Minggu, 9 Agustus 2026

Ikan dan Bawang Penyebab Deflasi di Palu, NTP  Hortikultura dan Nelayan Malah Turun

BPS Sulteng

PALU EKSPRES, PALU– Kota Palu mengalami deflasi sebesar 0,35 persen selama periode September 2019. Hal ini dipengaruhi oleh turunnya indeks harga pada kelompok bahan makanan serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar masing-masing sebesar 3,60 persen dan 0,13 persen.

Kepala BPS Sulteng Faisal Anwar menyebutkan deflasi Kota Palu sebesar 0,35 persen disumbangkan oleh andil negatif kelompok pengeluaran bahan makanan serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar masing-masing sebesar 0,77 persen dan 0,03 persen.
“Sedangkan andil positif disumbangkan oleh kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,22 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,09 persen, kelompok sandang sebesar 0,07 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,06 persen, serta kelompok kesehatan sebesar 0,01 persen,” kata Faisal dalam press rilis BPS, Selasa (1/10/2019) di Palu.

Faisal menambahkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain ikan kembung sebesar 0,24 persen, ikan ekor kuning sebesar 0,23 persen, ikan cakalang 0,16 persen, ikan selar 0,12 persen, bawang merah 0,07 persen, daging ayam ras 0,06 persen, ikan mujair 0,06 persen, jagung manis 0,03 persen, ikan kakap merah 0,03 persen, dan tempe 0,03 persen.

Menurutnya, andil negatif beberapa komoditas terhadap inflasi di Kota Palu tersebut, ternyata di satu sisi berdampak pada penurunan NTP beberapa subsektor. Paling terasa adalah NTP Holtikultura. Bawang Merah yang memiliki andil sebesar 0,07 persen terhadap deflasi Kota Palu berdampak pada NTP Petani Holtikultura.

Sebagaimana diketahui kata Faisal, selama bulan September 2019, subsektor hortikultura mengalami penurunan NTP sebesar 0,34 persen atau berubah dari 109,64 pada Agustus menjadi 109,27 pada September 2019. “Penurunan NTPH disebabkan oleh turunnya Indeks harga yang diterima petani sebesar 0,38 persen lebih rendah dari penurunan Indeks harga yang dibayarkan petani yang mengalami penurunan sebesar 0,04 persen,” ujarnya.

Andil negatif beberapa komoditas terhadap inflasi seperti bebeberapa jenis ikan juga mempengaruhi NTP Nelayan. “Ikan Kembung 0,24 persen, ikan ekor kuning 0,23 persen, ikan Cakalang 0,16 persen, ikan selar 0,12, Bawang Merah 0,07 persen memiliki andil terhadap deflasi Kota Palu,” ujarnya.

Menurutnya, subsektor perikanan selama bulan September 2019 mengalami penurunan indeks nilai tukar sebesar 1,14 persen atau berubah dari 107,76 pada Agustus menjadi 106,53 pada September 2019. Kondisi ini disebabkan oleh penurunan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,03 persen sedangkan indeks harga yang dibayarkan petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,11 persen.

Pada kelompok perikanan tangkap (NTN), terjadi penurunan nilai tukar petani sebesar1,36 persen yakni dari 114,98 pada Agustus menjadi 113,41 pada September 2019. Turunnya nilai tukar pada subkelompok perikanan tangkap disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,27 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,10 persen.

Searah dengan kelompok perikanan tangkap, pada kelompok perikanan budidaya (NTPi) mengalami penurunan indeks nilai tukar sebesar 0,39 persen yakni dari 88,92 pada Agustus menjadi 88,57 pada September 2019. Hal ini disebabkan oleh turunnya It sebesar 0,23 persen sedangkan Ib mengalami kenaikan sebesar 0,16 persen. Penurunan It disebabkan oleh turunnya indeks harga pada subkelompok budidaya air tawar dan budidaya air payau masing-masing turun sebesar 0,88 persen dan 0,58 persen. Sedangkan pada subkelompok budidaya air laut tidak mengalami perubahan. (fit/palu ekspres)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital