Sabtu, 8 Agustus 2026
Opini  

La Premiere Voyage

Muhd Nur Sangadji. Foto: Istimewa

(Kota di atas Kolam)

Oleh : Muhd Nur Sangadji (muhdrezas@yahoo.com)

BAGIAN 2

Hujan masih deras saat Alvian, ketua himpunan mahasiswa Taliabu di Palu, bersama rombongan datang menjemput. Ada penginapan kecil sederhana tapi bersih. Di sini saya disinggah-inapkan. Tidak butuh waktu untuk istirahat karena anak SMK sudah menunggu. Saya berkesempatan beri motivasi. Menanamkan spirit untuk terus sekolah.

Hujan masih terus mengguyur makin deras. Halaman sekolah menjadi kolam. Saya bilang kepada guru, mengapa tidak bikin batasan air lalu hambur bibit ikan. Pasti sudah besar, karena genangan telah berlangsung tiga bulan. Pak guru bilang tidak sempat pikir.

Sore hari dialog kebangsaan digelar. Pesertanya sangat antusias. Indikasi kuatnya partisipasi pelaksananya adik adik mahasiswa HMT (Himpunan Mahasiswa Taliabu). Ini organisasi hebat. Ada pengurus besarnya. Ketua umumnya, Mingkat Buya ikut hadir. Dia, mahasiswa Teknik Universitas Bosowa Makassar. Setelah acara itu, saya ajak dia dan kawan- kawannya berkeliling kota.


Observasi saya yang hanya sekilas, menemukan masalah drainase yang serius. Kampung yang mulai berubah jadi kota ini, sedang dikelilingi genangan. Pemicunya adalah terhalangnya beberapa saluran oleh tumpukan pasir. Turun sebagai erosi dari area bekas kerukan dinding tebing di sekitar.

Ternyata kawasan ini adalah daerah rawa. Jadi sesungguhnya, air adalah sahabat sejak lama. Itu info valid dari kepala Bappeda, Pak Syam. Beliau ada di Bobong sejak kecil. Sekda kabupaten, Dr. Agus Salim, mengajak beberapa dinas berdiskusi di ruangnya. Saya sangat senang mendapat banyak cerita menarik dan unik pada pertemuan itu.

Sebalumnya saya menemukan kesan sederhana untuk sebuah kota kabupaten. Seperti, kecamatan yang diletakan kantor Bupati dan DPRD. Ternyata, kota yang terkesan tertinggal ini, sungguh menyimpan potensi luar biasa. Namun, butuh sentuhan afirmatif.

Pantas, sebab ini adalah kabupaten termuda dari sekian kabupaten di Maluku Utara. Maka, pemerintah Provinsi dan Pusat mesti turun tangan serius. Saya menyebutkan kata serius. Karena melihat wajah Taliabu setelah tujuh tahun mekar. Apriori, rasanya sentuhan itu kecil atau tidak nampak. Sementara, daerah ini berkategori terluar, terpencil dan tertinggal.


Kita mulai dari ibu kota, Bobong. Dia adalah icon dan atau penanda utama (land mark). Saya berfikir, kalau kota ini ditata dengan apik. Akan lahir kota mungil yang cantik. Kota di atas kolam dan di antara gunung dan laut. Pak Syam bilang, ada ide bikin embung atau “situ mini” di beberapa titik. Saya sependapat. Kita bakal panen air limpasan. Air genangan liar akan tertampung. Lalu, kita jadikan embung multi fungsi.

Di bahagian selatan kota, ada hutan mangrove alami. Sangat eksotik. Di sebelahnya, ada juga hutan sekunder bercampur sagu. Perlu sekali dilindungi. Tinggal dikapling menjadi hutan kota. Sangat unik, karena ada di tengah kota. Kita tidak perlu menanam lagi. Alam telah merawatnya sejak lama. Satu saat, kalau bangunan menjulang telah berhamburan. Konsekwensi dari kota yang tumbuh. Sedangkan, di tengahnya ada hutan mangrove yang terjaga. Akan menjadi “natural land mark” yang langka dan mengesankan.


Di depan ke arah laut, ada pulau berbentuk kapal. Kearah utara ada daerah berpasir yang bila diinjak akan memunculkan suara seperti anjing menggonggong. Di laut lepas bahagian utara, ada hamparan yang dalam musim tertentu terlihat miring. Yaa, posisi lautnya menjadi miring. Terbentuk oleh peristiwa alam akibat perputaran arus laut. Unik, bahkan mengarah kepada keanehan alam (natural miracle).

Saya terperanjat mendengar cerita ini. Di dunia, orang kenal laut merah dan laut mati. Taliabu memperkenalkan laut miring. Pastilah membangkitkan rasa ingin tahu (curiosity), baik kaum ilmuan maupun pelancong umum. Intinya, koleksikan semua alasan untuk mengundang orang datang. Kemas sedemikian rupa dalam gerakan promosi pariwisata. (BERSAMBUNG)

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital