Jumat, 18 September 2026
Opini  

Belilah yang Rusak dari Mereka yang Distigmakan Rendah

Oleh: Muhd Nur Sangadji

DI ujung selatan jalan Setia Budi Kota Palu, anda akan bertemu dengan sekelompok Ibu-Ibu padagang buah. Mereka mengokupasi  trotoar untuk menjual mangga, pepaya, nenas dan sarikaya.

Letaknya persis di depan rumah warga dan di bawah pohon angsana yang rindang. Saya sudah terkagung-kagum pada pemilik rumah yang membolehkan para pedagang itu menganggu areal privasi mereka. Tentu tidak dibolehkan, tapi nampaknya pemkot juga membiarkannya.

Jumlah mereka memang tidak banyak. Sekitar empat lima keluarga saja. Mereka datang dari kaki gunung baagian barat kota Palu. Inilah komunitas yang  selama ini disebut orang gunung. Panggilan yang dalam terminologi lokal distigmakan rendah.

Dahulu mereka (umumnya kaum lelaki) turun dari gunung. Membawa hasil bumi terutama madu, dan atau hasil kreasi berupa parang dan sumpit untuk dijual.  Belakangan mereka datang (laki dan perempuan bahkan bersama bayi) dengan tangan kosong untuk mendapatkan kerja dan atau meminta-minta.

Kali ini, seolah ada kebangkitan kaum perempuannya.  Mereka sebahagiannya tersebar memikul pisang dan kacang kulit.

Dengan cucuran keringan oleh beban. Mereka   berkeliling kota menjajakan jualannya di jalan raya dan lorong-lorong. Sebahagian lagi, memilih menetap, termasuk yang di Jalan Setia Budi ini.

Bahan dagangan ini bukan hasil kebun meraka sendiri. Tapi, yang mereka beli di Pasar-pasar. Indikasi runtuhnya daya dukung ekologi bagi produksi pangan pegunungan dan hilangnya spirit bertani.

Sesunggunya kalau dicermati, inilah pilihan dari  kaum yang kalah oleh kompetisi ruang di pasar-pasar tradisional kita. Dahulu, tradisi pasar ini digelar dalam hitungan hari secara berjangka.

Ada pasar senin, kamis dan minggu. Ketika tradisi berubah. Pasar di gelar harian atau setiap hari,  maka ruang kosong, diambil alih oleh mereka yang terbiasa hadir saban hari. Untung saja, prosesnya berlangusung alamiah tanpa gesekan sosial yang memproduksi konflik.

Karena itu, penyelenggara pembangunan (baca, pemerintah) harus bijak mengelola fenomena ini secara progresif dan inovatif.

Sore itu, saya melintas di Jalan Setia Budi. Tiba-tiba muncul keinginan membeli pepaya rusak (busuk).  Penjualnya bilang pepayanya sudah rusak dan tidak dijul lagi. Dan, saya bilang, justru saya sedang mencari pepaya rusak.

Sesungguhnya, bisa dijadikan bibit atau menjadi  bahan untuk pukuk organik. Tapi, bukan itu niatan saya. Pepaya yang sudah tidak berharga ini, lalu ditetapkanlah harga separuh dari yang masih bagus.

Dan, ketika peristiwa ini saya ceritakan pada mahasiswa, hampir semuanya menolak. Saya memaklumi karena mahasiswa menggunakan otak untuk berpikir.  Tapi kalau mereka juga menggunakan hati untuk merenung, saya yakin, mereka sependapat.

Bahkan, tindakan ini akan menyelamatkan kita.  Karena, sayur yang rusak (berlubang karena dimakan hama) adalah indikasi tidak mengandung pestisida.   Maka, belilah yang rusak. Karena, kita juga sedang  belajar mengambil sedikit dari kerugian orang,  menjadi kerugian kita. Entahlah.

Belilah yang Rusak dari Mereka Orang yang Distigmakan Rendah

Oleh: Muhd Nur Sangadji

DI ujung selatan jalan Setia Budi Kota Palu, anda akan bertemu dengan sekelompok Ibu-Ibu padagang buah. Mereka mengokupasi  trotoar untuk menjual mangga, pepaya, nenas dan sarikaya.

Letaknya persis di depan rumah warga dan di bawah pohon angsana yang rindang. Saya sudah terkagung-kagum pada pemilik rumah yang membolehkan para pedagang itu menganggu areal privasi mereka. Tentu tidak dibolehkan, tapi nampaknya pemkot juga membiarkannya.

Jumlah mereka memang tidak banyak. Sekitar empat lima keluarga saja. Mereka datang dari kaki gunung baagian barat kota Palu. Inilah komunitas yang  selama ini disebut orang gunung. Panggilan yang dalam terminologi lokal distigmakan rendah.

Dahulu mereka (umumnya kaum lelaki) turun dari gunung. Membawa hasil bumi terutama madu, dan atau hasil kreasi berupa parang dan sumpit untuk dijual.  Belakangan mereka datang (laki dan perempuan bahkan bersama bayi) dengan tangan kosong untuk mendapatkan kerja dan atau meminta-minta.

Kali ini, seolah ada kebangkitan kaum perempuannya.  Mereka sebahagiannya tersebar memikul pisang dan kacang kulit.

Dengan cucuran keringan oleh beban. Mereka   berkeliling kota menjajakan jualannya di jalan raya dan lorong-lorong. Sebahagian lagi, memilih menetap, termasuk yang di jalan setia budi ini.

Bahan dagangan ini bukan hasil kebun meraka sendiri. Tapi, yang mereka beli di Pasar-pasar. Indikasi runtuhnya daya dukung ekologi bagi produksi pangan pegunungan dan hilangnya spirit bertani.

Sesunggunya kalau dicermati, inilah pilihan dari  kaum yang kalah oleh kompetisi ruang di pasar-pasar tradisional kita. Dahulu, tradisi pasar ini digelar dalam hitungan hari secara berjangka.

Ada pasar senin, kamis dan minggu. Ketika tradisi berubah. Pasar di gelar harian atau setiap hari,  maka ruang kosong, diambil alih oleh mereka yang terbiasa hadir saban hari. Untung saja, prosesnya berlangusung alamiah tanpa gesekan sosial yang memproduksi konflik.

Karena itu, penyelenggara pembangunan (baca, pemerintah) harus bijak mengelola fenomena ini secara progresif dan inovatif.

Sore itu, saya melintas di Jalan Setia Budi. Tiba-tiba muncul keinginan membeli pepaya rusak (busuk).  Penjualnya bilang pepayanya sudah rusak dan tidak dijul lagi. Dan, saya bilang, justru saya sedang mencari pepaya rusak.

Sesungguhnya, bisa dijadikan bibit atau menjadi  bahan untuk pukuk organik. Tapi, bukan itu niatan saya. Pepaya yang sudah tidak berharga ini, lalu ditetapkanlah harga separuh dari yang masih bagus.

Dan, ketika peristiwa ini saya ceritakan pada mahasiswa, hampir semuanya menolak. Saya memaklumi karena mahasiswa menggunakan otak untuk berpikir.  Tapi kalau mereka juga menggunakan hati untuk merenung, saya yakin, mereka sependapat.

Bahkan, tindakan ini akan menyelamatkan kita.  Karena, sayur yang rusak (berlubang karena dimakan hama) adalah indikasi tidak mengandung pestisida.   Maka, belilah yang rusak. Karena, kita juga sedang  belajar mengambil sedikit dari kerugian orang,  menjadi kerugian kita. Entahlah.

Email: mudrezas@yahoo.com/0811454282

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam