Sabtu, 5 September 2026
Opini  

Setelah Debat Itu

Tasrif Siara. Foto: Antara

Oleh Tasrif Siara

Debat Publik Pasangan Calon (Paslon) Bupati, Wali kota  juga  calon Gubernur dan wakilnya di Provinsi Sulawesi Tengah telah usai. Namun setelah debat itu berlalu, adakah lesson learn yang bisa dipetik di sana untuk memperbaiki kualitas  debat dan kualitas demokrasi kita ?

Sebagai moderator yang terlibat langsung memandu debat publik pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Morowali Utara selama tiga putaran debat, juga setelah menonton debat publik melalui televisi diberbagai kabupaten  dan provinsi di Sulteng,  merasakan benar, dinamika debat tak semata ditentukan oleh pasangan calon yang terlibat dalam debat, tapi juga lebih ditentukan oleh banyak faktor.

Faktor pertama, materi pertanyaan: Setelah debat itu berlalu, kita rasakan – mungkin hanya saya yang merasakan – adanya pertanyaan yang menjebak pasangan calon, baik pertanyaan yang dirumuskan oleh tim perumus dari perguruan tinggi, maupun pertanyaan yang lahir dari pasangan calon itu sendiri. Orang sering berseloroh, pertanyaan yang cerdas akan melahirkan jawaban yang cerdas, sebaliknya pertanyaan yang membingungkan akan melahirkan jawaban yang membingungkan.

Tim perumus pertanyaan, kadang juga disebut tim pakar, dalam merumuskan pertanyaan mestinya tak lagi menempatkan diri seperti sedang bertanya kepada mahasiswa ketika ujian seminar hasil. Pertanyaan seharusnya mewakili kepentingan publik di suatu kabupaten, kota atau provinsi.  Untuk itu sangat dibutuhkan adanya kepekaan dalam menangkap realitas denyut publik dilapis akar rumput. Dari sana jawaban seorang Paslon bupati atau wali kota dan gubernur akan dinilai publik, apakah memahami realitas masalah itu, dan apakah memiliki keberpihakan untuk proses penyelesaiannya: jika terpilih.

Dalam debat yang telah berlalu itu,  nyaris semua pertanyaan bersumber dari data statistik (BPS). Data BPS penting, tapi kondisi faktual lapangan juga tak kalah pentingnya untuk dieksplorasi. Pelibatan tim pakar pada semua debat publik  diasumsikan mereka memiliki segudang data empirik, dari hasil riset maupun hasil pengabdian di masyarakat. Dari asumsi seperti itu,  akan lahir sejumlah  pertanyaan yang bersumber dari realitas masalah lapangan yang jawabannya dinantikan publik. Dari sana  pula akan dinilai,kandidat bupati,  wali kota dan gubernur mana yang jawaban  mewakili dahaga  aspirasi calon pemilih. Ini juga bagian dari pendidikan demokrasi. Tapi apakah seperti itu realitasnya ? Itu urusan KPU yang menilai.

Apapun kondisinya, tim perumus pertanyaan (Tim Pakar) dan moderator harus duduk bersama merumuskan rundown yang dinamis, juga saling berkontribusi dalam merumuskan pertanyaan sesuai peruntukan dan kewenangan calon Bupati dan Wakil Bupati, Gubernur dan Wakil Gubernur.Dalam debat kemarin, ada pertanyaan yang isinya tak sesuai dengan kewenangan Wakil Bupati, Wakil Wali kota dan Wakil Gubernur, tapi tetap ditanyakan.

Faktor kedua, rundown debat: Jika diperhatikan, rundown debat pasangan calon kepala daerah itu, nyaris sama antara debat pertama, kedua dan ketiga. Implikasnya, debat berlangsung secara monoton dan membosankan. Debat publik itu setara dengan talk show di televisi,  rakyat pemilih perlu disuguhi “pertunjukan” yang menarik agar melahirkan efek “euforia” publik untuk berpartisipasi dalam pemilihan 9 Desember 2020.

Faktor ketiga, durasi debat antar segmen: Dalam Peraturan KPU yang mengatur soal debat, durasi debat ditetapkan 90 menit, rata-rata berlangsung dalam enam segmen. Durasi ini di luar acara pembukaan.  Jika calonnya hanya dua atau tiga, durasi 90 menit itu sudah sangat longgar untuk mengeksplorasi gagasan dan pikiran para Paslon.

Kontrak antara KPU dengan pihak televisi itu umumnya 120 menit, jika mereka diberi rundown debat dengan durasi  per segmen yang pendek, mereka pasti  suka, itu artinya penghematan, tapi merugikan buat Paslon bupati, wali kota dan gubernur karena  terbatasnya ruang dan waktu mengurai gagasan. Dalam debat publik yang telah berlalu itu, ada pertanyaan yang panjang dan sarat data, pasti  membutuhkan penjelasan panjang pula,  namun durasi yang diberi untuk menjawabnya hanya satu menit.

Dari tiga faktor yang diurai itu, maka resume untuk disarankan kepada KPU Provinsi, kota dan Kabupaten adalah, satu;  mestinya tim perumus pertanyaan tak boleh hanya satu pemangku kepentingan, seperti perguruan tinggi, beri juga ruang buat pemangku lainnya, seperti  tokoh publik, pengacara, NGO, jurnalis yang independen. Pelibatan multi pemangku kepentingan itu akan memberi efek dinamika debat  dan dinamika  demokrasi akan  makin berkualitas.  

Resume kedua adalah, untuk mengantisipasi pasangan calon lebih dari empat, disarankan agar segmendebat cukup  lima kali, tak perlu enam kali. Durasi debat tetap 90 menit. Debat publik dengan lima segmen  akan memberi ruang dan waktu cukup kepada setiap pasangan calon untuk mengeksplorasi gagasan dan mimpi-mimpi besar mereka  dalam memajukan daerahnya.

Resume terakhir adalah, moderator debat  mestinya diberi keleluasaan untuk mengeksplorasi pertanyaan. Ini untuk mengantisipasi adanya pasangan calon yang tak habis memanfaatkan waktu dalam menjawab pertanyaan. Jika seperti itu kejadiannya, mestinya moderator bisa memberi pertanyaan susulan namun tak keluar dari konteks utama pertanyaan.Moderator  jangan hanya diberi tugas membaca pertanyaan, kemudian mengatakan kepada paslon, “waktu anda habis”.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam