Sabtu, 5 September 2026
Opini  

Bencana Alam dalam Dimensi Sebab Akibat

Nur sangadji. Foto: Dok

Oleh Nur SANG ADJI

Tulisan saya yang berjudul “sensitif of disaster” mendapat tanggapan luas sekali. Individu hingga media cetak, radio dan televisi. TVRI, bahkan mengundang saya untuk “live zoom” guna membahas soal ini, kemarin sore, 13/05/2020. Pada tulisan itu, saya mengurai tiga elemen yang bisa bersinergi memproduksi bencana. Gunung, gempa tektonik dan curah hujan.

Salah satu individu yang memberikan tanggapan menarik adalah Ridha Saleh. Mantan anggota Komnas HAM RI asal Sulteng. Dia yang sangat produktif menulis artikel dan buku tentang lingkungan dan hak asasi ini, mengurai hal penting.

Beliau ingatkan begini. “Tiga faktor yang disebutkan itu kan, adalah faktor terpasang (factor attached), tetapi mengapa begitu dahsyat dampaknya saat ini. Tidak seperti 30 tahun atau 50 tahun lalu. Ini juga penting untuk diinformasikan agar pemaham publik tidak terromantisir”.


Ridha benar. Tiga faktor yang dia sebut “faktor attached” itu, sebetulnya adalah “given”. Tapi, “given” itu sifatnya dinamik. Dinamik itu artinya, tunduk pada perubahan. Labil dan stabil secara bergantian. Dia biasanya diperparah oleh kehadiran manusia (human intervention).

Bila hutan kita gundulkan. Iklim mikro dan makro berpengaruh. Temperatur, kelemban dan curah hujan pasti berubah. Kita sering sebut, bencana (natural) yang diakselerasi oleh aksi anthropik. Dan, ini resikonya lebih parah.

Namun, sebuah bukit atau gunung yang tidak disentuh oleh manusia sekalipun. Satu waktu akan longsor. Dimulai dari proses ketidak seimbangan. Proses ini sendiri terjadi sebagai konsekuensi faktor dinamik alam ekologis yang konvergen. Begitu longsor terjadi, bukit atau gunung akan menemukan keseimbangan baru. Demikian, seterusnya hingga akhir. Kita tidak akan bisa membuat alam parmanen. Sebab itu, menyalahi kodrat alamiahnya sendiri.

Bahwa, kualitas alam secara linier selalu menunjukkan keparahan. Itu benar dalam amatan kontemporer. Apriori, sungai Palu, puluhan tahun silam pasti lebih jernih dari sekarang. Orang di Kabonga Donggala, kata almarhum Basir Languha, bisa mengambil ikan katombo di pinggir pantai Teluk Palu. Hanya dengan membentangkan daun kelapa di permukaan laut. Tapi, itu terjadi pada tahun 70 an.


Sekarang, semua berubah. Turbiditas atau kekeruhan sungai Palu saat ini, tinggi sekali. Kita tidak pernah melihatnya jernih kembali. Ikan yang pernah dikisahkan almarhum Basir, pun, tidak pernah ada lagi di sepanjang pesisir Palu menuju Donggala.

Hemat saya, terjadi oleh interaksi dua sistem. Sistem ekologis dan sistem sosial. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, secara deterministik akan bertindak pada tiga hal. Mengambil (taking), merubah (change) dan memodifikasi (modification). Ini yang sebelumnya kita sebut intervensi.

Namun, jangan lupa. Ada juga fenomena linier terbalik. Saya mendapat picuan berfikir ini dari Mulhanan Tombolotutu. Mantan walikota Palu. Beliau pernah menyoal banjir terdahsyat di bumi. Terjadinya kapan..? Semua tahu, di zaman nabi Nuh. Dan, itu bukan hitungan 30 atau 50 tahun silam. Ribuan tahun ke belakang.


Jadi, makin kesini, keparahan banjir tidak lebih dahsyat. Tentu, perbandingan dalam dimensi ruang yang terlalu luas. Tidak mungkin membandingkan kejadian di dua tempat berbeda. Kabupaten Sigi dan negeri Mesapotamia (sekitar Irak, Siria dan Turki). Dimensi ruangnya mesti sama. Akan tatapi, di ruang yang sama pun, bencana separah banjir Nuh itu tidak pernah ada lagi. Setidaknya, dalam selang waktu hingga kini.

Lalu, pertanyaan kritis berikutnya, adalah tentang relasi sistem ekologi dan sosial. Bila, penyebab banjir besar itu, selain curah hujan, adalah hilangnya vegetasi hutan. Maka, apakah sudah ada exploitasi hutan tanpa kendali di zaman nabi Nuh ? Bisa dipastikan, tidak. Lalu, mengapa terjadi banjir demikian dahsyat.? Ini tidak berarti bahwa penebangan hutan secara serampangan dibolehkan. Karena, hutan yang utuh saja terjadi banjir. Apalagi gundul.

Penyebab utamanya karena volume curahan air (precipitation) melampaui kemampuan bumi menyerapnya. Semuanya dipicu oleh penyimpangan perilaku (devien behavior). Penyimpangan ini, bisa merusak sistem sosial, juga sistem ekologis. Terjadi secara sendiri-sendiri atau simultan. Inilah yang kemudian dibalas oleh alam. Kita bisa telusuri sejumlah tulisan terkait. Misalnya, pengadilan oleh air (banjir). Pengadilan oleh api (kebakaran hutan). Pengadilan oleh ombak dan sebagainya.


Semua ini, tidak berdiri sendiri. Ada yang mengaturnya. Bahkan memperingatinya sejak awal. Dia yang mengingatkan. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut, sebab perbuatan manusia. Maka ditimpakan bencana akibat perilaku tersebut”. Dialah si pencipta sekaligus pemilik alam.

Untuk itu, tidak ada pilihan. Kecuali kembali merenung dan mengevaluasi diri. Terdapat formula yang bisa dijadikan patokan untuk bertindak. Resiko bencana menurut formula ini adalah penggabungan antara bahaya (risk) dan kerentanan (fulnerabilty) dibanding kemampuan (capacity). Jadi, iktiar yang harus diambil segera adalah, kurangi bahaya dan kerentanan. Kemudian, tingkatkan kepasitas baik pemerintah maupun masyarakat. Semoga berguna. ***

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam