Sabtu, 29 Agustus 2026
Agama  

Shiyam, Jujur dan Kendali Diri

Oleh: Amin Parakkasi, S.Ag., M.H.I

(Sekretaris PW Muhammadiyah Sulteng)

PALU EKSPRES, PALU – Saat ini kita berada dalam bulan Ramadan, yang oleh sebagian besar umat Islam menyambutnya dengan berbagai cara. Pertanyaan besar yang perlu dijawab, adalah sudahkah umat ini menyambut Ramadan dengan tepat, atau hanya sekadar mengagungkannya sebagai bulan yang penuh berkah, bulan ampunan, tetapi tidak maksimal dalam menggali maknanya.

Jika dimaknai secara bahasa, Ramadan berarti “membakar” atau “mengasah”. Ia dinamai demikian, karena pada bulan Ramadan dosa-dosa manusia pupus, habis terbakar. Manusia manakah yang dibakar dosanya? Tentu tidak terjadi secara otomatis. Untuk menggapainya, diperlukan kesadaran dan amal saleh.

Bulan Ramadan harus dijadikan sebagai tanah yang subur, yang siap ditaburi benih-benih kebajikan. Semua orang beriman dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya. Bagi yang lalai, tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna.

Sebagaimana masyhur diketahui, bahwa ibadah utama yang diwajibkan dalam bulan Ramadan, adalah Shiyam (puasa). Shiyam dalam bahasa Alquran berarti “menahan diri”. Alquran ketika menetapkan kewajiban puasa, tidak menegaskan bahwa kewajiban tersebut datang dari Allah, tetapi reaksi yang digunakan dalam bentuk pasif “kutiba (diwajibkan) atas kamu shiyam…. (QS. 2: 183).

Prof. Quraish Shihab menyebutkan “agaknya redaksi tersebut sengaja dipilih, untuk mengisyaratkan bahwa puasa tidak harus merupakan kewajiban yang dibebankan oleh Allah SWT, tetapi manusia itu sendiri akan mewajibkannya atas dirinya, pada saat ia menyadari betapa banyak manfaat di balik shiyam itu.” (Lentera Hati: 1994).

Shiyam adalah ibadah kejujuran sekaligus melatih diri untuk jujur. Orang yang tidak jujur akan kesulitan melaksanakan ibadah puasa, karena puasa merupakan ibadah yang bersifat individual.

Dalam keseharian kita susah membedakan orang puasa dan tidak puasa. Mungkin yang kelihatannya dua orang sama-sama tidak makan dam minum pada siang hari, satu di antaranya tidak berpuasa, tetapi kita kesulitan mengetahui siapa yang berpuasa dan siapa yang tidak. Lain halnya ibadah lain, yang bisa diukur secara langsung, misalnya orang salat berjamaah di Masjid, pasti diketahui oleh orang lain. Begitupun mengeluarkan zakat pasti ada yang menerima, dan ibadah-ibadah lainnya.

Melakukan puasa benar-benar dibutuhkan kejujuran. Bahkan pada umumnya orang yang berpuasa otomatis akan berlaku jujur, terutama makan dan minum. Orang yang berpuasa tidak akan diam-diam makan atau minum kemudian mengaku sedang berpuasa.

Pertanyaannya sekarang, adalah benarkah orang yang berpuasa itu benar-benar telah berlaku jujur? Perlu dilakukan evaluasi secara internal masing-masing individu, yang tentunya evaluasinya dengan jujur pula. Sudahkah para pedagang yang berpuasa berlaku jujur dalam takarannya?

Sudahkah para pengelola proyek yang berpuasa berlaku jujur dalam pekerjaannya? Sudahkah para pejabat yang berpuasa berlaku jujur dalam kebijakannya?

Apakah para politikus yang berpuasa sudah berbicara dengan jujur? Apakah para penegak hukum yang berpuasa sudah bertindak dengan jujur? Jawaban semua itu kembali pada diri masing-masing. Kebiasaan jujur tersebut, kiranya dapat dilestarikan setelah Ramadan, dengan penuh harap bisa mencapai derajat muttaqin (orang-orang yang bertakwa).

Shiyam adalah ibadah pengendalian diri. Puasa lebih bermakna jika kendali diri dapat dikuasai. Betapa kebiasaan dan kebutuhan makan dan minum pada siang hari mampu kita kendalikan dengan meninggalkannya, sebagai wujud ketaatan bahwa untuk sementara itu tidak boleh dilakukan karena sedang berpuasa.

Mampu menghindari rafats (perbuatan maksiat) pada siang hari, karena adanya keyakinan bahwa itu pelanggaran. Kebiasaan merokok mampu ditinggalkan karena ada larangan.
Semua kebiasaan tersebut mampu kita kendalikan dan tinggalkan, walaupun itu pada awalnya dibolehkan, bahkan menjadi kebutuhan. Ini tentu dilakukan, karena kekuatan shiyam. Tetapi apakah orang yang berpuasa benar-benar sudah mengendalikan diri dalam segala hal?

Sebaiknya kita perlu merenung lagi.
Semestinya orang yang berpuasa mampu meninggalkan perkara-perkara yang makruh apalagi haram. Mari kita bertekad untuk berusaha tidak melakukan perbuatan sia-sia, terlebih lagi perbuatan yang dilarang.

Kenapa tidak? Yang halal saja mampu kita tinggalkan dengan penuh ketaatan karena adanya larangan sementara waktu, maka logikanya lebih-lebih pada persoalan yang makruh dan haram, mestinya lebih mampu kita hindari. Sebagaimana istilah dari Zainuddin MZ “Intinya adalah pengendalian diri.”

Pengendalian diri akan mengantarkan manusia pada kebebasan dari belenggu “kebiasaan buruk” yang tentu saja menghambat dalam melakukan kebaikan. Apakah kita sudah melakukan ibadah shiyam dengan sungguh-sungguh? Atau hanya sekadar mendapatkan lapar dan dahaga saja tanpa nilai? Yang tahu hanya pelaku sendiri dan Allah SWT. Kita berharap puasa kita tidak sia-sia. Aamiin.

(***)

Studi Kasus Mahjong Ways Menunjukkan Perubahan Cara Pemain Membaca Susunan Simbol Akibat Baris Tambahan
Sering Terjadi Kesalahpahaman Bahwa Transformasi Simbol Emas Mahjong Ways Menandakan Hasil Putaran Berikutnya
Perbandingan Tampilan Antara Mahjong Ways Dan Sekuelnya Dalam Menyajikan Informasi Fitur Di Layar Seluler Modern
Direkapitulasi Perjalanan Mahjong Ways Dari Tema Tradisional Menuju Industri Game Digital Modern
Tanpa Mencampurkan Dengan Peran Wild, Fungsi Scatter Mahjong Ways Dapat Dikenali Dalam Susunan Kemenangan
Penyelaman Mengungkap Perubahan Dan Makna Baru Dunia Baccarat Di Era Digital
Media Gaming Mengungkap Perjalanan Mahjong Ways 2 Dalam Menghadapi Perubahan Tren Industri Hiburan Digital
Baccarat Ditampilkan Dalam Catatan Perubahan Platform Media Gaming Masa Kini Yang Mengubah Cara Bermain
Pergeseran Media Modern Menjadikan Wacana Kasino Online Sebagai Sorotan Baru Masyarakat
Perubahan Gaya Platform Membawa Bakarat Digital Menjadi Sorotan Baru Dalam Percakapan Modern
Perkembangan Komunitas Mahjong Ways Digital Dorong Kebangkitan Popularitas di Indonesia
Tren Mahjong Ways Mobile Gaming Terbaru Hadirkan Kebangkitan Jadi Sorotan Utama
Kenapa Mahjong Ways Tetap Viral? Alasan Ini Bikin Kaget!
Fenomena Game Bertema Oriental Bangkit Kembali, Mahjong Ways Jadi Sorotan Utama
Strategi Mahjong Ways Tetap Digemari Di Tengah Persaingan Game Online Diungkap Media Digital
Transformasi Industri Mahjong Ways Digital Perjalanan Panjang Menuju Inovasi
Kebangkitan Platform Game Mahjong Ways dalam Era Perkembangan Digital
Meski Zaman Berubah, Mahjong Ways Tetap Favorit! Ini Rahasianya
Mahjong Ways Masih Jadi Perbincangan Hangat! Komunitas Gaming Ungkap Alasannya
Evolusi Mahjong Ways Dari Masa Ke Masa Yang Bikin Penasaran Diungkap Laporan Industri
Mahjong Ways Tetap Eksis! Ini Rahasia Bertahan di Tengah Persaingan Industri Game Ketat
Identitas Visual Mahjong Ways Bikin Penggemar Terpikat! Media Online Soroti Konsistensinya
Tren Digital Menggairahkan Lagi! Game Penghasil Uang Cepat Jadi Sorotan Publik
Kenapa Game Penghasil Uang Cepat Menarik Minat Pemain Indonesia? Ini Alasannya!
Benarkah Game Penghasil Uang Cepat Makin Diminati? Faktanya Mengejutkan!
Majestic Treasures Menarik Perhatian Komunitas Game Digital Lewat Pesona Khas dan Ragam Strategi Menarik
Mahjong Ways 2 Ramai Dibahas Lagi! Ini Dampak Besar pada Industri Game Digital Indonesia
Mahjongways Kasino Online Viral di Komunitas Game dan Mulai Disebut sebagai Sumber Penghasilan Baru
Mahjong Ways Kembali Jadi Sorotan! Penggemar Game Penghasil Uang di Indonesia Serbu
Game Penghasil Uang Mulai Dilirik Media Game Mobile di Tengah Pergeseran Tren Global