewahan dalam cerita itu. Yang ada hanyalah ruang belajar sederhana, anak-anak yang berjalan kaki menuju sekolah, masyarakat petani yang berbagi dari hasil panen, serta guru yang tetap datang mengajar meskipun kehidupan sendiri tidak selalu mudah. Dari kesederhanaan itulah mereka membangun sesuatu yang ternyata mampu bertahan lebih lama daripada usia mereka sendiri.
Setiap pagi, ketika murid-murid datang dan guru memasuki ruang kelas, mungkin tidak banyak yang mengingat orang-orang yang dahulu merintis tempat itu. Begitulah waktu; ia perlahan membuat pengorbanan besar terlihat seperti sesuatu yang biasa. Namun di balik kegiatan yang tampak sederhana itu terdapat sejarah yang panjang—tentang guru muda yang datang ke sebuah desa, tentang seorang perempuan yang menjadi teman hidupnya, tentang masyarakat yang membantu dengan apa yang mereka miliki, dan tentang para kyai yang menjadi bagian penting dari perjalanan ilmunya. Semua itu mungkin tidak selalu terlihat, tetapi tetap hidup sebagai dasar dari apa yang ada hari ini.
Seorang guru memang tidak selalu meninggalkan sesuatu yang dapat dipajang setelah ia pergi. Ia meninggalkan manusia. Murid-murid yang pernah duduk di hadapannya akan membawa sebagian kecil dari ilmu itu ke tempat lain, mengajarkannya kembali, dan tanpa sadar meneruskan sesuatu yang mungkin telah lama dilupakan asal-usulnya. Karena itu, pekerjaan seorang guru tidak benar-benar berakhir ketika ia meninggalkan ruang kelas. Selama ilmu dan kebaikan masih berpindah dari satu manusia kepada manusia lainnya, sebagian dari dirinya masih terus berjalan.
Kini, banyak orang yang dahulu berjalan bersamanya telah lebih dahulu pulang. Fauziah Ismail telah pergi, demikian pula K.H. Moh. Sholeh ZA Damar dan K.H. Makmur ZA Damar. Banyak wajah dari masa lalu telah berubah menjadi kenangan. Namun di sebuah madrasah di Dolago, mereka seakan masih bertemu dalam bentuk yang lain: dalam bangunan yang bertahan, dalam cerita orang-orang yang pernah mengenalnya, dan terutama dalam anak-anak yang datang setiap hari untuk belajar. Di sanalah masa lalu bertemu dengan masa depan tanpa harus saling mengenal.
Mungkin pada akhirnya pengabdian tidak diukur dari seberapa lama sebuah nama disebut. Nama manusia dapat perlahan menghilang dari ingatan, tetapi sesuatu yang ditanam dengan ketulusan dapat hidup jauh lebih lama. Di Dolago, jawabannya masih terlihat sederhana: madrasah tetap berdiri, guru-guru masih mengajar, dan anak-anak masih datang membawa masa depan mereka. Di antara semua itu, masih ada jejak panjang seorang guru yang sejak muda memilih jalan ilmu dan menjalaninya dengan sabar hingga usia senja.






