Minggu, 9 Agustus 2026
Opini  

Visi Universitas Tadulako

Oleh : Muhd Nur Sangadji (muhdrezas@yahoo.com)

SELAKU Dosen dan Anggota Senat Universitas, saya mendapat dua undangan rapat di awal Desember ini. Karena tidak mungkin bisa hadir bersamaan di dua tempat pada waktu yang sama maka saya optimalkan kontribusi dengan menulis artikel ini. Agenda pertemuannya, membahas visi misi Fakuktas dan Universitas Tadulako. Universitas meletakan periode visi 2020 – 2045. Sangat strategis. Itu berarti, kita bicara mendalam tentang Universitas ini. Tentang tujuan (destination) dan arah (direction) 25 tahun ke depan.

Pilihan durasi (time bound) sebagai batasan waktu perjuangan visi ini sangat menarik. Memang, visi jangka panjang itu berada antara 20 sd 30 tahun. Dan, pilihan pada 25 tahun sudah sangat tepat karena pertama, memilih yang tengah (moderat) antara 20 dan 30.

Kedua, pilihan 25 tahun itu akan berujung pada 2045. Itulah tahun kemerdekaan emas yang ditunggu generasi bangsa ini. Indonesia, kala itu telah berumur 100 tahun.
Visi menurut para ahli yang lansir Goritno, adalah “a set of hope but rotted in reality”. Sejumlah harapan tapi mengakar pada realitas. Goritno, adalah sahabat saya waktu berkerja untuk United Nation (PBB). Beliau menyampaikan ini pada saat kami bersama memulai proses mendorong agenda pembangunan berbasis visi pada tahun 2002. Ketika itu, kami membangun visi berbasis partisipasi publik. Mengapa ? Sebab, visi butuh perwujudan. Dan perwujudan perlu keikutsertaan. Dia membangkitkan rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa tanggung jawab (sense of reponsibility).

Ketika itu, kami menolak visi yang hanya dipikirkan oleh satu atau segelintir orang semata. Kemudian menetapkan begitu saja. Ini bertentangan dengan kaidah membuat visi yang benar. Ada dua pendekatan temporer berkait. Satu, konsultasi publik. Dua, uji publik. Namun, yang semestinya, keduanya berproses dalam pendekatan kolaborasi.

Kemarin, saya diminta bicara di forum stakeholder kaum difabel. Saya mendapat pelajaran luar biasa dari mereka di hari ulang tahun internasionalnya. Mereka menyebut di satu slide paparannya : “nothing for us without us”. Saya merenung, kaum difabel saja berfikir demikian kritis. Apalagi kita yang normal.

Demikianlah keagungan paradigma yang dijaga kemurniannya oleh lembaga mondial itu. Dahulu, hingga kini.

Mengapa disebut mondial..? Karena, kegiatan kami itu diprakarsai UNDP dan diujicobakan sebagai “pilot program” di sepuluh kota Indonesia termasuk Palu. Inilah pilot program yang menjadi cikal bakal lahirnya UU no 25 tentang sistem perencanaan pembangunan nasional. Di dalam UU ini, pembuatan Visi Misi menjadi mutlak melalui RPJP dan RPJMD serta turunannya.

Karena itu, setiap kali orang bikin perencanaan pembangunan, lalu pikirannya disibukan dengan urusan visi. Acap kali, kita bikin visi asal tulis. Tidak mengapa kalau berdasar keinginan kuat. Ini yang sebut “disirable future” (masa depan yang diinginkan). Sebuah cita cita masa depan yang harus diwujudkan.

Di sini kita tak perlu hitung kekuatan dan kelemahan atau tantangan serta peluang. Sesuatu yang selama ini disebut SWOT. Dia hanya butuh tekad. Kalangan pesimis akan menolak dengan tuduhan “tidak realistis”. Padahal tekad itu, adalah spirit yang kendalikan oleh pikiran dan komitmen yang sangat kuat (strong comitment). Tanpa ini, Indonesia tidak mungkin merdeka. Karena, membayangkan Indonesia merdeka itu, tidak realistis. Mana mungkin bambu runcing bisa kalahkan senjata mekanis. Intinya, gunakan semua sumberdaya untuk tekad tersebut. Jadi, tekad yang diletakan lebih dahulu. Begitulah kira- kira analoginya.

Cara yang lain adalah melihat lebih dahulu potensi dan problema, baharu tentukan visi. Namun, manapun jalan yang dipilih, sebuah visi yang baik harus memiliki sekurangnya standar minimal. Standar minimal itu bernama SMART (specific, mesurable, achievable, rational and time bound). Unik atau khas, bisa diukur, dapat dicapai, masuk akal dan berbatas waktu tertentu.

Untuk itu, maka visi yang umumnya dikonstruksikan dengan kalimat pendek, harus terjelaskan dengan baik. Apa yang dikenal dengan “State of vision” harus, setidaknya bisa memberikan gambaran tentang kondisi sebelumnya (situation in the past), kondisi rona saat ini (present situation) dan masa depan yang didambakan (future search).

Di pernyataan visi inilah orang mengerti, mengapa visi ini berkonstruksi demikian. Mengapa deretan kata ini yang dipilih menjadi visi. Tentu, bukan sekedar menjelaskan kata perkata dalam makna leksikalnya. Tapi, mengurai lebih jauh tentang sebab musabab kata-kata dalam satuan kalimat bermakna itu, dipilih.

Setelah semua tentang visi ini tuntas, baharu kita beranjak ke Misi. Berbeda dengan visi yang dibangun dengan kata benda, misi didesain dengan kata kerja. Itu, karena kata kerja yang bangun ini akan menjadi upaya pencapaian visi. Dengan kata lain, bila perintah misi ini tercapai maka otomatis, visi terwujud.

Sesudah itu akan ada banyak variasi menyertainya. Ada yang membuat strategi, kebijakan, tujuan (out put, out come, impact), indikator, demensi waktu, biaya, sumber biaya, monitoring dan evaluasi hingga aktor. Akan tetapi, hal terpenting adalah melihat relevansi dan konsistensi rumusan capaian dan upaya aksi untuk mencapainya. Tanpa itu, visi kita hanyalah mimpi alias hayalan belaka.

Visi yang tidak jelas, lantas kita melangkah. Sama dengan berjalan tanpa tujuan yang benar. Sedangkan, misi yang keliru, sama dengan, memilih arah atau jalan yang salah. Atau kita bakal menggunakan semua jalan. Tapi nanti kita tiba di tempat yang kita sendiri tidak tahu, dimana ? Inilah yang dikuatirkan oleh Bruce Michelle. Karib dari Waterloo University, konsultan NASA yang pernah bekerja sama dengan PPLH UNTAD pada era 90 an. Dalam bukunya “Environmental Management”, dia menulis : “if you don’t know where you want to go, any road will take you there”. Tersesat, Sayang. (Bersambung)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital