Sabtu, 8 Agustus 2026

2019, Pengusaha Lebih Takut Kepada Tiongkok Daripada AS

PALU EKSPRES, JAKARTA– Meski 2019 diwarnai cuaca cerah dengan menguatnya Rupiah, namun jangan senang dulu. Ekspor dalam negeri diperkirakan masih dibayang-bayangi perlambatan ekonomi Tiongkok.

Hal ini akan berdampak pada neraca transaksi berjalan. Ketua Umum Kadin Rosan P Roeslani menuturkan ekspor Indonesia masih akan bergantung pada Tiongkok.

Ia lantas menyebut dengan ketergantungan itu, maka perlambatan ekonomi yang terjadi di Tiongkok akan memberi dampak yang lebih besar ketimbang sensitifitas yang dibuat oleh Amerika Serikat.

“Kita ini lebih sensitif perlambatan pertumbuhan ke China dibandingkan ke US. Karena ekspor kita ini banyak melibatkan kepada China,” kata Rosan, di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (7/1/2019).

Lebih jauh lagi, kata Rosan, ekspor akan mendatangkan cuan lebih banyak bagi Indonesia apabila harga komoditas tinggi. Namun sayangnya, kata Rosan, saat ini kondisi harga komoditas sedang lesu. “Dikhawatirkan apabila China perekonomian melemah ekspor kita ke China akan menurun,” ujarnya.

Akan tetapi, bayang-bayang kelam ekonomi Tiongkok tetap punya penawar. Dia bilang amunisi yang akan dikerahkan untuk melawan pengaruh melemahnya ekonomi Tiongkok adalah dorongan investasi serta konsumsi domestik.

“Kalau kita lihatpertumbuhan industri sampai 5,3-5,4 persen yang mana melebih pertumbuhan GDP kita. Karena biasanya pertumbuhan indsutri kita kan selalu dibawah GDP kita,” kata Rosan.

“Dengan itu diharapkan pertumbuhan kita akan jauh lebih baik pada tahun 2019 ini,” sambungnya. Pernyataan Rosan memang ada benarnya, pasalnya Tiongkok adalah negara penyumbang defisit non migas terbesar bagi Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Desember 2018, ekspor nonmigas November 2018 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu USD 2,01 miliar, disusul Amerika Serikat USD 1,46 miliar dan Jepang USD 1,36 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 35,87 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar USD 1,37 miliar.

Namun begitu, dari sisi impor non migas, pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-November 2018 ditempat oleh Tiongkok dengan nilai USD 40,85 miliar (28,07 persen), Jepang USD 16,61 miliar (11,41 persen), dan Thailand USD 10,09 miliar (6,94 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 20,08 persen, sementara dari Uni Eropa 8,93 persen.

(uji/jpc)

 

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital