Sabtu, 29 Agustus 2026
Opini  

Belilah yang Rusak dari Mereka yang Distigmakan Rendah

Oleh: Muhd Nur Sangadji

DI ujung selatan jalan Setia Budi Kota Palu, anda akan bertemu dengan sekelompok Ibu-Ibu padagang buah. Mereka mengokupasi  trotoar untuk menjual mangga, pepaya, nenas dan sarikaya.

Letaknya persis di depan rumah warga dan di bawah pohon angsana yang rindang. Saya sudah terkagung-kagum pada pemilik rumah yang membolehkan para pedagang itu menganggu areal privasi mereka. Tentu tidak dibolehkan, tapi nampaknya pemkot juga membiarkannya.

Jumlah mereka memang tidak banyak. Sekitar empat lima keluarga saja. Mereka datang dari kaki gunung baagian barat kota Palu. Inilah komunitas yang  selama ini disebut orang gunung. Panggilan yang dalam terminologi lokal distigmakan rendah.

Dahulu mereka (umumnya kaum lelaki) turun dari gunung. Membawa hasil bumi terutama madu, dan atau hasil kreasi berupa parang dan sumpit untuk dijual.  Belakangan mereka datang (laki dan perempuan bahkan bersama bayi) dengan tangan kosong untuk mendapatkan kerja dan atau meminta-minta.

Kali ini, seolah ada kebangkitan kaum perempuannya.  Mereka sebahagiannya tersebar memikul pisang dan kacang kulit.

Dengan cucuran keringan oleh beban. Mereka   berkeliling kota menjajakan jualannya di jalan raya dan lorong-lorong. Sebahagian lagi, memilih menetap, termasuk yang di Jalan Setia Budi ini.

Bahan dagangan ini bukan hasil kebun meraka sendiri. Tapi, yang mereka beli di Pasar-pasar. Indikasi runtuhnya daya dukung ekologi bagi produksi pangan pegunungan dan hilangnya spirit bertani.

Sesunggunya kalau dicermati, inilah pilihan dari  kaum yang kalah oleh kompetisi ruang di pasar-pasar tradisional kita. Dahulu, tradisi pasar ini digelar dalam hitungan hari secara berjangka.

Ada pasar senin, kamis dan minggu. Ketika tradisi berubah. Pasar di gelar harian atau setiap hari,  maka ruang kosong, diambil alih oleh mereka yang terbiasa hadir saban hari. Untung saja, prosesnya berlangusung alamiah tanpa gesekan sosial yang memproduksi konflik.

Karena itu, penyelenggara pembangunan (baca, pemerintah) harus bijak mengelola fenomena ini secara progresif dan inovatif.

Sore itu, saya melintas di Jalan Setia Budi. Tiba-tiba muncul keinginan membeli pepaya rusak (busuk).  Penjualnya bilang pepayanya sudah rusak dan tidak dijul lagi. Dan, saya bilang, justru saya sedang mencari pepaya rusak.

Sesungguhnya, bisa dijadikan bibit atau menjadi  bahan untuk pukuk organik. Tapi, bukan itu niatan saya. Pepaya yang sudah tidak berharga ini, lalu ditetapkanlah harga separuh dari yang masih bagus.

Dan, ketika peristiwa ini saya ceritakan pada mahasiswa, hampir semuanya menolak. Saya memaklumi karena mahasiswa menggunakan otak untuk berpikir.  Tapi kalau mereka juga menggunakan hati untuk merenung, saya yakin, mereka sependapat.

Bahkan, tindakan ini akan menyelamatkan kita.  Karena, sayur yang rusak (berlubang karena dimakan hama) adalah indikasi tidak mengandung pestisida.   Maka, belilah yang rusak. Karena, kita juga sedang  belajar mengambil sedikit dari kerugian orang,  menjadi kerugian kita. Entahlah.

Belilah yang Rusak dari Mereka Orang yang Distigmakan Rendah

Oleh: Muhd Nur Sangadji

DI ujung selatan jalan Setia Budi Kota Palu, anda akan bertemu dengan sekelompok Ibu-Ibu padagang buah. Mereka mengokupasi  trotoar untuk menjual mangga, pepaya, nenas dan sarikaya.

Letaknya persis di depan rumah warga dan di bawah pohon angsana yang rindang. Saya sudah terkagung-kagum pada pemilik rumah yang membolehkan para pedagang itu menganggu areal privasi mereka. Tentu tidak dibolehkan, tapi nampaknya pemkot juga membiarkannya.

Jumlah mereka memang tidak banyak. Sekitar empat lima keluarga saja. Mereka datang dari kaki gunung baagian barat kota Palu. Inilah komunitas yang  selama ini disebut orang gunung. Panggilan yang dalam terminologi lokal distigmakan rendah.

Dahulu mereka (umumnya kaum lelaki) turun dari gunung. Membawa hasil bumi terutama madu, dan atau hasil kreasi berupa parang dan sumpit untuk dijual.  Belakangan mereka datang (laki dan perempuan bahkan bersama bayi) dengan tangan kosong untuk mendapatkan kerja dan atau meminta-minta.

Kali ini, seolah ada kebangkitan kaum perempuannya.  Mereka sebahagiannya tersebar memikul pisang dan kacang kulit.

Dengan cucuran keringan oleh beban. Mereka   berkeliling kota menjajakan jualannya di jalan raya dan lorong-lorong. Sebahagian lagi, memilih menetap, termasuk yang di jalan setia budi ini.

Bahan dagangan ini bukan hasil kebun meraka sendiri. Tapi, yang mereka beli di Pasar-pasar. Indikasi runtuhnya daya dukung ekologi bagi produksi pangan pegunungan dan hilangnya spirit bertani.

Sesunggunya kalau dicermati, inilah pilihan dari  kaum yang kalah oleh kompetisi ruang di pasar-pasar tradisional kita. Dahulu, tradisi pasar ini digelar dalam hitungan hari secara berjangka.

Ada pasar senin, kamis dan minggu. Ketika tradisi berubah. Pasar di gelar harian atau setiap hari,  maka ruang kosong, diambil alih oleh mereka yang terbiasa hadir saban hari. Untung saja, prosesnya berlangusung alamiah tanpa gesekan sosial yang memproduksi konflik.

Karena itu, penyelenggara pembangunan (baca, pemerintah) harus bijak mengelola fenomena ini secara progresif dan inovatif.

Sore itu, saya melintas di Jalan Setia Budi. Tiba-tiba muncul keinginan membeli pepaya rusak (busuk).  Penjualnya bilang pepayanya sudah rusak dan tidak dijul lagi. Dan, saya bilang, justru saya sedang mencari pepaya rusak.

Sesungguhnya, bisa dijadikan bibit atau menjadi  bahan untuk pukuk organik. Tapi, bukan itu niatan saya. Pepaya yang sudah tidak berharga ini, lalu ditetapkanlah harga separuh dari yang masih bagus.

Dan, ketika peristiwa ini saya ceritakan pada mahasiswa, hampir semuanya menolak. Saya memaklumi karena mahasiswa menggunakan otak untuk berpikir.  Tapi kalau mereka juga menggunakan hati untuk merenung, saya yakin, mereka sependapat.

Bahkan, tindakan ini akan menyelamatkan kita.  Karena, sayur yang rusak (berlubang karena dimakan hama) adalah indikasi tidak mengandung pestisida.   Maka, belilah yang rusak. Karena, kita juga sedang  belajar mengambil sedikit dari kerugian orang,  menjadi kerugian kita. Entahlah.

Email: mudrezas@yahoo.com/0811454282

Studi Kasus Mahjong Ways Menunjukkan Perubahan Cara Pemain Membaca Susunan Simbol Akibat Baris Tambahan
Sering Terjadi Kesalahpahaman Bahwa Transformasi Simbol Emas Mahjong Ways Menandakan Hasil Putaran Berikutnya
Perbandingan Tampilan Antara Mahjong Ways Dan Sekuelnya Dalam Menyajikan Informasi Fitur Di Layar Seluler Modern
Direkapitulasi Perjalanan Mahjong Ways Dari Tema Tradisional Menuju Industri Game Digital Modern
Tanpa Mencampurkan Dengan Peran Wild, Fungsi Scatter Mahjong Ways Dapat Dikenali Dalam Susunan Kemenangan
Penyelaman Mengungkap Perubahan Dan Makna Baru Dunia Baccarat Di Era Digital
Media Gaming Mengungkap Perjalanan Mahjong Ways 2 Dalam Menghadapi Perubahan Tren Industri Hiburan Digital
Baccarat Ditampilkan Dalam Catatan Perubahan Platform Media Gaming Masa Kini Yang Mengubah Cara Bermain
Pergeseran Media Modern Menjadikan Wacana Kasino Online Sebagai Sorotan Baru Masyarakat
Perubahan Gaya Platform Membawa Bakarat Digital Menjadi Sorotan Baru Dalam Percakapan Modern
Perkembangan Komunitas Mahjong Ways Digital Dorong Kebangkitan Popularitas di Indonesia
Tren Mahjong Ways Mobile Gaming Terbaru Hadirkan Kebangkitan Jadi Sorotan Utama
Kenapa Mahjong Ways Tetap Viral? Alasan Ini Bikin Kaget!
Fenomena Game Bertema Oriental Bangkit Kembali, Mahjong Ways Jadi Sorotan Utama
Strategi Mahjong Ways Tetap Digemari Di Tengah Persaingan Game Online Diungkap Media Digital
Transformasi Industri Mahjong Ways Digital Perjalanan Panjang Menuju Inovasi
Kebangkitan Platform Game Mahjong Ways dalam Era Perkembangan Digital
Meski Zaman Berubah, Mahjong Ways Tetap Favorit! Ini Rahasianya
Mahjong Ways Masih Jadi Perbincangan Hangat! Komunitas Gaming Ungkap Alasannya
Evolusi Mahjong Ways Dari Masa Ke Masa Yang Bikin Penasaran Diungkap Laporan Industri
Mahjong Ways Tetap Eksis! Ini Rahasia Bertahan di Tengah Persaingan Industri Game Ketat
Identitas Visual Mahjong Ways Bikin Penggemar Terpikat! Media Online Soroti Konsistensinya
Tren Digital Menggairahkan Lagi! Game Penghasil Uang Cepat Jadi Sorotan Publik
Kenapa Game Penghasil Uang Cepat Menarik Minat Pemain Indonesia? Ini Alasannya!
Benarkah Game Penghasil Uang Cepat Makin Diminati? Faktanya Mengejutkan!
Majestic Treasures Menarik Perhatian Komunitas Game Digital Lewat Pesona Khas dan Ragam Strategi Menarik
Mahjong Ways 2 Ramai Dibahas Lagi! Ini Dampak Besar pada Industri Game Digital Indonesia
Mahjongways Kasino Online Viral di Komunitas Game dan Mulai Disebut sebagai Sumber Penghasilan Baru
Mahjong Ways Kembali Jadi Sorotan! Penggemar Game Penghasil Uang di Indonesia Serbu
Game Penghasil Uang Mulai Dilirik Media Game Mobile di Tengah Pergeseran Tren Global