Sabtu, 8 Agustus 2026
Daerah  

205 Pelajar Menghadap BNN, Mereka Minta Direhabilitasi

SURABAYA, PE – Makin banyaknya kalangan pelajar yang memakai narkoba membuat Badan Narkotika Nasional (BNN) mengambil langkah strategis.

Berdasar data BNN Kota Surabaya, sudah ada 205 pelajar yang direhabilitasi karena pernah mengonsumsi narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya.

Menurut hasil pemeriksaan BNNK, rata-rata pelajar mengenal narkoba karena diajak temannya. Barang-barang terlarang itu masuk lewat satu orang. Yang paling gampang dijadikan pengguna adalah pelajar SMP.

“Perkenalannya lewat pil dobel L lebih dulu. Barang itu mudah didapat,” kata Kepala BNNK Surabaya AKBP Suparti.

Dia melanjutkan, biasanya para pengedar berhubungan dengan satu pelajar.

Pendekatannya bermacam-macam. Ada yang memberi secara gratis, ada pula yang menjadikan pelajar tersebut teman dekat.

Bahkan, lembaga antimadat itu pernah menemukan pelajar yang dipacari seorang pengedar.

Dari satu orang itulah, narkoba kemudian disebar ke lingkungan sekolah.

Mereka biasa mengonsumsinya di sekolah setelah jam belajar atau di warung-warung dekat sekolah.

Nah, ketika sudah sekali mencoba, mereka kembali mengonsumsi barang haram tersebut.

Rasa penasaran dan ikatan persahabatan menjadi alasan yang membuat para pelajar terjerumus narkoba.

“Kalau tidak terkontrol, mereka bisa terus ingin yang lain. Setelah lulus SMP, mereka berani mencicipi sabu-sabu saat SMA,” imbuh mantan Kasubbaghumas Polrestabes Surabaya itu.

Umumnya, para pelajar yang ditangani BNNK diantar gurunya.

Artinya, sekolah sebenarnya cukup tanggap untuk menangani anak didik yang mengonsumsi narkoba.

Mereka cepat merespons saat menerima laporan siswa yang mengetahui bahwa temannya menjajal barang haram tersebut. BNNK juga sering menerima laporan dari siswa itu sendiri.

Mereka mengungkapkan bahwa di sekolah ada orang yang mencoba menjual narkoba. Mereka juga mengetahui pembelinya.

“Kesadaran pelajar ini sangat membantu kami. Mereka bisa memberikan informasi yang langsung kami tindak lanjuti,” ujar Suparti.

Mayoritas siswa yang didekati para pengedar memiliki kehidupan yang sedikit berantakan.

Mulai orang tua yang bercerai, ditinggal orang tua bekerja ke luar negeri, hingga terbiasa meminum miras.

“Pengedar selalu tahu cara untuk menghasut. Mereka sudah mengorek informasi tentang latar belakang pelajar itu,” jelas polisi asal Surabaya tersebut.

(Fajar/PE)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital