Selasa, 29 September 2026
Daerah  

Kisah Para Nelayan Pandeglang yang Selamat dari Tsunami

Terjangan tsunami di Selat Sunda diterima dari tempat yang begitu dekat oleh para nelayan. Di tengah laut, mereka harus berhadapan dengan gelombang dengan tinggi sekitar 30 meter. Itu pun tidak terjadi satu kali. Berikut kisah para nelayan pemberani tersebut.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID , Pandeglang

KAPAL Baru Jaya masih sandar di dermaga kecil di Kampung Sidamukti, Kecamatan Sukaresmi, Pandeglang. Berimpitan dengan kapal-kapal lain di bawah guyuran hujan pagi kemarin (24/12/2018).

Kapal dengan berat 4 tonase itu ibaratnya baru lepas dari maut setelah berjuang keras menaklukkan tsunami di Selat Sunda pada Sabtu malam (22/12/2018).

Tangkapan seberat 4 kuintal ikan berbagai jenis – mulai layur, banyar, hingga barakuda- pun belum dibongkar. Terbungkus rapi dalam kotak serat besar dengan plastik. Bau ikan yang amis bahkan tercium sesekali berseliweran keluar masuk hidung.

Rasyim, 28, pemilik kapal nakhoda Baru Jaya itu tampak masih syok . Dia beruntung. Sungguh beruntung jika bisa dibilang. Mampu menerjang ombak tsunami karena aktivitas Gunung Sertung, sebutan nelayan Sidamukti untuk Gunung Anak Krakatau. “Seribu satu lah, bisa selamat itu. Saya juga masih tidak percaya,” ujar Rasyim yang ditemui di dekat dermaga.

Rasyim berangkat melaut bersama empat nelayan lain di kapal Baru Jaya. Yakni, Heri, Herman, Topan, dan Oki. Dia hanya hafal panggilan anak buahnya yang biasa diajak mencari ikan. Mereka melaut sejak Kamis (20/12/2018). Hanya sekali melaut mereka bisa sampai empat atau lima hari berturut-turut dengan perbekalan yang cukup. Mereka pun tidak perlu bolak-balik ke rumah. “Melaut di Ujung Kulon. Empat jam perjalanan dari sini,” ujar Rasyim.

Kamis hingga Sabtu sore itu mereka harus pindah. Cuaca cukup bersahabat. Bulan pun terang. Meskipun terkadang hujan agak lebat.

Sabtu sekitar pukul 17.30, kapal Baru Jaya mulai menebar jaring lagi. Menyisir lokasi yang diperkirakan ada kerumunan ikan. “Hari-hari seperti ini yang sedang musim banyak ikan. Dapat 2 kuintal udah bagus. Ini bisa 4 kuintal,” tutur dia.

Tebar jaring itu baru selesai sekitar pukul 20.30. Sementara rekan-rekannya di lima kapal berbeda sudah menepi ke dekat pantai. Memang perahu bisa bersandar dengan berkelompok, bisa lima atau enam perahu. Itu dilakukan untuk menghindari ombak besar saat malam.

Baru selesai menebar dan bergabung dengan rekan-rekannya, Rasyim mendengar suara bergemuruh. Seperti suara kapal besar yang datang. Tapi, kelihatan bak kabut putih dari kejauhan. Dengan berbekal senter laser merah, dia menemukan apa gerangan yang datang tiba-tiba itu. Dia pun menembakkan sinar laser ke arah datangnya suara tersebut. “Kalau (sinar laser) mantul itu kapal. Kalau tembus itu udara,” kata Rasyim. Dia terlihat masih ingat betul detail malam mencekam tersebut. Benar Sinar laser itu tembus.

Rasyim sebagai nakhoda yang dilakukan hampir 15 tahun melaut itu sangat tahu apa yang harus dilakukan. Tapi ini bukan ombak biasa. Ini ombak yang sangat tinggi. “Dari jauh tinggi sekali. Sudah ada yang pecah, tapi masih ada yang bergulung-gulung,” ujar dia.

Dia pun lantas memutar haluan kapal . Dia sadar itu memaksakan diri akan menentang menaiki. Jalan satu-satunya yang dilawan saat menaklukkan gelombang itu. Dia percaya kapal Baru Jaya mampu mengatasi.

Lantas Rasyim memacu kapal itu dengan kecepatan 6 knot. Kecepatan penuh. Menuju utara. Ke Arah ombak yang tidak terlalu tinggi atau yang seharusnya sudah terpecah karena berada di ujung ombak. Di sebelah selatan diambil ombak begitu tinggi. Berdasar pengalamannya, sebelah selatan juga lebih dangkal sehingga entakan ombak bisa sangat berbahaya.

Seluruh awak kapalnya siaga. Cemas, juga berdoa. Semua barang sudah diikat dengan kuat agar kena guncangan keras tidak mudah terempas.

Rasyim Ingat betul gelombang tinggi itu sekitar 30 meter. Kapal Baru Jaya dengan panjang 15 meter dan lebar 2,5 meter itu layaknya bisa dilewati ombak tersebut. Tinggi gelombang tsunami dua kali lipat dari kapal tersebut. “Kapalnya sampai tegak berdiri gini,” kata Rasyim sambil memperagakan tangan kanannya membuat sudut siku-siku. Seluruh anak buah memegang erat pada apa pun. Dia tak ingat lagi lama “pendakian” gelombang itu terjadi.

Selain pakai teknik pemulihan kapal, menurut Rasyim, ada Keberuntungan yang menyertainya. Kapal itu bisa melewati ombak tinggi dan turun dengan cukup mulus. “Kalau saya melewati bukit ombak dengan mengentak, hampir bisa dipastikan kapal itu akan pecah,” ujar dia.

Lepas dari ombak pertama, datang ombak kedua. Tingginya sekitar 15 meter. Kali ini cukup mudah bagi Rasyim dan kru untuk bisa melewati ombak tersebut. Datang lagi ombak dua kali lipat 10 meter.

Setelah tiga ombak besar tersebut, laut kembali tenang seperti semula. Setelah melewati masa-masa kritis itu, Rasyim pun meminta izin di rumah. Dia diundang untuk tidak pulang dulu. Penyebabnya, kondisi di kampung Sidamukti juga porak-poranda oleh terjangan tsunami.

Pantauan Jawa Pos, Senin kemarin masih banyak kapal yang rusak. Ada juga kapal yang seperti habis terdorong ombak besar dengan posisi melintang.

Casman, 52, salah satu pengurus kelompok nelayan Sidamukti, menuturkan salahsatu kapal 21 tonase juga jadi korban. Setengah buritan kapal itu hancur. Kapal tersebut tepat di depan kantor polisi. “Kalau bagian belakang itu masih bisa diperbaiki,” kata Casman.

Di perkampungan Sidamukti juga masih berserakan sampah atau puing-puing kayu. Beberapa warga terlihat menyimpan puing-puing dari depan rumah mereka.

Rasyim yang mendapatkan kabar tentang kondisi kampungnya rusak diterjang tsunami, langsung memilih bertahan di laut. Dia berlindung di Pulau Liwungan bersama anak buahnya sembari berharap tidak ada tsunami lagi. Ahad sekitar pukul 01.30 dia pun memutuskan untuk kembali ke kampung dengan perkiran bisa sampai saat hari sudah terang.

Dari para tetangga dan rekan sesama nelayan, Rasyim tahu masih banyak yang tak beruntung. Sebagian besar nakhoda dan anak buah lima kapal yang ingin dia temui. Mereka juga berjuang melewati malam-malam yang nahas itu.

(* / c10 / agm)

 

302 Found

302

Found

The document has been temporarily moved.