PALU EKSPRES, PALU – Memasuki tiga bulan usai bencana di Palu, Sigi dan Donggala, onggokan bangunan sejumlah hotel rusak belum juga dirobohkan. Situasi ini memicu kekawatiran warga yang bermukim di sekitarnya.
Sebut saja hotel Mercure di jalan Cumi-Cumi. Hotel Best Western, Jalan Basuki Rahmat. Mall Tatura Palu dan Hotel The Sya di Jalan Sisingamangaraja. Hingga kini seluruhnya belum dirobohkan.
Salahsatu yang yang dkhawatirkan warga adalah hotel The Sya Palu. Hotel berbintang ini nyaris roboh akibat gempa. Onggokan bangunan hotel berlantai enam itu kini miring. Masih berdiri namun terlihat miring. Seluruh sisi bangunan retak. Di sisi lain terlihat beton-beton berukuran kecil menggelantung hanya terkait besi.
Pantauan Palu Ekspres, Ahad 9 Desember 2018, pihak hotel baru mulai terlihat membersihkan puing, namun dilakukan secara manual. Beberapa orang tukang terlihat meruntuhkan beton – beton dari lantai paling atas. Pembongkaran dilakukan menggunakan martil. Sisa sisa beton dari ketingian kadang berjatuhan menimpa rumah warga sekitar. Persisnya rumah-rumah warga sebelah Utara.
Rumah warga di sisi utara Hotel The Sya memang terdampak paling parah. Karena hanya bersebelahan dinding. Sewaktu terjadi gempa, runtuhan beton menimpa dan merusak bagian dapur rumah warga.
Dalam proses pembongkaran yang kini tengah dilakukan. Rumah warga kembali tertimpa beton. Ada sekitar lima rumah warga di sisi utara.
Kepada Palu Ekspres, Eka, salahsatu pemilik rumah di sisi utara mengaku ketakutan dengan pembongkaran yang sedang berjalan. Karena rumahnya kembali harus menanggung risiko tertimpa runtuhan beton.
Kondisi itu kata Eka sangat mengancam keselamatan jiwa warga sekitar. Pria ini menyebut, dapur rumah sebelumnya telah rusak tertimpa beton ketika gempa terjadi. Dia dan kedua orangtuanya terpaksa meninggalkan rumah. Dan sementara menyewa kost tak jauh dari rumahnya.
Menurut dia, sebenarnya rumah miliknya masih bisa ditempati meskipun bagian dapurnya telah rusak. Tetapi karena pembongkaran hotel, dia dan keluarga terpaksa harus tetap menyewa kos.
“Ini mengancam jiwa, bukan hanya kami yang rumahnya bersebelahan dinding. Tapi warga yang rumahnya mengelilingi bangunan hotel,”sebut Eka, Ahad 9 Desember 2018.
Pihaknya aku Eka ingin mencari solusi terbaik bagi kedua belah pihak. Tapi sejauh ini belum ada komunikasi dengan pihak managemen hotel.
Manager The Sya Hotel Palu, Alain Jhon yang dikonfirmasi melalui aplikasi whatsapp, sebaliknya menyebut prihal pembongkaran bangunan hotel itu bukan bagian dari kewenangannya. “Saat ini saya tidak bisa memberikan klarifikasi pak. Karena kami hanya menjalankan operasional hotel. Karena secara teknis diluar dari tugas kami,”tulis Alain menjawab konfirmasi Palu Ekspres.
Namun begitu kata dia, proses pembongkaran gedung hotel itu sebenarnya dilakukan, juga sebagai upaya meminimalisir kemungkinan adanya risiko yang membahayakan warga sekitar. “Proses pembongkaran tujuannya lebih kepada meminimalisir kemungkinan resiko terjadi apabila tidak dilakukan pembongkaran. Jadi mohon maaf kalau saya tidak bisa menjelaskan lebih detail pak. Karena ini masalah konstruksi,”jawab Alain, melalui pesan watsapp.
(mdi/palu ekspres)






