Selasa, 29 September 2026
Daerah  

Keluarga Didin Tinggal di Gubuk Sempit Tidak Layak Huni

Istri Didin beserta anaknya di rumah yang tak layak huni. Foto: Istimewa

PALU EKSPRES, PARIGI– Kondisi Rumah Didin Warga Kelurahan Kampal Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, sungguh memprihatinkan. Didin bersama keluarga kecilnya terpaksa tinggal di gubuk sempit yang tak jauh dari Kantor Bupati Parigi Moutong, tepatnya di belakang Kantor Dinas Ketahanan Pangan di Kelurahan Masigi.

Pantauan Palu Ekspres, rumah berukuran kurang lebih 2×3 meter itu hanya beratapkan rumbia (Daun Sagu) dan terlihat mulai bocor. Dinding rumah menggunakan papan yang terlihat lapuk, bukan batu bata seperti rumah pada umumnya.

Begitu pula bagaian lantainya hanya beralaskan tanah liat. Kondisi dalam rumah pun terlihat kumuh dan jauh dari kata layak untuk dihuni. Tempat buang air tidak ditemukan di rumah ini.

“Maaf Pak tidak ada suamiku dia ada pergi kerja,” kata Sarni, istri Didin saat ditemui di rumahnya, Jumat 31 Mei 2019.

Sarni mengungkapkan, awalnya Ia bersama keluarganya masih tinggal serumah bersama mertua. Setelah sekian lama tinggal bersama metua, akhirnya Sarni bersama keluarga memilih untuk pindah ke Kelurahan Masigi. 

Di Kelurahan Masigi kata dia, mereka meminjam tanah milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parimo, untuk dijadikan lahan menanam sayur- sayuran.

“Daripada kami bolak-balik pulang ke Kampal tiap hari dari kebun ini makanya kami sudah membangun pondok-pondok di sini,” ujarnya.

Ia mengaku masih berstatus warga di Kelurahan Kampal sebab di Kelurahan Masigi itu mereka hanya status numpang di lahan pemerintah. Suatu saat akan pindah.

“Iya kami warga Kampal, cuma numpang tinggal saja di Kelurahan Masigi ini,” katanya.

Menurut dia, di gubuk tersebut, ia tinggal bersama 7 orang anaknya. Lebih parah kata Sarni, ketika memasuki musim penghujan seperti sekarang ini. Dengan kondisi rumah seperti itu, tentunya tidak bisa melindungi bagian dalam rumah dari cipratan dan rembesan air hujan.

“Kalau hujan kami kedinginan terpaksa berhimpitan dalam rumah bersama anak-anak mau kemana lagi,” katanya.

Ia menyangkan, dengan kondisi seperti itu, keluarganya tidak terdaftar sebagai keluarga tidak mampu di wilayah tersebut.” Kita ini kasian tidak pernah dapat kartu KIS atau yang lainnya, Raskin saja tidak dapat. Selama ini kita tidak pernah dapat bantuan dari pihak mana pun,” terangnya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat, Sarni bersama keluarganya akan pindah lokasi dan membagun kembali rumah yang layak huni, yang tidak jauh dari lokasi sebelumnya.” Insya Allah habis lebaran Suamiku akan bangun rumah biar cuma lantai kasar tapi masih di lokasi pemerintah, karena bahannya sudah siap, tinggal tunggu waktu saja karena paetua masih sibuk kerja bangunan,” tuturnya.

Potret kehidupan keluarga Didin sempat ramai dan jadi pembicaraan di Facebook dalam beberapa hari terakhir, setelah ada yang mengunggah foto rumahnya. 

Akhirnya, unggahan itu pun sukses mencuri perhatian dari banyak orang. Sehingga, sudah ada beberapa orang yang mengunjungi rumahnya dan memberikan sedikit bantuan untuk meringankan beban hidup mereka.

Ia berharap, kepada Pemerintah Daerah Parimo agar memperhatikan kondisi kehidupan keluarganya.” Mudah-mudahan kasian Pemerintah perhatikan kita. Sebab, kita belum punya kintal sendiri. Makanya masih pinjam tanah pemerintah untuk ditempati,” sebut Sarni. (asw/palu ekspres)

302 Found

302

Found

The document has been temporarily moved.