JAKARTA, PALUEKSPRES.COM – Sebanyak delapan pelajar asal Indonesia, salah seorang tercatat pernah menetap di Palu, Sulawesi Tengah dilaporkan meninggalkan kawasan Darul Hadits atau Markaz Turbah di wilayah Al-Turbah, Taiz, Yaman, setelah kawasan tersebut dikuasai kelompok Houthi, Minggu (4/10/2026).
Informasi mengenai keberadaan para pelajar itu disampaikan salah satu keluarga kepada kerabatnya di Indonesia. Menurut keluarga, delapan pelajar tersebut melarikan diri menuju Aden, kota pelabuhan di bagian selatan Yaman untuk mencari lokasi yang lebih aman.
Salah satu pelajar yang disebut keluarga bernama Maulana Hussein Adam. Keluarga menyebut Adam merupakan pelajar di Markaz Turbah.
“Anak Indonesia ada delapan orang lari ke Aden, mungkin bisa bantu evakuasi anak-anak untuk ke Indonesia,” demikian pesan keluarga yang diterima pada Senin (5/10/2026).
Dalam komunikasi tersebut, keluarga juga menyebut Adam dan para pelajar lainnya telah berhasil mencapai Aden.
“Dia dari Markiz Turbah. Sekarang sudah sampai di Aden,” tulis keluarga.
Keluarga mengatakan komunikasi dengan Adam hingga saat ini masih dapat dilakukan. Namun, kondisi konflik yang kembali memanas di Taiz membuat keluarga tetap khawatir terhadap keselamatan para pelajar tersebut.
“Sampai sekarang masih bisa dihubungi, cuma tetap khawatir,” ujar keluarga dalam percakapan tersebut.
Disebut Ada Dua Bus Santri Indonesia Ditahan
Selain menyampaikan keberadaan delapan pelajar yang telah menuju Aden, keluarga juga mengungkap adanya dua bus yang membawa santri Indonesia yang disebut ditahan oleh pihak Houthi.
“Ada dua bus santri Indonesia yang ditahan Houthi,” demikian keterangan keluarga yang diterima PaluEkspres.com melalui Whatsapp.
Belum ada keterangan resmi yang dapat memverifikasi jumlah santri yang berada di dalam dua bus tersebut maupun kondisi mereka.
Hingga berita ini disusun, informasi mengenai delapan pelajar yang telah mencapai Aden dan dua bus santri tersebut masih berasal dari komunikasi keluarga dan belum mendapat konfirmasi terbuka dari Kementerian Luar Negeri RI.
Al-Turbah Dikuasai Houthi
Kabar mengenai pelajar Indonesia ini muncul setelah situasi keamanan di wilayah Taiz mengalami eskalasi.
Laporan pada 4 Oktober 2026 menyebut pasukan Houthi telah memasuki dan mengambil kendali atas sejumlah bagian Al-Turbah, kota yang berada di selatan Taiz. Sumber-sumber Yaman melaporkan adanya kemajuan pasukan Houthi di sejumlah front di Taiz setelah pertempuran dengan pasukan yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman. (Yemen Press Agency)
Lembaga Critical Threats Project juga melaporkan bahwa pasukan Houthi bergerak ke arah timur dan merebut Al-Turbah pada 4 Oktober. Kawasan tersebut dinilai strategis karena berada di persimpangan jalur utama yang menghubungkan wilayah front di Taiz dengan Aden, yang menjadi pusat pemerintahan sementara Yaman. (Critical Threats)
Perkembangan itu terjadi setelah pertempuran di Taiz kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Reuters melaporkan pada 2 Oktober bahwa pasukan pemerintah Yaman mengklaim melakukan 20 serangan udara terhadap posisi, personel, kendaraan, dan peralatan militer Houthi di Provinsi Taiz. Sejumlah jalan menuju Taiz juga dilaporkan ditutup karena dijadikan kawasan operasi militer. (Reuters)
Eskalasi tersebut turut menyebabkan perpindahan penduduk sipil. The Guardian melaporkan pada akhir September bahwa lebih dari 130 ribu orang telah terdampak dan mengungsi akibat pertempuran yang kembali berkobar di wilayah barat daya Yaman. (The Guardian)
Pemerintah RI Pantau WNI di Yaman
Kondisi para pelajar Indonesia di Yaman menjadi perhatian karena pemerintah Indonesia sebelumnya telah memantau keberadaan WNI di sejumlah wilayah yang terdampak konflik.
Pada September 2026, Kementerian Luar Negeri RI menyatakan terdapat puluhan WNI, yang sebagian besar merupakan pelajar, berada di wilayah Mokha setelah kota pelabuhan tersebut direbut Houthi. Pemantauan dilakukan melalui KBRI Muscat, KBRI Riyadh, dan KJRI Jeddah. (detiknews)
Untuk urusan Yaman, operasional KBRI Sana’a saat ini berada di Salalah, Oman. Informasi resmi pemerintah Indonesia menyebut layanan KBRI Sana’a tetap dijalankan dari Salalah karena alasan keamanan. (Peduli WNI)
Pemerintah juga mengingatkan WNI untuk tidak melakukan perjalanan ke Yaman mengingat konflik bersenjata yang masih berlangsung dan risiko keamanan yang tinggi. (Safe Travel Indonesia)
Dalam situasi tersebut, keluarga para pelajar berharap pemerintah dapat membantu memastikan keselamatan delapan pelajar yang disebut telah mencapai Aden, sekaligus memberikan kepastian mengenai kondisi santri Indonesia yang disebut masih berada dalam dua bus yang ditahan.
Catatan: Informasi mengenai delapan pelajar Indonesia yang meninggalkan Markaz/Darul Hadits Turbah, kedatangan mereka di Aden, serta dua bus santri yang disebut ditahan Houthi dalam naskah ini bersumber dari komunikasi keluarga yang diterima PaluEkspres.com dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh Kementerian Luar Negeri RI atau perwakilan diplomatik Indonesia.





