Sebelumnya Skala 1: 100.000, Peta Zona Rawan Bencana di Palu Dipersempit

  • Whatsapp

PALU EKSPRES, PALU– Peta zona rawan bencana (ZRB) di Kota Palu akan dibuat dalam skala yang lebih kecil menjadi 1:5000. Sebelumnya, peta ZRB yang dirilis pemerintah masih dalam skala 1:100.000. Dalam skala 1:5000, seluruh kawasan rawan bencana akan terdeliniasi dengan detail.

Kepala Dinas Penataan Ruang dan Pertanahan Kota Palu, Dharma Gunawan menjelaskan, hal itu dimaksudkan agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Palu nantinya lebih terarah. Sekaligus menjadi pegangan masyarakat dalam menentukan lokasi permukiman yang aman.

Dalam skala ZRB 1:100.000 kata Dharma, 1 centimeter sama dengan 1 kilometer. Artinya hanya menggambarkan  kondisi kerawanan  dalam jarak 1 kilometer. Sementara dalam 1 km di lapangan, terdapat banyak kegiatan masyarakat dan sarana publik. Yang harus mendapat informasi mengenai tingkat kerawanan kawasan tersebut.

“Kalau skala 1:5000 itu lebih detail. Karena hitungan dalam peta 1 centimeter menggambarkan 50 meter di lapangan,” jelasnya.

Peta dalam skala 1:5000 jelasnya juga menjadi petunjuk bahwa tidak selamanya sebuah areal yang terdampak bencana pada 28 September 2018 itu termasuk dalam zona rawan.

“Tidak bisa dipukul rata. Makanya ini perlu didiskusikan dalam FGD penyusunan peta,”urainya.

Dharma menambahkan, pihaknya berharap masukan-masukan pihak luar terkait rencana penyusunan peta. Utamanya hal hal yang menyangkut kondisi di lapangan. Semisal ada informasi mengenai adanya retakan-retakan yang diduga sebagai patahan baru paska bencana.

Sebab menurutnya, banyak patahan patahan tanah baru yang belum terdeteksi dalam peta ZRB skala 1:100.000. Informasi demikian bisa petunjuk awal dalam penyusunan peta. Terlebih jika informasi itu datang dari lembaga lembaga yang berkonsentrasi pada bidang geologi.

“Kita akan undang. Kita butuh informasi itu sehingga bisa menjadi bahan diskusi sebelum mulai menyusun peta,”sebutnya.

Dalam penyusunan peta, Pemkot lanjut Dharma akan melibatkan  Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) atau Badan Kerja Iternasional Jepang dalam membantu pembangunan negara berkembang. Termasuk Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG) dan ahli geologi. Penyusunan peta diupayakan segera mungkin dengan perkiraan waktu enam bulan kedepan.

“Insyaallah peta ini bisa cepat terealisasi,”pungkasnya.

(mdi/palu ekspres)

Pos terkait