MALANG, PALUEKSPRES.COM — Lima puluh tahun lalu, tepat pada 8 September 1976, sebuah babak kecil namun penting dalam sejarah kehidupan rohani di Indonesia dimulai di Ngroto, Malang, Jawa Timur.
Pada hari itu, Romo Yohanes bersama Romo Cyprianus Verbeek O.Carm mengawali cara hidup sebagai pertapa. Keduanya memilih sebuah rumah di Ngroto sebagai tempat untuk menjalani kehidupan yang lebih sunyi, sederhana, dan berfokus pada doa serta kehidupan spiritual.
Peristiwa tersebut mungkin tidak tercatat sebagai peristiwa politik besar pada masa itu. Namun, keputusan dua rohaniwan itu kelak menjadi bagian dari sejarah lahirnya sebuah komunitas spiritual yang berkembang di wilayah Malang.
Menurut catatan sejarah Pertapaan Karmel, kehidupan pertapaan tersebut tidak berlangsung berdua untuk waktu yang panjang. Seiring perjalanan waktu, Romo Yohanes kemudian melanjutkan kehidupan pertapaan seorang diri.
Tiga tahun kemudian, pada 8 Desember 1979, Romo Yohanes berpindah dari Ngroto ke Ngadireso, Tumpang, Malang. Perpindahan itu kemudian dikenang sebagai awal sejarah Pertapaan Karmel Ngadireso Tumpang. (HIDUPKATOLIK.com)
Perjalanan tersebut tidak berhenti pada kehidupan pertapaan. Pada 19 Maret 1982, Romo Yohanes mendirikan Kongregasi Putri Karmel. Empat tahun kemudian, pada 20 Juli 1986, lahir Kongregasi Carmelitae Sancti Eliae (CSE). (HIDUPKATOLIK.com)
Dengan demikian, tanggal 8 September 1976 dapat dilihat sebagai salah satu titik awal dari rangkaian perjalanan panjang yang kemudian melahirkan komunitas-komunitas religius tersebut.
Di tengah Indonesia yang sedang berubah
Ketika dua rohaniwan itu memulai kehidupan pertapaan, Indonesia berada di bawah pemerintahan Presiden Soeharto. Negara sedang memasuki fase pembangunan ekonomi dan konsolidasi pemerintahan Orde Baru.
Pada saat yang sama, berbagai persoalan politik dan keamanan masih mewarnai kawasan Asia Tenggara. Arsip surat kabar Berita Harian edisi 8 September 1976, misalnya, mencatat perkembangan situasi Timor Timur, termasuk laporan mengenai pemulangan warga Portugis dari wilayah tersebut. (E-Resources)
Di tingkat dunia, tanggal yang sama juga menjadi hari bersejarah karena pemimpin Republik Rakyat China, Mao Zedong, meninggal dunia pada 8 September 1976. (Indonesiana)
Karena itu, 8 September 1976 bukan hanya sebuah tanggal dalam kalender. Ia berada di tengah sebuah periode ketika dunia sedang mengalami perubahan besar—sementara di sebuah sudut Malang, dua rohaniwan memilih jalan yang jauh lebih sunyi: kehidupan sebagai pertapa.
Dari sebuah rumah di Ngroto
Lima puluh tahun kemudian, keputusan yang tampak sederhana itu memperoleh makna historis tersendiri.
Sejarah sering kali tidak selalu dimulai dengan upacara besar, keputusan kenegaraan, atau peristiwa yang menjadi berita utama surat kabar. Ada kalanya sebuah perjalanan panjang justru dimulai dari sebuah keputusan yang sederhana dan nyaris tidak terdengar.
Di Ngroto pada 8 September 1976, dua orang memilih untuk hidup dalam kesunyian.
Dari tempat dan pilihan hidup tersebut, kemudian tumbuh perjalanan spiritual yang melahirkan komunitas, lembaga, dan tradisi yang terus hidup hingga kini.
Hari ini, tepat 50 tahun kemudian, 8 September 1976 dikenang bukan sebagai hari ketika sejarah nasional berubah secara dramatis, melainkan sebagai salah satu tanggal kecil yang menjadi titik awal sebuah perjalanan besar dalam sejarah kehidupan rohani di Indonesia.






