Sabtu, 8 Agustus 2026

Inflasi Kota Palu 0,17 Persen, Luwuk Urutan 4 Nasional Tertinggi

Indeks harga konsumen kota palu. Foto: BPS Sulteng

Komoditas yang Memiliki Andil Terhadap Inflasi
-Beras 0,15 persen
-Cabai rawit 0,06 persen

  • Emas perhiasan 0,06 persen
    -Bawang merah 0,04 persen
    -Gula pasir 0,04 persen
    -Telur ayam ras 0,03 persen
    -Air kemasan 0,02 persen
    -Ikan cakalang 0,02 persen
    -Bawang putih 0,02 persen
    -Daging ayam ras 0,01 persen
    Sumber BPS Sulteng

PALU EKSPRES, PALU- Inflasi gabungan dua kota di Provinsi Sulawesi Tengah, Kota Palu dan Luwuk, pada periode April 2020 adalah sebesar 0,24 persen. Sedangkan inflasi tahun kalender dari Desember 2019 hingga April 2020 sebesar 0,11 persen, dan inflasi tahun ke tahun dari April 2019 hingga April 2020 sebesar 2,32 persen.
Dari dua kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Provinsi Sulawesi Tengah, Kota Palu tercatat mengalami inflasi 0,17 persen dengan inflasi tahun kalender sebesar 0,10 persen dan inflasi tahun ke tahun sebesar 1,71 persen. Sementara Kota Luwuk pada bulan ini mengalami inflasi 0,54 persen dengan inflasi tahun kalender sebesar 0,19 persen dan inflasi tahun ke tahun sebesar 4,96 persen.
“Inflasi tahun kalender gabungan dua kota di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 0,11 persen,” kata Kepala BPS Sulteng Dumangar Hutauruk melalui press rilis yang diterima redaksi, Senin (4/5/2020).
Menurut Dumangar, kenaikan indeks tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,33 persen. Sedangkan penurunan indeks tertinggi terjadi pada kelompok transportasi sebesar 3,81 persen.
Sementara itu inflasi tahun ke tahun gabungan dua kota di Provinsi Sulawesi Tengah mencapai 2,32 persen dengan kenaikan indeks tertinggi terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 6,94 persen, sementara kelompok transportasi mengalami penurunan indeks tertinggi sebesar 4,03 persen.
Inflasi sebesar 0,24 persen disumbangkan oleh andil kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,37 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,06 persen, pakaian dan alas kaki serta penyediaan makanan dan minuman/restoran masing-masing sebesar 0,01 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga, kesehatan, serta rekreasi, olahraga, dan budaya dengan andil masing-masing di bawah 0,01 persen. Sementara andil negatif disumbangkan oleh kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,13 persen, transportasi sebesar 0,09 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil di bawah 0,01 persen.
Beberapa komoditas yang memiliki andil terhadap inflasi antara lain beras 0,15 persen, cabai rawit 0,06 persen, emas perhiasan 0,06 persen, bawang merah 0,04 persen, gula pasir 0,04 persen, telur ayam ras 0,03 persen, air kemasan 0,02 persen, ikan cakalang 0,02 persen, bawang putih 0,02 persen, dan daging ayam ras 0,01 persen. Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain biaya pulsa ponsel 0,11 persen, angkutan udara 0,09 persen, ikan selar 0,05 persen, ikan lolosi 0,02 persen, ikan katamba 0,02 persen, telepon seluler 0,02 persen, ayam hidup 0,02 persen, jagung manis 0,01 persen, pisang 0,01 persen, dan kentang 0,01 persen. (fit/palu ekspres)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital