PALU EKSPRES, PALU- KH. M.Yahya Sumbul adalah ulama ternama di Masalembu Kabupaten Sumenep Jawa Timur. Pondok Pesantrennya dikenal Assalafiyah NU Kampung Mandar. Generasi/ anak kandung KH. M. Yahya Sumbul yang cukup terkenal di Masalembu, Jawa Timur adalah KH. M. Thahir YS, Ust. Abu Suud YS, Ust. Abdullah YS, Dr. Ali Sibra Malisi YS, Toan Baqir YS.
Murid-murid KH. M. Yahya Sumbul banyak yang berhasil. Salah seorang murid KH. M. Yahya Sumbul yang berhasil adalah Prof. Dr. H. M. Asy’ari, M. Ag bin Asmar lahir di Masalembu Sumenep, 12 April 1965. Prof. Dr. H. M. Asy’ari belajar pertama kali di Madrasah Ibtidaiyah (MI) DDI dan Madrasah Ibtidayah NU (MINU). Prof. Asy’ari kemudian ke MTs DDI Mangkoso, Madrasah Aliyah (MA) DDI Sulsel, kemudian S1 IAIN Palu, S2 IAIN Makassar dan S3 UIN Syahid Jakarta.

Dalam sebuah cerita bahwa Masalembu jadi populer karena karomah KH.M. Yahya Sumbul. Namun di Masalembu itu ada permasalahan yang dianggap belum tuntas hingga saat ini, yakni asal usul orang yang pertama kali memberi nama pada Pulau Masalembu. Penduduk di daerah itu meyakini bahwa yang memberi nama pertama kali pada Pulau Masalembu adalah Kaidato’kaidani. Alasannya, karena dialah yang menemukan pertama kali pulau tersebut. Hanya saja orang-orang yang belakangan datang di pulau itu, baik karena mereka terdampar atau memang bertujuan menetap di Pulau Masalembu tidak mengetahui sama sekali asal usul Kaidato’ Kaidani tersebut. Para pendatang tersebut hanya mengetahui jika Kaidato’Kaidani itu memiliki ternak sapi yang banyak. Sedangkan asal usul Kaidato’kaidani hingga saat ini hanya meraba-raba jika berasal dari Madura atau dari Sulawesi.

Kepulauan Masalembu itu secara adminisitratif masuk wilayah Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur. Di Kepulauan Madura ini memiliki tiga pulau utama yang terpencil yaitu Pulau Masalembu, Pulau Masakambing dan Pulau Keramaian. Posisi Pulau Masalembu dikelilingi perairan (Laut lepas) berjarak sekitar 112 mil laut dari Pelabuhan Kalianget (Sumenep Daratan). Kondisi ini menyebabkan Pulau Masalembu langsung berbatasan dengan perairan bebas yang dikenal ombaknya terbesar se-Indonesia. Pulau ini dikenal strategis antara Jawa, Sulawesi dan Kalimantan.

Namun di balik letaknya yang strategis dan terpencil, kepulauan Masalembu memiliki keunikan tersendiri baik dari sisi sejarah, suku maupun kebudayaannya. Di pulau ini tak hanya dihuni warga etnis Madura dan Jawa. Namun juga terdapat warga dari keturunan dari Sulawesi. Ada dua etnis yang secara turun- temurun dan berasimilasi menjadi warga masyarakat setempat yakni, Bugis dan Mandar. Bahkan, tak jarang juga terlihat warga keturunan Suku Banjar serta Suku Dayak.

Satu hal yang unik di Masalembu, setiap ada even MTQ Kabupaten Sumenep sering juara. Yang menjadi salah seorang peserta MTQ tingkat remaja pada 1982 yang merupakan utusan Masalembu adalah M. Asy’ari. Namun, M. Asy’ari remaja ini belum kejatuhan bintang kemenangan saat mengikuti MTQ tingkat Kabupaten Sumenep.

Asy’ari muda mulai juara hingga jadi Qari’ ke tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) di Jeneponto 1985 saat mondok di Pesantren Mangkoso Barru, Sulsel. Puncaknya, Asy’ari meraih juara tingkat provinsi bukan di Jawa Timur dan Sulsel, tetapi di Sulawesi Tengah pada 1989. Asy’ari muda jadi qari’ nasional duta Sulteng pada 1990 di Palangkaraya Kalimantan Tengah, MTQ Nasional JQH NU di Garut Jawa Barat pada 1999 dan MTQ Nasional JQH NU di Berebes Jawa tengah. MTQ Nasional dan Internasional JQH NU pada 2012 di Pontianak Kalimantan Barat. Saat MTQ 2018 di Karawang, Jawa Barat,M. Asy’ari tidak lagi jadi peserta tapi jadi dewan hakim di even tersebut.

Selain Toan Karaeng KH. M.Yahya Sumbul, yang berhasil mengkader Prof. Asy’ari adalah Hj. Manirat Aluthfiyah yang merupakan ibu kandung Prof. Asy’ari, KH. AG. Abd. Rahman Ambo Dalle, Prof. KH. Syukron Ma’mun, Prof. KH. Faried Wajedi, MA, KH. Abd. Razak, KH. Thahir YS, Drs. KH. Abdullah Kholil, M.Si, KH. Rahem AlUsymuni, KH.Rasyidi Legung dan Dr. KH. Syafraji.

Berkat motivasi dan binaan mereka itu maka Prof. Asy’ari bukan hanya sebagai Qari dan Dewan Hakim Nasional tapi juga sebagai Guru Besar. Berkat dan hikmah yang diraih oleh Prof. Asy’ari bukan hanya mengajar di Indonesia tapi sempat mengajar di Negeri Jiran Malaysia. ***






