PALU EKSPRES, PALU- Islam adalah agama pencegahan, telah banyak disebutkan bahwa Islam mewajibkan umat Muslim untuk beramar ma’ruf nahiy munkar. Yakni, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemunkaran.
Menurut Prof. Dr. H. M. Asy’ari, M.Ag, pembinaan pola baku sikap dan prilaku sehat baik fisik, mental maupun social, pada dasarnya merupakan bagian dari pembinaan Islam itu sendiri. Dalam hal ini keimanan yang kuat dan ketakwaan menjadi keniscayaan Islam yang memang telah memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktekkan gaya hidup sehat, pola makan sehat dan berimbang serta perilaku dan etika makan. Allah SWT berfirman: “Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian” (QS An-Nahl (16:11).
Lantas bagaimana dengan kondisi di tengah wabah COVID 19 saat ini dengan pembinaan pola baku sikap Islam khususnya pada bulan Ramadhan ini.
Ketum Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Sulteng ini menyarankan untuk memperkuat dan mempertebal keimanan kepada Allah SWT. Iman yang kuat akan menuntun umat Islam pada sikap hidup yang optimis dan yakin akan pertolongan Allah SWT. Seorang Muslim yang istiqomah dalam iman kepada Allah, maka akan ditiadakan rasa takut dalam dirinya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Fushilat ayat 30. “Sesungguhnya orang –orang yang berkata bahwa Tuhan Kami adalah Allah dan mereka istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka dan berkata; Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu”.
Pandemi COVID 19 ini lanjut Asy’ari yang juga sebagai Ketua LP2M IAIN Palu meniscayakan kebersamaan dan solidaritas segenap pihak untuk mengatasinya. Pemerintah menjalankan perannya sebagai pengambil kebijakan, masyarakat mematuhi dan menjalankannya dengan baik adalah peran kewargaan yang sangat dibutuhkan.
Kebersamaan juga dapat diwujudkan dengan saling membantu mereka yang terdampak, bukan dengan memberi stigma yang justeru lebih menyakitkan. Belum lagi kebersamaan dapat diwujudkan dengan memberi perhatian dan perlindungan secara mental kepada keluarga yang ada anggotanya berstatus PDP ataupun ODP.
“Betapa banyak yang anggota keluarga terkucilkan secara sosial karena ada anggota keluarganya yang PDP maupun ODP. Salah satu contohnya yang terjadi di Palu baru baru ini, salah seorang warga yang meninggal lantas disebut sebagai PDP sehingga dimakamkan melalui protap COVID, belakangan terkonfirmasi kalau almarhumah negatif,” kata Asy’ari yang juga sebagai Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Sulteng ini.
Bahkan menurutnya bahwa orang yang sembuh totalpun terkadang mengalami isolasi secara sosial karena ketidakpahaman akan COVID-19.
Mengucilkan mereka tambahnya adalah tindakan tidak berprikemanusiaan. Mereka yang punya gejala semisal flu, batuk, bersin, dapat mengsiolasi diri di rumah dan menjaga jarak fisik dengan anggota keluarga dan ataupun orang terdekatnya. “Kebersamaan dalam menangani COVID-19 ini semoga menjadi perekat solidaritas berbangsa dan bernegara,” ujarnya.(**/fit/palu ekspres)
Cara Islam Mencegah COVID-19






