Kamis, 22 Oktober 2026
Opini  

They Call Me Profesor

Nur Sangadji. Foto: Istimewa

Oleh: Nur Sangadji (muhdrezas@yahoo.com)

TIBA-tiba, pada bulan Mei 2019, Menristek Dikti menerbitkan Permenristekdikti Nomor 164/M/KPT/2019 tentang penyebutan gelar atau jabatan akdemik dosen sesuai jenjang jabatan dan pangkat. Ada “lecturer”, “Assistant Professor”, “Acossiatet Professor” dan “Professor penuh (full professor)”.

Saya teringat waktu di Perancis, sejak dua puluh tahunan silam. Saya sudah dipanggil professor. Karena, profesor dalam bahasa Perancis itu, artinya Guru. “Je suis professor a l’uneversite Tadulako”, Palu, Indonesie (Saya adalah Guru di Universitas Tadulako Palu Indonesia). Itulah jawaban saya, bila orang Perancis bertanya tentang profesi saya di tanah air.

Jadi, karena sudah dilegalkan negara, maka mari kita saling panggil professor. Seperti di Manado, orang baku pangge (saling panggil) Menneer, yang juga berarti Guru. Di dalam pendidikan Islam, kata kata Ustadz juga dinisbatkan pada makna Guru.


Dari pada baku buru (berlomba) kebanggaan, masuk scopus untuk semata kejar gelar dengan minim kontribusi bagi ilmu dan kemaslahatan. Lebih baik, curahkan energi untuk selesaikan persoalan masyarakat dan bangsa.

Pada acara di Fisip Untad beberapa waktu lalu, ada yang bilang dosen yang tidak publish scopus, dipertanyakan kualitasnya. Saya ngeri atas pernyataan ini.
Bagaimana dengan mereka yang tekun mengajar ? Mereka yang rajin bekerja dengan masyarakat ? Mereka juga meneliti, tapi tidak masuk bursa bisnis publikasi. Tapi risetnya menjawab kebutuhan masyarakat lokal. Mereka menjadi nista karena tidak ada namanya di listing scopus..?


Dalam pengalaman menghadiri seminar internasional berkali-kali, pemikiran ini mewabah di ilmuan Indonesia. Sehebat apa pun anda, bila tidak punya jurnal internasional sejenis scopus, anda tidak dianggap. Lalu, semua ilmuan Indonesia saling mengukur diri dan membandingkan antarsesama. Padahal, kasat mata kita kenal kualitas masing-masing kolega. Kemampuan berbahasa Inggris sebagai contoh. Maka, tidak perlulah terlalu berbangga diri dengan kepalsuan.

Semua tahu, tidak semua menjadi peneliti benaran. Ada yang sekadar menitipkan nama dalam deretan penulis. Ada yang ilmunya tidak sesuai. Terpenting, masuk dalam kategori punya jurnal internasional.
Sudalah, sampai kapan Bangsa ini bertindak latah seperti begini. Entahlah.

Tapi mengerikan. Sebab, kita bakal menuai anak didik bermasalah. Pengetahuan, keterampilan hingga prilaku. Lantaran penelitian dan jurnal semata yang jadi incaran prestise. Bukan prestasi. Kita juga akan dijauhi oleh masyarakat. Di puncak menara gading, berjubel lah kaum ilmuan. Jauh dari permasalahan akar rumput komunitas.. Jangan lah…

Mengapa?. Karena, ukurannya adalah riset dan jurnal internasional semata. Pengalamannya hampir analog dengan kebiasaan orang tua yang mengandalkan matematika, fisika dan sejenisnya untuk ukuran kualitas anak. Kalau nilai matematika jatuh, disalahkan akibat terlalu banyak main bola kaki. Setelah Ronaldo dan bintang sepakbola dibayar dengan jutaan dolar. Baharu kita sadar bahwa mengagungkan secara fanatik pada satu bidang dan menistakan yang lain, adalah tindakan keliru, fatal dan kurang bermartabat.


Labih sepuluh tahun silam, orang Jerman datang ke Universitas Tadulako. Membawa program kerjasama riset tentang “Forest Margin”. Saya ikut terlibat. Dibuatlah seminar internasional di Palu. Orang pedalaman yang adalah kaum tani, diundang. Petani ini bertanya, dalam gemerlapnya kegiatan riset ini apa outputnya..?

Para ilmuan kala itu berlomba menjawab dengan jawaban beragam. Antara lain, hasilnya akan diterbitkan di jurnal internasional.
Lalu, ada petani lain menimpali. Terus, apa manfaatnya bagi kehidupan kami sebagai petani? Di tempat kalian melakukan penelitian ini? Saya menyaksikan kebanyakan ilmuan, termasuk saya, gagap dalam menjawabnya.

Karena itu, saya sarankan, mari kita bagi peran saja. Ada dosen yang fokus prioritasnya riset. Ada yang pendidikan dan mungkin ada yang khusus pengabdian masyarakat. Tapi apapun itu. Sekarang, sejak Mei 2019, saya telah disematkan gelar Assistant Professor dan Associate Professor. Namun, tetaplah panggil saya, Guru saja. Atau, Guru Kecil di Universitas Tadulako. Wallahualam.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam