Minggu, 9 Agustus 2026
Opini  

Pascabencana Sulteng, Filosifi “Truck Gandeng-Kereta Kuda”, Jadi Strategi

Dr. Hasanuddin Atjo. Foto: Dok. PE

Oleh Hasanuddin Atjo, Ketua Ispikani Sulawesi Tengah

BENCANA multi dampak yang melanda Sulawesi Tengah, tanggal 28 September 2018 sampai saat ini masih menjadi trend topik dan pusat perhatian dunia.  Pasalnya bencana ini sangat langka terjadi di dunia karena merupakan gerakan simultan dari gempa dengan kekuatan 7,4 scalareighter, tsunami dan liquifaksi yang menyebabkan korban ratusan ribu jiwa, kerusakan infrastruktur serta berdampak terhadap ekonomi, terutama bagi masyarakat dan pelaku usaha.  

Bencana ini  tidak saja berdampak terhadap wilayah Palu, Sigi, Donggala dan Parigi Moutong, tetapi juga secara tidak langsung ikut mempengaruhi ekonomi   di   kabupaten lainnya.

Menjelang pesta demokrasi pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota  di  Sulawesi Tengah   tahun 2020, sejumlah kalangan berpandangan agar isu kebencanaan di Sulawesi Tengah menjadi salah satu Visi-Misi kandidat yang akan ikut bertarung. Berikut ini akan diulas tentang pemikiran membangun Sulawesi Tengah ke depan yang lebih kuat, maju dan tumbuh bersama dikaitkan dengan potensi kebencanaan.

Menggeser “Minus 10 ke Plus 10”

Kalau  dibuat  sebuah  analogi,  maka  dapat  dikatakan tanggal  28  September  2018 sesaat sebelum bencana, posisi Sulawesi Tengah berada pada titik nol.   Setelah bencana terjadi, masih di tanggal dan tahun yang sama, maka posisi Sulawesi Tengah telah mundur ke “minus sepuluh” dikarenakan hampir semua infrastruktur terutama di wilayah Palu, Sigi dan Donggala Porak-Poranda.  Selain itu ekonomi nyaris lumpuh.  

Saat ini Sulawesi Tengah yang difasilitasi  oleh Pemerintah Pusat melalui APBN dan bantuan Luar Negeri,  sedang berupaya keras untuk kembali ke posisi titik nol melalui sejumlah  program seperti  tanggap darurat hingga kepada recovery. Harapan sejumlah pihak bahwa tahun 2020 tujuan kembali ke posisi titik nol  bisa dicapai.  Karena itu tahun 2021-2024 akan menjadi tugas berat bagi Gubernur, Bupati dan Walikota terpilih untuk merealisasikan target menuju ke posisi “Plus 10”.  Target itu bisa direalisasikan dalam satu  periode kepemimpinan, dua periode  atau bahkan lebih . Kesemua itu   berpulang kepada visi, misi yang telah dibuat, stretegi implementasi   serta komitmen bersama.

“Truck Gandeng dan Kereta Kuda”

Ada dua point penting dalam proses pembangunan sebuah wilayah, yaitu pertama proses menyusum Perencanaan, dan kedua strategi dalam implementasi. Perencanaan harus dibuat secara benar antara lain mengacu kepada kondisi internal dan pengaruh eksternal, partisipatif serta dapat diimplementasikan.   Menyusun perencanaan seperti ini mengadopsi Filosofi “truck gandeng”.   Makna filosofi ini bahwa Pemerintah Provinsi berperan mengaitkan gerbongnya yang berisi penumpang 13 kabupaten/kota bersama seluruh perangkat daerahnya   dengan Pemerintah Pusat sebagai lokomotif.    Filosofi ini   sesungguhnya telah menjadi pola, hanya menurut pandangan sejumlah kalangan, meskipun sudah berada dalam satu gerbong  namun  belum terbangun kesamaan  “visi  dan misi  bathiniah”.    Boleh jadi dikarenakan oleh sejumlah alasan seperti  distribusi dukungan yang belum merata, atau pengaruh nuansa otonomi daerah  yang masih kental dan faktor ego yang dominan ataupun dikarenakan faktor politis.  

Kalau ini masih terjadi, maka provinsi yang berperan sebagai pengkait  akan menanggung beban yang besar.  Demikian pula dengan Pemerintah Pusat sebagai  lokomotif,  karena menarik  gerbong yang berat.  

Harapan kita ke depan kiranya penumpang dalam gerbong sudah berada dalam  satu “visi dan misi bathiniah” yaitu saling paham, toleran dan komit sehingga beban pengkait maupun lokomotif menjadi lebih ringan. Kalau proses perencanaan telah terbangun dengan muatan seperti ini, maka implementasi visi dan misi yang  mengadopsi filosofi “kereta kuda”tidak akan menjadi masalah, karena 13 kabupaten/kota sebagai penarik kereta dalam hal ini Provinsi akan bergerak selaras tidak saling tarik menarik serta mudah mengendalikannya.

Dampaknya adalah mempermudah tercapainya target-target yang telah ditetapkan.

Sulawesi Tengah dan Indonesia Hebat 2045

Melihat potensi sumberdaya sesungguhnya, ada empat sektor unggulan yang bisa menjadikan  Sulawesi Tengah bagian dari  terwujudnya visi Indobesia hebat di tahun 2045. Empat sektor itu adalah Kelautan dan Perikanan, Pertanian dan Pangan, Pariwisata serta Tambang.  

Tiga sektor  pertama itu bisa menjadi tulang punggung dalam penyerapan tenaga kerja, menekan rasio gini, kejahteraan masyarakat serta pertumbuhan ekonomi.  Sedangkan sektor yang terakhir lebih kepada peran pertumbuhan ekonomi. Keempat sektor  ini harus didorong secara bersama dengan pendekatan Industrialisasi. Sudah harus dipetakan pengembangan sektor   ini di   13 Kabupaten/Kota dengan pendekatan kewilayahan atau clusterisasi, sehingga akan berdampak terhadap   produksi yang berskala ekonomi dan pembangunan infrastruktur penunjang yang efisien.  

Dengan demikian, alokasi anggaran terhadap sektor unggulan dan penunjangnya  baik dari Pemerintah maupun sektor Swasta akan bermanfaat dan berdaya guna.

Pusat Studi Kebencanaan

Pernyataan  Achmad Ali, anggota DPR RI terpilih periode 2019-2024 dapil Sulawesi Tengah di

beberapa media, tentang perlunya UNTAD menjadi salah satu Pusat Studi Kebencanaan di Indonesia, merupakan sebuah wacana yang harus diperjuangkan. Pasalnya Sulawesi Tengah sebagian besar wilayahnya rentan dengan ancaman  gempa, tsunami dan liquifaksi sehingga diperlukan sejumlah sumberdaya manusia dan   informasi tentang kebencanaan itu.

Pola perencanaan pembangunan ekonomi menuju Sulawesi Tengah hebat tahun 2045 tentunya harus menyesuaikan dengan kondisi internal wilayah masing-masing, sehingga bila bencana itu kembali berulang, maka  infrastruktur yang telah dibangun dapat adaptif  demikian pula proses mitigasinya dapat berlangsung sesuai standar operasional yang telah dibuat.

Harapannya adalah masyarakat, pelaku usaha dan investor tidak ada keraguan lagi, karena daerah ini sudah memiliki pola perencanaan pembangunan ekonomi yang adaptif dengan bencana, mitigasi yang telah terpola seperti yang dilakukan di Jepang dan beberapa Negara lainnya.   Semoga. ***

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital