PALU EKSPRES, PALU – Aksi Cepat Tanggap (ACT) memanfaatkan momentum ramadan 1440 Hijriah untuk membangkitkan semangat filantropi umat muslim. Ramadan dan kedermawanan sebagai dua hal bersisian. Dimana ghirah umat untuk berbagi di bulan berkah tersebut, seolah mencapai puncaknya. Karena itu ACT yang menyebut gerakan ini sebagai masterpiece ACT ini, diluncurkan menjelang ramadan 1440 Hijriah. Di Sulawesi Tengah, peluncurannya dilakukan Kantor ACT Cabang Sulteng Jalan Mohamad Hatta Nomor 133 Palu, di hadapan para jurnalis di Kota Palu.
Kepala Cabang ACT Sulawesi Tengah Nurmajani Loulembah, mengatakan tak bisa dimungkiri, ACT ingin memanfaatkan momentum bulan mulia untuk mengetuk hati para dermawan untuk terus berbagi. Walau pun, semangat kedermawanan sejatinya tidak harus pada momentum ramadan bahkan pada momen di luar itu.
Ia melanjutkan dalam konteks Sulteng yang baru saja dihajar musibah dahsyat, marhaban yaa dermawan amat relevan, bukan semata-mata karena warga yang saat ini terkonsentrasi di pengungsian sangat membutuhkan uluran dermawan. Tetapi setiap ramadan kebutuhan pokok selalu melonjak tak terkendali. Ini amat memukul warga khususnya kalangan masyarakat bawah. ”Keterbatasan ekonomi dan meningkatnya harga bahan pokok pada ramadan dan idul fitri berpengaruh pada pemenuhan gizi keluarga. Dari sini Marhaban yaa Dermawan, menjadi relevan,” sebut mantan karyawan di salah satu bank syariah ini.
Kedermawanan imbuh Nani – demikian perempuan manis ini diakrabi menjadi solusi dari masalah yang dihadapi oleh sebagian warga yang tidak berkecukupan di daerah ini. Secara nasional program ini, meliputi tujuh bagian, kapal ramadan, tepian negeri, dapur ramadan, berbagi untuk dunia islam dan qurban serta kesempurnaan waqaf.
Kapal negeri sebut dia, akan membawa ragam bantuan pangan dan sandang ke berbagai pelosok negeri. Sedikitnya 100 ribu paket ramadan dari kapal ramadan ACT akan menyapa warga kurang mampu di seluruh negeri. Paketnya terdiri, beras 5 kilogram, gula 1 kilogram, minyak 1 kg dan biskuit serta sarung.
Selain itu ada pula program tepian negeri. Hal ini sebut Nani, berangkat dari fakta tentang pembangunan yang belum merata di negeri ini. Ketimpangan yang terlihat dari ketiadaan sarana ibadah dan personel pembina rohani akan dicoba dijawab ACT melalui program tepian negeri tersebut. ”Selama ramadan mereka ditebar di sejumlah pelosok untuk menebarkan nilai nilai kebaikan di sana,” jelasnya. Lalu ada dapur ramadan yang menyiapkan menu buka puasa. Dengan dukungan armada food truck dan food van, ACT akan menyiapkan menu buka puasa dengan menu pilihan dan kandungan gizi yang terjaga.
Lalu ada program berbagi untuk dunia islam. ACT seperti yang sudah dilakukan selama ini, sangat konsern terhadap krisis kemanusiaan di sejumlah negara. Entah itu akibat perang maupun krisis pangan. Di momentum ramadan ini sebut Nani, ACT ingin menghadirkan kebahagiaan bagi umat muslim di Palestina dan Uighur maupun Rohingya serta beberapa belahan dunia yang dilanda krisis kemanusiaan.
Lalu ada pula bantuan untuk saudara sebangsa. ACT sebagai lembaga kemanusiaan sebut Nani, bersifat universal. Dalam konteks kemanusiaan sasaran bantuan ACT meliputi seluruh warga bangsa. ACT senantiasa berada di tengah warga yang terpuruk akibat bencana, tanpa melihat latarbelakang mereka.
Lalu ada program qurban. Namanya program qurban progresif yang memudahkan warga yang berkurban dengan harga yang terjangkau. Marhaban yaa dermawan ini akhirnya dipungkasi dengan kesempurnaan wakaf. Di sini sebut wanita kelahiran 28 tahun silam ini, ACT menyadari adanya kemiskinan dan krisis pangan yang menghantui setiap saat. Karena itu, lumbung pangan wakaf dan lumbung ternak wakaf hadir untuk mengatasi kendala akut ini.
Begitu banyaknya persoalan keumatan yang harus dientas, lanjut Nani, maka keterlibatan dermawan menjadi penting untuk membantu warga untuk mengklaim kembali masa depannya yang lululantak dihajar musibah. Ia ingin melalui gerakan marhaban yaa dermawan, makin banyak warga miskin yang bisa angkat kembali derajat kemanusiaannya. Harapannya, momen ramadan ini, ACT ingin membangkitkan semangat filantropi umat, tidak saja di Sulawesi Tengah tapi juga di Indonesia.
(kia/palu ekspres)






