Minggu, 9 Agustus 2026
Opini  

Orang Bajo

Oleh : Nur Sang Adji

KARIBKU Dr Abdul Manan, mantan ketua PSL Universitas Haluhuleo, yang pernah dikaryakan menjadi kepala Bappeda Wakatobi, memiliki posisi yang sangat penting bagi orang Bajo. Satu waktu beliau menelpon saya dari perkampungan Bajo di kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai. Dia bukan cuma mengabarkan kehadirannya di Sulawesi Tengah.  Tapi lebih dalam, sebagai Presiden orang Bajo yang sedang mengunjungi warganya.

Kalau dia tidak menelpon, saya pasti tidak tahu bahwa komunitas orang Bajo, ternyata punya seorang Presiden. Sesudahnya, saya tidak tahu lagi bagaimana sang Presiden bekerja untuk urusan orang Bajo ini.

Mereka hidup berpencar di hampir setiap pinggiran pantai Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Waktu melakukan riset di kepulauan Togean, saya banyak sekali berinteraksi dengan komunitas suku ini. Mereka menempati banyak Pulau di sana. Pulau Enam, Kabalutan, Katupat, Lembanato, gunung benteng, dan kecamatan Wakai serta Lebiti adalah kawasan yang saya sempat jamah, berjalan kaki maupun dengan sampan(perahu Kecil).
Dan, tempat – tempat itu selalu ada warga Suku Bajo.

Seperti ceritanya sahabat Saleh tentang cople muda- mudi Perancis di Palau Banggai. Saya pun menemukan kemiripannya di Pulau Pangempa, Togean. Ada kopel muda-mudi warga Perancis yang datang ke sini. Mereka bekerja 1 bulan di Perancis dan habiskan gajinya di Togean selama 2 bulan, sambil membersihkan pantai bersama warga.

Sekarang, pasangan itu pisah. Lalu, gadisnya menikah dengan Pria lokal (semoga pria itu orang Bajo). Kabarnya, sudah punya keturunan.

Satu ketika saya bertemu dengan satu pasangan turis bangsa Belgia. Negara ini punya dua bahasa, Belanda dan Perancis. Saya lalu bertutur dengan mereka pakai bahasa Perancis. Di sini saya mendapat cerita bagaimana mereka bisa tembus kawasan terpencil ini. Mereka berkomentar panjang tentang alam dan penduduknya. Mereka bergumam singkat “tres jolie et magnifique” (indah dan mengagumkan).

Tapi di perjalanan berikutnya, ada teguran yang harus jadi pelajaran. Rombongan KLHS (kajian lingkungan hidup strategis) yang saya pimpin untuk survei. Ada Nur Edy, Momon, Asriadi dan Ros dll,. Bertemulah kami dengan sejumlah turis Amerika, Inggris dan Iran di Pulau Kadidiri saat “Dinner”. Mereka bilang begini : This is the wonderful place. But you have two big problem. First, garbage and second, fishing dynamite. Yaa, sampah dan bom menjadi masalah di laut kita hingga kini.

Kali lain lagi, saya datang bersama rombongan ikatan Alumni Universitas Tadulako. Ada Prof Anhu, mas Eko, Kak Inun, karib Al Banggawi dan Mute serta maitua ku. Kami, betemu dengan penduduk lokal, termasuk orang Bajo.

Dari kapal cepat yang kami pakai, koin rupiah dilayangkan ke laut. Anak anak Bajo lompat menyelam dengan tangkasnya. Meraih satu demi satu, koin yang melayang ke dasar laut.
Anak anak ini dilatih oleh alam untuk jadi ahli “Diving”.

Ingatan ku tertuju pada sahabat ku saat di SMP Islam Ternate.
Dia bernama Taher. Orangnya tinggi besar dalam ukuran normal di umur itu. Dia termasuk pria berbadan gelap seperti saya. Taher ini membikin panik guru olahraga. Waktu kami diperintahkan lompat menyelam. Taherlah murid terakhir yang mengapung ke permukaan. Guru panik dan susul terjun. Ternyata Taher sedang duduk santai di pasir dasar laut. Belakangan, baru saya tahu kalau Taher ini adalah keturunan Suku Bajo.
Mereka mendiami banyak Pulau di Maluku. Dia Orang Bajo yang hebat di laut. Seperti semboyan Angkatan Laut, jalesveva jayamahe (di laut kita jaya).

Saya sempat berfikir ketika pesawat lion air jatuh di laut waktu lalu.
Penyelam dari team SAR diarahkan. Saya bertanya dalam hati, adakah mereka para penyelam ini berasal dari keturunan suku Bajo? Bila tidak ada. Maka, izin kan saya untuk kecewa. Bahwa, negara kurang cerdas memanfaatkan potensi anak negeri, bernama Orang Bajo. Sayang sekali. ***

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital