Curah hujan rendah dan pertumbuhan kaktus yang lebat menghadirkan bayangan gurun —(namun adanya) sungai-sungai pegunungan tetap memungkinkan membuka persawahan.
Demikian pembuka artikel berita wisata yang dimuat sebuah koran Belanda, Het Nieuws van Den Dag (Berita Hari ini) dalam edisi Sabtu, 19 September 1936. Tulisan itu ditulis oleh seorang kontributor khusus yang tidak dituliskan namanya.
Ia menuliskan, para pelancong yang menggunakan salah satu jalur pelayaran K.P.M. antara Makassar dan Manado, ataupun jalur antara pelabuhan tersebut dan pantai timur Kalimantan, pada suatu pagi dalam perjalanan lautnya di pesisir Celebes singgah di Donggala, sebuah kota kecil yang dibangun di atas perbukitan.
Ketika kapal mengitari terumbu-terumbu karang yang luas di dekat tanjung paling ujung, yang ditandai dengan mercusuar, di antara Selat Makassar dan Teluk Palu yang menjorok jauh ke daratan, perhatian penumpang tentu tertarik pada pemandangan alam yang indah. Namun, mereka juga biasanya berdiri di pagar kapal untuk melihat sesuatu yang khas dari pelabuhan ini, yang sebelumnya telah diceritakan oleh kapten atau para awak kapal: perlombaan perahu dayung yang sejak bertahun-tahun lalu selalu digelar setiap kali sebuah kapal uap tiba di pelabuhan tersebut.
Empat perahu pribumi telah menunggu di dekat pantai, mengapung perlahan sambil menunggu tanda bahwa kapal telah menjatuhkan jangkar. Begitu sirene kapal yang berat mengirimkan tanda itu ke seluruh permukaan air, dayung-dayung segera bergerak dan batang-batang pohon ramping yang dilubangi menjadi perahu melesat membelah laut biru muda.
Para peserta mudah dibedakan melalui warna kaus dan dayung mereka—merah, putih, hijau, dan hitam. Yang diperebutkan adalah siapa yang paling cepat membawa penumpang geladak beserta barang-barang mereka, seperti koper kecil, tempat tidur lipat, boenkoesans dan pembawa makanan, dari kapal menuju pantai.
Ketika terdengar teriakan dukungan dari para “badjau”, yakni para pekerja K.P.M. yang berada di kapal, dan dua atau lebih perahu hampir tiba secara bersamaan, perlombaan itu menjadi semakin menarik.
Sebelum perahu-perahu tersebut menyentuh tangga kapal bagian belakang, para pendayung yang berada di depan sudah berusaha melompat keluar. Hal ini, yang sangat menghibur para penumpang, sering kali berakhir dengan beberapa orang tercebur ke dalam air tanpa sengaja.
Itulah yang biasanya dilihat sebagian besar pelancong dari Donggala dan daerah pedalamannya, yakni tanah Palu.
Hanya segelintir orang yang berani meninggalkan kapal selama sekitar satu jam waktu bongkar-muat untuk melihat kota. Setelah melewati kawasan bawah kota yang kotor dan penuh gubuk, kemudian berjalan sambil berkeringat deras hingga mencapai rumah-rumah orang Eropa yang tersebar di perbukitan, mereka akan dibuat takjub oleh pemandangan luas ke arah tanjung, terumbu karang, Teluk Palu, serta jajaran pegunungan tinggi yang jauh yang memisahkan teluk tersebut dari Teluk Tomini.
Hanya sedikit orang yang berkesempatan melihat lebih banyak dari negeri ini selain Donggala dan daerah sekitarnya. Mereka adalah sejumlah kecil pegawai pemerintah dan personel militer yang selama beberapa tahun ditempatkan di sana, beberapa misionaris Leger des Heils (Bala Keselamatan) yang mengkristenkan suku-suku Toraja yang tinggal lebih jauh ke pedalaman, serta beberapa pedagang Eropa.
Dari waktu ke waktu, para pegawai yang berasal dari Manado mengunjungi daerah ini dalam rangka inspeksi atau perjalanan pengawasan.
Keindahan Alam yang Terlupakan
Sangat disayangkan bahwa kapal-kapal uap K.P.M. hanya singgah sebentar di Donggala. Hal tersebut memang dapat dipahami karena kopra dari wilayah ini dikirim melalui kapal sewaan menuju Denmark.
Akibat singkatnya waktu persinggahan, para pelancong tidak mempunyai kesempatan melakukan perjalanan selama empat jam menuju Lembah Palu.
Seandainya daerah ini terletak di Jawa atau Sumatra, tentu akan menarik banyak wisatawan. Mereka yang mengenal keindahan Priangan, atau pernah menikmati panorama pegunungan yang megah di Sumatra Tengah dan Utara, pasti akan terpesona oleh keindahan alam yang luar biasa di wilayah ini.
Seandainya tempat tersebut berada di Eropa, brosur-brosur wisata berwarna-warni di hotel dan perkumpulan sosial, serta poster-poster cerah di stasiun kereta api, tentu akan mengajak para pelancong mengunjungi Lembah Palu.
Hotel-hotel yang indah dan vila-vila dengan taman penuh bunga akan berdiri di berbagai titik pandang. Mobil-mobil wisata dan kereta api pegunungan setiap tahun akan membawa ribuan pengunjung masuk ke lembah dan pegunungan.
Namun sekarang tempat ini berada di pesisir barat Celebes—dilupakan oleh Baedeker, Grieben, Guide Bleu dan berbagai buku panduan perjalanan lainnya—terpanggang oleh matahari tropis yang terasa semakin menyengat akibat bentuk khusus wilayahnya, jauh dari lalu lintas wisatawan.
Keindahan yang ganjil dan memikat itu hanya dapat dinikmati oleh penduduk Kajeli yang masih hidup sederhana dan segelintir orang Eropa yang karena tugasnya harus bekerja di sana.
Keindahan yang ganjil itu memang menjadi ciri khas dataran kecil Palu. Panjangnya sekitar 40 kilometer, dengan lebar antara 5 hingga 10 kilometer, dan wilayah tersebut dikelilingi kompleks-kompleks pegunungan liar dengan puncak yang menjulang lebih dari 2.000 bahkan 3.000 meter.
Pegunungan di sebelah barat naik dengan lereng-lereng terjal dan berbatu dari dataran. Lereng itu hanya ditumbuhi alang-alang dan pada sore hari sudah lebih awal diselimuti bayangan pegunungan yang besar.
Di sebelah timur terdapat jajaran pegunungan besar yang tertutup hutan lebat, berada di balik sabuk perbukitan luas yang landai. Sebagian perbukitan tersebut ditumbuhi rumput berwarna cokelat kemerahan yang terbakar, yang digunakan sebagai padang penggembalaan yang buruk bagi ternak yang dibiarkan berkeliaran.
Sebagian lainnya tertutup hutan kaktus yang hampir tidak dapat ditembus, terutama di tempat punggung bukit terdiri atas tanah yang lepas dan berbutir kasar sehingga tidak lagi mampu menahan sedikit air hujan yang turun.
Di antara kompleks pegunungan yang sangat besar tersebut, sejak pagi sudah terasa panas yang menyengat. Hujan yang turun sesekali tidak banyak membantu mendinginkannya.
Hujan deras sangat jarang terjadi karena angin yang terus-menerus bertiup di tempat tinggi menghalangi pembentukan awan di atas dataran.
Namun demikian, wilayah ini tetap mempunyai penampilan yang subur karena terdapat hamparan sawah yang luas dan desa-desa yang tersembunyi di bawah pohon-pohon kelapa.
Negeri Penuh Kontras
Inilah salah satu dari banyak kontras yang menarik perhatian pelancong di negeri ini.
Di satu sisi terdapat lereng dan perbukitan yang kering, ditumbuhi kaktus, alang-alang atau rumput yang setengah mengering. Di sisi lain, di sekitar dataran tersebut terdapat ratusan bauw sawah beririgasi, desa-desa dan kebun kelapa yang berjajar di sepanjang kedua tepian Sungai Palu yang mengalir deras.
Sungai tersebut beserta anak-anak sungainya membawa banyak air berlumpur yang kaya sedimen dari pegunungan di sekelilingnya menuju teluk. Sungai inilah yang membuat persawahan dapat berkembang di daerah yang sangat kering, dengan curah hujan hanya sekitar 500 milimeter per tahun.
Namun, dan inilah kontras kedua, banyak sungai tersebut sekaligus menjadi ancaman terus-menerus bagi persawahan.
Ketika sungai mengalami banjir bandang, massa pasir, kerikil dan batu-batu bulat dapat terlempar dan menumpuk membentuk kipas-kipas endapan besar di kaki gunung. Akibatnya, saluran pengambilan air dan jaringan irigasi dapat rusak.
Dalam waktu hanya satu hari, puluhan bauw sawah dapat tertutup lapisan lumpur halus setebal puluhan sentimeter yang menutupi dan mematikan tanaman.
Sungai Sombe dan Lewara menjadi contoh klasik. Keduanya berasal dari wilayah Pekawa yang telah mengalami penggundulan hutan secara berat. Sungai-sungai itu mengalir liar melewati medan yang sangat bergelombang dan telah mengalami pelapukan sehingga material tanahnya mudah terlepas.
Selama bertahun-tahun, keduanya telah membentuk kipas-kipas endapan yang sangat besar. Dalam catatan sejarah, beberapa ratus bauw sawah yang sebelumnya baik bahkan telah tertimbun lapisan batu-batu bulat setebal beberapa meter.
Penanganan secara menyeluruh melalui pengendalian sungai pegunungan dan penghijauan kembali secara intensif dianggap terlalu mahal.
Pemerintah hanya melakukan apa yang dapat dilakukan dengan dana terbatas: membangun bendungan, memperbaiki dan memperkuat bangunan pengambilan air, serta memperluas kemungkinan irigasi di wilayah bagian timur dataran yang lebih sedikit menghadapi bahaya.
Sungai juga menjadi sumber kontras dalam hal lain.
Daerah ini sebenarnya memiliki jaringan jalan yang cukup luas dan baik, yang dibangun dengan biaya relatif murah. Namun, pada sebagian besar penyeberangan sungai tidak terdapat jembatan.
Lalu lintas biasanya melewati dasar sungai yang dipenuhi batu-batu bulat. Dalam keadaan normal, ketinggian air di sana jarang melebihi setengah meter. Sebagian besar air bahkan mengalir tanpa terlihat di antara lapisan batu-batu tersebut.
Paroeja
Meskipun daerah ini telah berhubungan dengan dunia luar selama bertahun-tahun melalui perdagangan kopra, hasil hutan dan sejumlah ternak—termasuk kuda pribumi yang baik, masyarakat Kajeli yang masih sederhana juga telah mengenal berbagai barang Barat melalui pergaulan dengan orang-orang Bugis yang lebih maju serta melalui contoh dari orang Eropa dan pegawai pribumi.
Namun, di sawah mereka masih menggunakan sistem pengolahan tanah yang sangat kuno.
Mereka telah menggunakan pacul, mesin penggiling jagung dari besi, sepeda, lampu Eveready, mesin jahit dan berbagai barang lainnya, tetapi hingga beberapa waktu sebelumnya hampir tidak menggunakan bajak, dan hanya jarang menggunakan garu sederhana.
Mereka menggenangi sawah dengan air dan kemudian membiarkan kerbau menginjak-injak tanah selama beberapa hari, sampai lapisan tanah bagian atas bercampur dengan air dan berubah menjadi lumpur kental.
Setelah itu, pematang yang telah terinjak-injak diperbaiki kembali dan proses penanaman atau penyemaian dapat dimulai.
Pengolahan tanah seperti ini disebut “paroedja” atau paruja dan sangat memakan waktu.
Namun, menyaksikan paroedja dilakukan merupakan pemandangan yang sangat menarik.
Sekumpulan kerbau yang berhimpitan, kadang-kadang mencapai 24 ekor, bergerak berkeliling di dalam lumpur di bawah pimpinan sekelompok penduduk desa yang tubuh mereka dipenuhi cipratan lumpur.
“Na’koda”, sang pemimpin, merupakan tokoh penting dan seorang terkemuka di desanya. Kerbau-kerbau mengikuti nyanyian sang pemimpin yang berupa suara-suara dalam dari tenggorokan.
Para pembantu berjaga di sisi dan di bagian belakang agar tidak ada kerbau yang keluar dari barisan.
Pada musim pengolahan tanah, yang di daerah ini berlangsung selama berbulan-bulan, suara nyanyian dari para na’koda terdengar dari berbagai penjuru sawah.
Namun, tidak lama lagi tradisi paroedja diperkirakan akan menghilang.
Kampanye pemerintah selama beberapa tahun terakhir untuk mendorong penggunaan bajak dan garu mulai membuahkan hasil. Manfaat ekonominya tidak dapat disangkal. Dengan menggunakan bajak dan garu, waktu dan tenaga dapat dihemat—keduanya sangat dibutuhkan agar tanaman padi memperoleh perawatan lebih lanjut yang diperlukan.
Akhir Pekan di Pegunungan
Beberapa bulan sebelumnya, segelintir orang Eropa yang tinggal di Palu terpaksa memilih antara terus tinggal di dataran yang panas seperti ketel atau melakukan perjalanan melelahkan menuju Koelawi, wilayah Toraja yang terletak di pegunungan di sebelah selatan.
Kini mereka dapat menghindari panas yang sering kali menyesakkan itu pada saat akhir pekan.
Sebuah jalan yang baik sepanjang 17 kilometer berkelok-kelok melewati banyak tikungan tajam menuju sebuah pasangrahan yang berada pada ketinggian 1.000 meter, dekat permukiman kecil Matantimali.
Dari tempat tersebut, sebagian besar dataran Palu dan sebagian Teluk Palu dapat terlihat.
Sebenarnya, sejak lama telah terdapat beberapa “baroega” di pegunungan, dibangun di tempat-tempat yang indah. Bangunan-bangunan sederhana tersebut digunakan sebagai tempat menginap dan dibuat dari kayu, bambu serta alang-alang.
Namun, bangunan itu sama sekali tidak memiliki kenyamanan.
Baroega (baruga) dengan pemandangan paling indah terletak di pegunungan timur di belakang Biromaroe (Biromaru), tempat kedudukan dinasti penguasa Kajeli kuno, yaitu para Raja Sigi-Dolo.
Setelah melakukan perjalanan melelahkan dengan menunggang kuda melewati pegunungan yang sangat terjal dan penduduknya tersebar jarang, ketika seseorang akhirnya mencapai baroega tersebut pada ketinggian 950 meter di atas permukaan laut, menikmati mandi air segar kemudian duduk merenung sambil memandang panorama luas yang terbentang di depan mata merupakan sebuah kenikmatan tersendiri.
Di antara massa pegunungan besar Pekawa di sebelah barat, Koelawi (Kulawi) di sebelah selatan, dan cabang-cabang pegunungan tinggi serta bergerigi dari Nokilalaki, yang tingginya lebih dari 3.000 meter, jauh di bawah tampak dataran Palu seperti sebuah mosaik kecil.
Mosaik itu terdiri atas sawah-sawah berwarna hijau muda, desa-desa hijau tua dan kebun-kebun kelapa, ladang-ladang kaktus berwarna kelabu, serta padang rumput cokelat kemerahan.
Semuanya dilintasi oleh garis-garis berkilauan berupa hamparan batu dari dasar sungai.
Ke arah utara terbentang Teluk Palu yang dalam. Pegunungan di sebelah barat berakhir di tanjung Donggala, sementara pegunungan timur berlanjut sepanjang bagian utara Celebes dan kemudian menghilang di kejauhan dalam kabut.
Di tempat Sungai Palu bermuara ke teluk, lingkaran cokelat air sungai yang kaya lumpur terlihat jelas di dalam air laut yang biru kehijauan.
Dalam keheningan penuh penghormatan, manusia memandang keindahan alam yang menakjubkan dari bagian kecil Insulinde ini dan merasakan betapa dahsyatnya karya penciptaan.
Ketika sejak sore hari bayangan besar pegunungan barat mulai menutupi dan menggelapkan dataran yang penuh warna, puncak-puncak di sebelah timur dan tanjung Donggala masih menyala diterangi sinar matahari terakhir.
Perlahan-lahan semuanya menghilang, hingga yang tersisa hanyalah garis-garis luar pegunungan yang tampak jelas di hadapan langit bertabur bintang, sementara laut berubah menjadi permukaan yang samar-samar berkilau dan kemudian lenyap ke dalam bayang-bayang malam.
Kehidupan di sekeliling perlahan menjadi hening.
Namun, jauh di sana, dari tanjung Donggala, pada interval yang teratur, seberkas cahaya terang menyapu kegelapan malam di atas laut yang dipenuhi terumbu karang.
Di sanalah mercusuar yang dibangun melalui prakarsa Barat menunjukkan jalan kepada para pelaut untuk melewati malam tropis yang penuh misteri. ***






