Sabtu, 8 Agustus 2026
Opini  

Penganggur Terpelajar

Oleh: Muhd Nur Sangadji

Pekan awal bulan  April  ini, saya  mendapat tiga keluhan dari tiga alumni  di perguruan tinggi yang berbeda.

Satu, dari  fakultas  Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  Universitas Tadulako.  Dua, dari  FKIP jurusan Bahasa Inggeris, universitas Khairun.  Tiga,  jurusan  pengolahan hasil bumi, Politeknik Palu.  Ujung keluhan itu adalah kehendak mendapatkan pekerjaan.

Karena kami memiliki hubungan kekerabatan, maka saya ikut merasakan bagaimana kegalauan anak muda ini.  Yakin, mereka bertiga hanyalah contoh saja.

Di luar sana, berjubel alumni sejenis yang  kebingungan menemukan tempat untuk bekerja. Dari pada menjadi pengangguran, lebih baik mendapat kerjaan apa saja.

Waktu sekolah di Prancis, saya melihat kawan saya, gadis Perancis asli, sangat berbangga ketika   memperoleh pekerjaaan.

Padahal, pekerjaannya berkatagori rendah (ukuran kita), yaitu “menjaga bayi” (gardien le bebe).  Mengagumkan, karena gadis ini berasal dari keluarga berpunya. Sementara itu, negara Perancis ini bahkan punya tunjangan pengangguran yang besarnya per bulan hampir sama dengan bea siswa saya.

Anak- anak Jepang, akan berebut menjadi pekerja sosial (sukarelawan) sebagai ajang melatih diri  menghadapi dunia kerja. Dan, dunia kerja juga  menjadikan pengalaman sukarelawan sebagai satu  prasyarat diterima menjadi karyawan. Bahasa lain dari pengalaman kerja.

Tapi, sukarelawan bermakna lebih dalam karena  menyertakan aspek  perilaku “berbagi”.
Sekarang, bagaimana kita menyiapkan anak-anak kita dari bangku sekolah hingga bangku kuliah.

Sekolah kita memberi apa? Ketika mereka dididik  selama 6 tahun SD, 3 tahun SMP, 3 tahun SMA dan 4 tahun perguruan tinggi. Ya, memberi apa? Jikalau,    di ujung waktu itu, yang relatif 15-17 tahun,  mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.  Padahal, 17 tahun itu adalah waktu lama untuk membentuk manusia menjadi mandiri.

Di kampus IPB, guru saya memberi katagori kepada murid-muridnya dengan ungkapan filosofis orang Sunda. Ada kelompok mahasiswa yang menganut falsafah “Engke kumaha = nanti bagiamana?” dan kumah Engke = bagaimana nanti? untuk kelompok yang lain.

Kelompok pertama jelas memiliki “individual vision”  yang jelas. Sementara kelompok kedua, mengabaikannya. Apa yang terjadi kedepan, nantilah dipikirkan belakangan.

Mungkin, di titik inilah kita perlu memulainya   kembali. Dan, kita sebagai guru (baca; orang tua, guru formal dan masyarakat) sangat  berperan  penting.

Maka jadilah kita, guru yang bisa berperan di semua level. Seperti kata William Arthur Ward yang membagi Guru dalam 4 katagori The mediocre teacher “TELLS”, the good teacher “EXPLAINS”, the superior teacher “DEMONSTRATES” and The great   teacher “INSPIRES”.

Semogalah, kita yang semuanya adalah guru, berperan meretas angka pengangguran terpelajar yang terus membengkak. Amien.

 

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital