Sabtu, 8 Agustus 2026

Love from China Volunteer, Pelajaran Kemanusiaan dari Tiongkok

BD22B486-8314-453D-B65D-2BDBA32006C2

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Frasa ini akrab bagi sebagian besar orang Indonesia. 

Begitu kalimat awal yang ditulis sahabat saya dari Tiongkok melalui pesan Whatsapp. Dia mengabari telah mengirimkan uang sebesar Rp20 juta kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada 30 Maret 2020 lalu.

Nama sahabat saya itu; Pippa Li. Dia relawan kemanusiaan. Bergerak sendiri. Dia seperti Lone Ranger. Sebentar-sebentar dia ada di Malaysia, Myanmar. Ia bahkan pernah bekerja di Palu, Sulawesi Tengah saat gempabumi, tsunami dan likuifaksi meluluhlantakan kota itu.

Kata Li uang yang tak seberapa itu diniatkannya untuk membantu PBNU melawan pandemi virus korona baru atau Covid-19. Ia tahu belaka bahwa NU adalah organisasi masyarakat dengan banyak pengikut. Saat berjalan ke Jawa Timur beberapa waktu lalu, ia juga menyambangi para sesepuh NU di sana. 

Selain mengirimkan sumbangan, ia juga menulis sebuah surat kepada PBNU. Adalah Rais Am,  K.H. Syarifudin Abdul Ghani yang menjadi tujuan surat itu. 

Surat itu seperti menyitir pepatah tua Tiongkok: Membalas kebaikan dengan kebaikan yang berkali lipat.

Li menulis bahwa saat Tiongkok mengalami musibah mewabahnya Covid-19, Pemerintah dan masyarakat Indonesia turut memberikan bantuan dan dukungan kepada negara mereka melewati keadaan itu.

Setelah pecahnya wabah Covid -19 di Tiongkok, Pemerintah Indonesia, asosiasi dan para relawan telah mengulurkan tangan mereka untuk membantu Tiongkok mengatasi kesulitan. 

Awalnya, Li dihubungi Handoko, seorang penulis lepas keturunan Tiongkok di Indonesia. Ia mengatakan bahwa pandemi Covid-19 juga telah mendatangi Indonesia. Maka ada baiknya, Li menghubungi sejumlah asosiasi maupun relawan yang dulu membantunya mendatangkan bantuan kepada korban gempabumi dan tsunami di Sirenja, Pantai Barat Donggala. 

Akhirnya, gayung pun bersambut. Li akhirnya dapat mengirimkan bantuan meski cuma berupa uang ke PBNU yang dianggapnya mewakili masyarakat Indonesia. 

Soal kebiasaannya ‘memotong kompas’ ini, kata Li pada saya di Palu dua bulan pasca bencana di paruh November 2018; Itu agar bantuannya bisa langsung sampai. 

Begitu pula saat ia menginisiasi membawa langsung bantuan pangan, tenda darurat dan membangun sekolah tenda Mohammad Cheng Ho di Sirenja, Donggala.

“Ketika saya melihat penderitaan, saya akan berusaha membantunya, bahkan jika saya hanya melakukan satu hal kecil,” kata Li.

Dia bilang,  “Semua orang di dunia dapat membantu orang lain dengan memulai dari hal-hal kecil. Bila semuanya bergerak bersama, maka dampaknya akan menjadi besar.”

Li menamai gerakan sosialnya sebagai Love from China Volunteer. Ia tak sendiri. Ia dibantu Liang Fangfang, seorang pengusaha Tiongkok yang menjual peralatan komputer di Jakarta. Ada pula Lusianna Xie, seorang Tionghoa lokal Indonesia dan juga Handoko, penulis lepas keturunan Tiongkok. 

Li dan kawan-kawannya melihat Dunia yang luas ini sebagai sebuah ‘Pulau’ di mana orang tinggal bersama. Lalu saat datang wabah itu, semua orang harus bersatu, saling mendukung dan membantu untuk melawannya. Itu agar semua orang dapat kembali hidup di pulau itu dengan nyaman dan aman. ***

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital