Jumat, 18 September 2026
Opini  

MBG; Wajah Negara yang Hadir di Sepiring Nasi

MBG dikritik, saat Presiden Prabowo Subianto kali pertama menggagasnya. Ada pula yang memujinya. Ini Lazim. Kebijakan publik kerap kali melahirkan silang pendapat.

Oleh: Jafar G Bua*

Makanan, seperti hal-hal lain yang menyentuh hajat hidup orang banyak, tak pernah sekadar perkara pangan. Di dalamnya ada ideologi, ada politik, ada sejarah, dan ada banyak kepentingan — mungkin yang terang benderang maupun yang terselubung. Sepiring nasi bisa mencerminkan wajah sebuah negara, mentalitas pemimpinnya, dan arah kebijakannya.

Ketika Presiden Prabowo Subianto menggagas program Makanan Bergizi Gratis (MBG), kritik pun mengemuka. Lazim. Tiada yang aneh. Kebijakan publik memang selalu melahirkan silang pendapat. Namun, barangkali, di balik hiruk-pikuk kritik dan pujian itu, ada satu pertanyaan mendasar: Mengapa sebuah negara memberi makan rakyatnya?

Jawabannya bisa ditemukan dalam sejarah. Tahun 1946, di Amerika Serikat, Presiden Harry S. Truman mengesahkan National School Lunch Program (NSLP), program makan siang gratis bagi anak-anak sekolah. Ini bukan semata-mata tindakan filantropis negara. Latar belakangnya adalah sebuah kenyataan pahit: banyak pemuda Amerika ditolak masuk militer selama Perang Dunia II karena kekurangan gizi. Negeri Paman Sam sadar, rakyat yang lapar adalah rakyat yang lemah. Anak-anak yang tak cukup makan adalah generasi yang gagal sebelum sempat tumbuh.

Di balik NSLP saat itu, ada banyak kepentingan yang berkelindan. Di satu sisi, program ini adalah upaya meningkatkan kesehatan dan produktivitas masa depan. Anak-anak yang cukup gizi akan tumbuh menjadi tenaga kerja yang lebih kuat dan efisien. Di sisi lain, NSLP menopang harga pangan dengan menyerap surplus pertanian. Ada kepentingan industri di sana—petani gandum, peternak susu, hingga korporasi makanan olahan.

Namun, tak semua orang menerima NSLP dengan tangan terbuka. Ada yang menganggapnya sebagai bentuk sosialisme terselubung. Bukankah memberi makan anak-anak adalah tugas keluarga? Seorang senator bahkan pernah menyindir, “Jika kita memberi mereka makan di sekolah, sebentar lagi kita harus memberi mereka pakaian dan tempat tinggal.” Ironi ini terasa pedih di negeri yang begitu mengagungkan kebebasan individu, namun tetap menggantungkan kebutuhan dasar pada intervensi negara.

Lama-kelamaan, program ini berkembang dan menyesuaikan diri dengan zaman. Ada masa ketika makanan cepat saji masuk ke dalam menu sekolah: nugget ayam, burger, pizza—semuanya diklaim sebagai “nutrisi seimbang” berkat lobi industri makanan. Lalu datang era Michelle Obama yang membawa reformasi, mengganti kentang goreng dengan wortel, mengganti soda dengan susu rendah lemak. Perubahan ini pun tak lepas dari kontroversi. Ada anak-anak yang protes karena makan siang mereka dianggap “tak lagi enak.” Ada sekolah yang mengeluh karena makanan sehat lebih mahal.

Kisah NSLP adalah cermin bahwa kebijakan memberi makan rakyat tak pernah sekadar urusan perut. Di dalamnya ada tarik-menarik ideologi, ada perdebatan ekonomi, ada ketegangan antara negara dan pasar. Negara harus memilih: apakah ia sekadar menjadi wasit yang membiarkan rakyatnya berjuang sendiri, atau menjadi dapur besar yang memastikan tak ada perut kosong di jam belajar.

Kini, Indonesia dihadapkan pada pertanyaan yang sama. Dengan program MBG, Presiden Prabowo Subianto menyatakan sikapnya: negara bukan sekadar mesin birokrasi, melainkan rumah yang harus memastikan anak-anaknya tumbuh dengan cukup gizi. Prinsipnya jelas: memberi makan rakyat bukan kemurahan hati, melainkan kewajiban.

Seperti di Amerika, MBG pun tak lepas dari kritik. Ada yang bertanya: dari mana dananya? Apakah ini realistis? Apakah ini hanya strategi populis? Pertanyaan-pertanyaan itu sah dan perlu diajukan. Namun, di luar perdebatan itu, ada fakta yang tak terbantahkan: jutaan anak Indonesia datang ke sekolah dalam keadaan lapar. Banyak yang tidak cukup makan. Banyak yang kekurangan gizi. Jika dibiarkan, mereka tak hanya mengalami hambatan belajar, tapi juga akan tumbuh dengan keterbatasan fisik dan mental yang permanen.

Pemberian makan oleh negara memang bisa dipandang dari banyak sisi. Secara ekonomi, ini adalah investasi jangka panjang: anak-anak yang sehat akan menjadi tenaga kerja yang lebih produktif. Secara sosial, ini adalah bentuk tanggung jawab kolektif: bangsa yang beradab tak akan membiarkan anak-anaknya kelaparan. Secara politik, ini adalah pernyataan sikap bahwa negara hadir dalam urusan paling mendasar dari kehidupan warganya.

Tentu ada tantangan besar dalam implementasi program ini. Bagaimana memastikan distribusi yang merata? Bagaimana memastikan anggaran tidak bocor? Bagaimana memastikan bahwa makanan yang diberikan benar-benar bergizi dan berkualitas? Semua ini adalah pekerjaan rumah yang berat. Namun, satu hal yang pasti: MBG adalah langkah yang berani dan penting.

Makan siang di sekolah bukan sekadar makan siang. Ia adalah ekspresi dari filosofi negara tentang bagaimana ia memperlakukan rakyatnya. Di dalamnya ada kalkulasi ekonomi, ada keberpihakan politik, ada kepentingan industri, ada ideologi. Tapi, pada akhirnya, ia adalah tindakan yang menentukan: apakah negara membiarkan anak-anaknya tumbuh dengan perut kosong, ataukah ia memilih untuk mengulurkan tangan, menyajikan sepiring nasi, dan berkata: “Kau berhak untuk tumbuh dengan sehat.”

Dan di situlah, di sepiring nasi, di antara sendok dan garpu, kita melihat wajah negara yang sesungguhnya.***

*Penulis adalah Tenaga Ahli Anggota DPR RI, alumni Asia Journalist Fellowship (AJF) Singapura, 2019

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam