Minggu, 30 Agustus 2026
Opini  

Sertifikat Kompetensi, Apa Yang Salah?

Nur Sangadji. Foto: Dok

Oleh: Nur SANGADJI (muhdrezas@yahoo.com)

TIBA tiba Menteri Pendidikan dan Riset RI, membuat pernyataan yang dirilis berita antara. Kata beliau, lulusan perguruan tinggi harus bersertifikat kompetensi.

Saya pikir, hal ini tidak salah. Karena memang harus begitu. Untuk apa Sekolah demikian lama kalau setelah itu, tidak punya keahlian. Mungkin yang sedikit mengganjal adalah kata sertifikat.
Jadi, ijazah yang diperoleh itu, menandai apa kalau bukan kompetensi? Begitulah sekilas yang bisa saya tarik dari komentar senior ku, Bayu Krisnamukti, mantan wakil menteri Pertanian. Beliau merespon kegelisahan ku bertalian sertifikat kompetensi.

Pak Bayu menulis di WA PERHEPI (perhimpunan ahli ekonomi Pertanian) sebagai berikut : “Apakah artinya kalau saya sudah memperoleh (sertifikat) ijazah sarjana sosial ekonomi pertanian, master ekonomi pertanian, dan doktor ekonomi pertanian dari IPB belum dianggap kompeten dibidang ekonomi pertanian?


Apa makna semua ini? Tentu, bukan sekedar memburu selembar kertas bernama sertifikat. Sebab, kalau hanya itu, sudah cukuplah lembaran izasah dari TK dan SD hingga Universitas yg bersusun penuhi rak lemari kita.

Murni, kalau tujuannya penuhi kebutuhan industri, maka jawabannya adalah Vokasi. Di program vokasi ini, 80 persen adalah praktek kerja. Hanya 20 persen pengatahuan atau teori.

Tapi, sejak lama sudah di dorong konsepsi “link and match” oleh menteri Wardiman. Kalau begitu, kurikulum dan pola serta strategy pembelajaran yang harus disesuaikan. Keseimbangan antara, kelas, alam dan ruang kerja harus dibangun. Keseimbangan antara pengetahuan, ketrampilan dan sikap harus dibentuk. UNESCO menambahkan satu lagi, “learning to live together”. Jepang juga sangat ketat memperhatikan point ini, selain PSK (pengetahuan, sikap dan ketrampilan).


Sebenarnya, saya lama sekali bertanya. Mengapa lulusan SLTA masih harus di testing untuk masuk perguruan tinggi? Bukankah, mereka sudah ikut ujian saat SLTA. Di Melbourne, saya menyaksikan keluarga Indonesia asal Makassar bisa memasukan tiga anaknya ke tiga universitas besar di sana. Monash, la Trob dan Melbourne University, dengan hanya berdasar nilai SLTA. Orang tuanya bilang, kalau saya kirimkan ke Indonesia, belum menjamin bisa masuk di universitas ternama.

Saya juga sudah lama merasakan bahwa testing testing ini memperpanjang urusan, membuang energi, menguras uang extra Orang tua yang semestinya tidak perlu. Testing ini pun dengan sengaja di design, nasional, lokal dan seterusnya. Dan kita tahu, di semua tingkatannya membawa kelebihan dan kekurangannya. Sebelumnya, kita juga pernah punya model test diagnostic, test potensi akademik dan terakhir ini, sertifikat kompetensi.


Menurut hemat saya, kompetensi ini harus dilihat analoginya seperti pengambilan specialist untuk Dokter. Ini melalui pendalaman “course and practice” selama waktu tertentu. Orang yg belajar lingkungan, dalami pemahaman prosedur dan substansi agar layak berkompoten untuk bisa menyusun AMDAL dan KLHS. Kursus Amdal A satu minggu, Amdal B dua bulan dan Amdal C satu minggu. Baru melewati tahapan terakhir dapat sertifikat kompetensi.
Bahkan bila perlu, telah ikut dalam praktek penyusunan AMDAL atau KLHS sekian kali.

Mungkin yang lebih dekat lagi adalah pengambilan TOELF atau IELTS. Melalui kursus atau tanpa kursus, tapi diuji dengan sandard yang sangat ketat dan dengan jaminan kebisaannya sangat mutlak. Mereka yang lulus dengan angka tertentu menjadi ukuran kemampuan mendekati fakta. Ini baru logik.

Bila tidak dalam konteks begini, saya mengkuatirkan proses penggampangan dan formalisme yang lebih utama. Lalu, para cendekia kita, berlomba datangi lembaga pemberi label untuk dapat status kompoten. Cukup dengan hanya penuhi administrasi terutama keuangan. Bila benar, saya merasa seperti terlalu instan.


Di beberapa universitas seperti UI dan ITB, butuh kuliah terstruktur selama dua semester. Intinya, kita harus bersungguh sungguh untuk membangun pendidikan. Sebab, dialah penyelamat kehidupan.

Nelson Mandela menyebutnya sebagai “The most powerful weapon that we can use it to change the world ” Dan, Gandhi menimpalinya dengan kekuatiran yang beliau urai dalam “seven social sins” yang sangat populer.
Yaitu, “Education without character”.

Untuk segalanya, kita tinggal punya taruhan terakhir yaitu sang Guru atau Dosen. Guru yg biasa saja itu (mediocre teacher), menceramahi (telling). Guru yang baik itu (good teacher), menjelaskan (explain). Guru yg hebat itu (the best teacher), mendemonstrasi (demonstrate). Dan, guru yg luar biasa (excellent teacher), menginspirasi (inspire).

Tipe guru yg terakhir ini mencakup ketiga sebelumnya. Semogalah
Keteguhan moral mereka dapat menyelamatkan generasi dan negerinya. Walahualam bisyawab.***

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam